Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label HOBBY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HOBBY. Tampilkan semua postingan
SITI SORAYA CASSANDRA, KAMPANYEKAN GEMAR BERKEBUN DI PERKOTAAN

SITI SORAYA CASSANDRA, KAMPANYEKAN GEMAR BERKEBUN DI PERKOTAAN

Berkebun di perkotaan rasanya makin digemari, seiring dengan makin gencarnya kampanye hidup sehat. Dengan berkebun, kita tak hanya bisa menikmati hasil alamnya yang segar, tapi juga membantu mengurangi polusi kendaraan di perkotaan serta memberi pemandangan yang indah dan tak mudah bikin stres. Kondisi itulah yang jadi alasan Siti Soraya Cassandra mendirikan Kebun Kumara pada tahun 2016 lalu.

Perempuan yang biasa disapa Sandra ini menjadikan Kebun Kumara sebagai wadah edukasi bagi masyarakat perkotaan yang ingin berlajar berkebun atau bercocok tanam. Dia sempat ingin mencurahkan kemampuannya lewat Kebun Kumara untuk membantu menciptakan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan di perkotaan.


Tidak hanya orang dewasa, Sandra juga ingin mengedukasi anak-anak sekolah untuk mau berkebun dan kenal dengan tanaman. Bukan hanya berkebun, tapi juga mengajak mereka untuk peduli dengan lingkungan, seperti mengenalkan asal muasal makanan yang biasa kita santap, dan ke mana sampahnya akan dibuang.

Kesukaan Sandra dalam berkebun ternyata berawal dari sebuah obrolan. Lulusan jurusan Psikologi Universitas Indonesia pada tahun 2010 ini menceritakan bahwa dia dan keluarganya memang suka membahas isu lingkungan, seperti polusi udara sampai air. Sampai suatu hari hatinya seperti tersentuh dan ingin berkontribusi lebih banyak lagi kepada masyarakat perkotaan dengan membawa isu lingkungan.

Apalagi sebelumnya, Sandra merasa posisinya sebagai pekerja kantoran tak membuatnya berkembang. Perempuan kelahiran Jakarta 31 Juli 1988 ini pada dasarnya memang tidak suka dengan kerja kantoran, hingga akhirnya memutuskan untuk resign dari posisinya sebagai Social Performance Advisor di Shell Upstream Indonesia. Walau awalnya terasa berat, apalagi harus kehilangan pemasukan bulanan dan harus menciptakan penghasilan untuk bisnis yang mau dia dirikan. Namun, berkat dukungan suami dan keluarganya, Sandra bisa melewati masa sulit itu.

Sampai akhirnya ketika pertama kali memutuskan berkebun, Sandra mengaku sudah siap dengan segala resiko yang diterimanya. Selain itu, perempuan yang pernah menjadi None Jakarta Kepulauan Seribu 2010 ini juga siap bila akhirnya harus sering terpapar sinar matahari dan tubuhnya kotor. Karena memang dia sudah suka dengan lingkungan, jadi sudah terbiasa memegang cangkul, berkawan dengan tanah, juga melihat belatung dan ulat.

Syukurnya, kerja keras Sandra mengedukasi masyarakat perkotaan untuk berkebun berujung manis. Pada 2019, aksi yang dilakukannya berhasil diabadikan dalam sebuah film dokumenter berjudul Semes7a. Film yang diproduseri Nicholas Saputra ini menampilkan Sandra sebagai salah satu dari tujuh orang yang dianggap aktif melindungi bumi. Selain itu dia juga terpilih mengkampanyekan #IshapeMyWorld, sebuah kegiatan yang menginspirasi dari perempuan yang berani ambil kendali mengubah dunia jadi lebih baik.


HOBY : BERMAIN OFFROAD DI PEKARANGAN RUMAH.

HOBY : BERMAIN OFFROAD DI PEKARANGAN RUMAH.


Untuk bisa 'mengendarai' mobil offroad tidak harus melulu memiliki mobil offroad dan pergi ke luar kota. Beberapa pehobi offroad di Tangerang melakukannya di pekarangan rumah atau taman kota. Para 'offroader' yang tergabung dalam komunitas RC Adventure Bintaro - BSD (BiBes) ini menggunakan mobil Remote Control (RC) offroad adventure. Mobil ini merupakan jenis mainan mobil yang dikendalikan oleh remote.

RC offroad adventure memiliki bagian layaknya mobil sungguhan pada umumnya, seperti bodi mobil, dinamo penggerak, shock breaker, kopel, gear box, gardan, pengereman engine break, electronic speed, controller (pengatur kecepatan motor). Dan yang paling penting, kendaraan RC offroad ini memiliki penggerak roda 4x4. Bahkan, beberapa mobil RC customized memiliki penggerak 6x6. Sebagai sumber tenaga, mobil-mobil mini ini menggunakan baterai rechargable.


Bermain RC offroad adventure selain menyenangkan juga menyehatkan, karena pemain ikut berjalan-jalan mendampingi RC-nya masing-masing dalam menyelesaikan halangan serta rintangan berat, seperti tanjakan, lumpur, hingga genangan air. Bermain mobil offroad tersebut bisa juga sambil melepaskan stres, dan semakin menguatkan adagium yang mengatakan, boys never grown up, their toys just getting bigger (and expensive).





HOBY : BERBELANJA DAN MENGOLEKSI FUNKO POP

HOBY : BERBELANJA DAN MENGOLEKSI FUNKO POP


Bagi penggemar film animasi tentu sudah tak asing lagi dengan Funko Pop. Saat ini mainan boneka atau lebih dikenal dengan vinyl figures ini menjadi jenama action figure paling terkenal. Popularitas ini tak lepas dari banyaknya karakter yang hadir dan bisa dikoleksi. Demi memenuhi ambisi pecinta Funko Pop, salah satu gerai mainan, Toy Spot di kawasan Grand Indonesia bisa jadi salah satu tempat yang wajib didatangi.

Tempat ini menawarkan berbagai aneka rupa karakter Funko Pop, mulai dari Star Wars, Disney, Harry Potter, Marvel, DC Comics, hingga karakter dari serial-serial televisi. Konsumen yang membeli Funko Pop ini datang dari berbagai kalangan, baik anak-anak dan dewasa. Namun, tak dipungkiri, trennya saat ini cenderung orang dewasa yang hobi mengoleksi mainan yang didirikan oleh Mike Becker tersebut. Bahkan selain mengoleksi mainannya, ada juga yang mengoleksi kardusnya.


Demi mendapat barang yang asli, biasanya pembeli lebih suka mendatangi gerai ketimbang berbelanja di toko daring. Maklum saja, Funko Pop kerap kali dipalsukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Meski demikian, gerai Toy Spot juga memberi kesempatan bagi konsumen yang tidak memiliki waktu luang untuk datang ke gerai, dengan menyediakan layanan daring. Jika mendapati barang yang tidak sesuai atau cacat, pembeli dapat menukarkan Funko Pop di gerai terdekat. Tak ada perbedaan harga yang ditawarkan apabila kita ingin membeli Funko Pop secara luring ataupun daring. Harga yang ditawarkan mulai Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu per item.

Tren Funko Pop sebenarnya sudah tercium sejak 2010 lalu. Namun, karena saat itu kualitas cat dari figurnya kurang rapi, konsumen yang mengoleksi juga tidak sebanyak sekarang. Menurut Ary Anton, pendiri toko daring Funkoholic.id, pembeli Funko Pop umumnya berasal dari kalangan usia 18-30 tahun, terutama pencinta film dan buku. Namun tidak sedikit juga pengoleksi Funko Pop yang berusia 30-50 tahun. Para pembeli berusia 25-30 tahun kebanyakan lebih senang mengoleksi Funko Pop jenis eksklusif karena bersifat limited seperti yang ada di event San Diego Comic Con.


Tak hanya berjualan, Ary juga hobi mengoleksi Funko Pop. Ia mulai menjalankan bisnisnya sejak 2016 lalu, dengan modal Rp 200 juta. Kini koleksinya sudah mencapai 100 karakter Funko Pop. Menurutnya, sekarang karakter Funko Pop kian beragam. Termasuk dari serial televisi, seperti Game of Thrones, The Walking Dead, hingga Sherlock. Karakter yang pertama kali dikoleksinya adalah BB-8 dari Star Wars, lalu ke Disney dan TV Series. Kemudian, ia memutuskan berjualan sejak Mei 2016.

Harga yang ditawarkan Ary sedikit lebih murah, yaitu mulai Rp 200 ribu per item untuk jenis reguler atau yang diproduksi secara massal. Di luar itu, ada pula yang eksklusif atau diproduksi khusus. Untuk koleksi yang terbatas ini, harga yang ditawarkan mulai Rp 300 ribu sampai jutaan rupiah. Ary pun membenarkan, makin populernya Funko Pop, membuat beberapa pihak membuat versi palsunya untuk dijual di pasaran. Untuk membedakan Funko Pop asli dengan palsu, hal termudah adalah dengan mengecek di bagian bawah kotak. Funko Pop orisinal biasanya terdapat kode produksi yang tertempel di sana. Dari bentuk figure-nya juga bisa dicek di bagian bawah kepala atau kaki terdapat kode yang tercetak timbul. Selain itu, konsumen juga harus memperhatikan warna pada Funko Pop sebelum membeli. Funko Pop palsu warnanya tidak merata. Jangan malas juga memeriksa wujud kemasan.


Selanjutnya, soal harga, sebelum membeli sebaiknya kita juga mencari referensi mengenai harga resmi dari Funko Pop yang diincar. Jika menemukan barang yang dijual sangat murah, kemungkinan besar merupakan barang palsu. Terakhir, pilih penjual yang terpercaya. Saat ini ada banyak penjual terpercaya di Indonesia yang telah bekerja sama dengan distributor resmi Funko Pop. Untuk menemukannya, bisa bertanya ke komunitas Funko Pop atau mengunjungi situs resmi produsen Funko Pop, kemudian melihat siapa saja distributor resminya. 



HOBBY : PARA LELAKI YANG MENGGELUTI DUNIA MERAJUT.

HOBBY : PARA LELAKI YANG MENGGELUTI DUNIA MERAJUT.


Suhu dingin di sekitar kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, menuntut Mulyana memiliki pakaian hangat. Ia berpikir syal dan kupluk bisa menjadi alat yang baik untuk melawan suhu dingin di tempat kuliahnya itu. Sebuah toko buku dan pusat kegiatan komunitas bernama Tobucil lantas memberi jawaban. Di sana ia berkenalan dengan aktivitas merajut. Mulyana, mulai belajar merajut sejak 2007. Awalnya, ia merajut hanya untuk kebutuhan sendiri. Akan tetapi, beberapa rekan kuliahnya kemudian tertarik dan memesan hasil karya rajutan buatan Mulyana.

Pada 2010, Mulyana lulus dari program studi Pendidikan Seni Rupa UPI. Ia pun mencoba menggabungkan minat merajut dengan latar belakang pendidikannya. Hasilnya adalah karakter bernama Mogus. Mogus adalah gurita yang hidup di sekitar terumbu karang. Baik Mogus maupun terumbu karang itu seluruhnya terbuat dari hasil rajutan Mulyana. Sebagai bentuk tasyakuran setelah lulus kuliah, Mulyana membuat pameran untuk Mogus, yang ternyata mendapatkan respons positif. Beberapa kurator setelah itu lantas mengundangnya untuk membuat pameran serupa di Jakarta dan Yogyakarta.


Proyek Mogus kemudian menjadi lebih serius dengan merambah manca negara. Mulyana membuat pameran di Australia dan Hongkong. Mulyana mengatakan, Mogus adalah karya yang terinspirasi dari kisah-kisah kehidupannya. Ekosistem laut yang menjadi habitat Mogus, bermakna sebagai pengingat. Bahwa, ada banyak mahluk-mahluk di bawah laut yang jarang dilihat manusia. Bentuk-bentuknya unik, menunjukkan kuasa Sang Pencipta yang luar biasa. Ia mengatakan, karakter gurita identik dengan sifat jahat. Akan tetapi, ia justru menafsirkan sebaliknya. Tentakel-tentakel gurita dimaknai sebagai keharusan untuk banyak menolong dan berbuat baik.

Mulyana menambahkan, Mogus dimulai dari karya kerajinan kecil. Kerajinan-kerajinan itu kemudian digabungkan sehingga menciptakan karya seni yang masif. Dalam sebuah proyek pameran, Mulyana dibantu sekitar 15 orang asisten. Seluruhnya adalah ibu rumah tangga. Pada 2013, Mulyana memutuskan untuk menetap di Yogyakarta karena terpikat dengan iklim seni yang tinggi, dan ia kerap bertemu dengan ibu-ibu rumah tangga dalam rangka mengajar rajut.


Menurut Mulyana, rajut bisa melatihnya untuk lebih berkonsentrasi. Merajut adalah kegiatan yang membutuhkan kesabaran karena harus berulang-ulang merangkai benang menjadi satu kesatuan. Bagi beberapa orang yang kurang bersabar, cenderung akan mudah menyerah. Mulyana sendiri mengaku, ia menyukai kegiatan yang melatih fokus dan kesabaran. Tak perlu waktu lama baginya untuk belajar merajut. Bahkan menurutnya, dalam sehari seseorang pun juga sudah bisa menguasai teknik dasar merajut. Teknik rajut lurus bisa dimanfaatkan untuk membuat karya sederhana seperti syal atau kupluk.

Sebuah syal bisa diselesaikan dalam waktu sepekan. Sementara untuk kupluk bisa diselesaikan dalam waktu dua hari. Namun kalau sudah terbiasa, lama pengerjaan bisa berkurang setengahnya. Meski sudah banyak berpengalaman di bidang rajut, Mulyana mengaku tetap belajar dari buku, internet, maupun melihat karya seniman lain dari pameran. Kini, ia justru ingin meningkatkan tantangan dengan meninggalkan pola-pola terumbu karang yang kerap ia pakai dalam proyek Mogus.

Muhammad Mubarak Aziz Malinggi, berkenalan dengan rajut dari sebuah perpustakaan di kampung halamannya, Makassar, pada 2011. Di perpustakaan itu terdapat komunitas belajar rajut. Ia pun mencoba untuk belajar dan ternyata bisa, lalu menjadi keterusan. Lelaki yang akrab disapa Barack ini mengakui ada kesan kegiatan merajut sebagai aktivitas yang identik dengan orang tua dan perempuan. Akan tetapi, setelah mengenal ragam jenis benang dan kerumitan dalam membuat pola, ia merasa merajut merupakan kegiatan yang cukup menantang.


Bagi Barack, rajut bisa menjadi sarana untuk menyuarakan pendapat. Barack, bersama komunitas Quiqui di Makassar pernah mengadakan kegiatan membungkus pohon dengan rajutan pada 2014. Ketika itu, ia berkampanye terkait pemanfaatan ruang publik. Pada 2015, Barack juga berkesempatan mengikuti Festival Seni Rupa Jakarta Biennale. Ia bersama Quiqui membuat instalasi serupa di Penjaringan, Jakarta Utara. Ketika itu, ia mengusung tema kunang-kunang. Rajutan kemudian dilapisi fosfor untuk menimbulkan efek bercahaya dalam gelap. Dengan mengusung tema kunang-kunang, karya itu berusaha mengingatkan masyarakat terkait kondisi lingkungan Jakarta. Kunang-kunang digambarkan sebagai hewan yang hidupnya di tempat bersih. Maka, dia bisa menjadi indikator kebersihan suatu wilayah.

Merajut juga bisa memberikannya banyak teman. Barack bahkan telah memperluas jaringan pertemanannya ketika bertemu dengan Komunitas Rajut Kejut di Sukabumi, Jawa Barat. Saat itu kebetulan, ia memang sedang ada pekerjaan yang mengharuskannya berada di kota itu. Dan di waktu senggang ia manfaatkan untuk mengajar merajut. Dari situlah justru ia bertemu dengan anggota Rajut Kejut, dan akhirnya ikut beraktivitas juga di komunitas itu. 


Pria yang berprofesi sebagai peneliti di sebuah lembaga konsultan di Jakarta ini mengaku, belakangan ini ia memang sudah tidak banyak merajut, karena minimnya waktu senggang dan kurangnya inspirasi berkarya juga membuatnya cukup sulit untuk merajut kembali. Meski begitu, jika ada undangan merajut atau mengerjakan proyek besar bersama komunitas, ia masih sering membantu.

Barack mengatakan, merajut bisa membuatnya lebih tenang. Karena melatih fokus dan ketenangan itulah, membuat rajut sering dimanfaatkan untuk terapi pada orang lanjut usia. Selain itu, kegiatan merajut juga bisa melatih kemampuan dalam mengatur rencana. Karena merajut memang perlu perencanaan matang, mulai dari pemilihan bahan, jarum, hingga menentukan pola, sebelum mulai merajut. Kalau perencanaannya salah, pola yang diinginkan pun tidak akan tercapai. Menurutnya, merajut memang tampak rumit ketika baru belajar. Akan tetapi, jika sudah terbiasa, merajut bisa menjadi kegiatan yang adiktif. Bahkan Barack mengaku, ia bisa merajut di dalam angkot yang ia gunakan untuk berkuliah.




HOBY : MENGUJI ADRENALIN MELALUI OLAHRAGA DOWNHILL.

HOBY : MENGUJI ADRENALIN MELALUI OLAHRAGA DOWNHILL.


Binta Rohani tak bisa menahan rasa grogi dan ragu ketika berhadapan dengan trek downhill di Pacet, Mojokerto, pada 2013. Pria yang akrab disapa Hanif itu sebenarnya sudah sering bersepeda. Akan tetapi, baru kali itu ia akan menjajal bersepeda downhill. Hanif yang belum tahu lika-liku trek tersebut mengobservasinya terlebih dahulu dengan berjalan kaki. Kegiatan itu dikenal dengan istilah track walk dan lumrah dilakukan bahkan dalam ajang downhill kelas dunia. Karena waktu itu ia masih pemula, kecepatannya pun tidak terlalu tinggi. Di tikungan ia juga masih banyak mengerem. Tapi setelah dua sampai tiga kali meluncur, pria asal Tuban, Jawa Timur ini sudah bisa paham celahnya.

Bersepeda downhill, kata Hanif, tidak perlu banyak menggowes. Sesuai namanya, trek downhill merupakan lintasan menurun dengan variasi tantangan berupa kelok, lompatan, dan juga turunan terjal. Menurut Hanif, bersepeda adalah olahraga yang sangat menyenangkan. Ia pun memanfaatkannya sebagai sarana penyegaran dari rutinitas pekerjaan sebagai seorang wiraswasta. Khusus untuk downhill, terdapat bonus pemandangan indah hutan dan juga adrenalin. Bersepeda downhill, membawa Hanif ikut berkomunitas. Bersama beberapa orang rekannya ia membuat klub downhill Rockmanz Tuban sejak 2014. Klub downhill Rockmanz kini memiliki anggota sebanyak 15 orang. Hanif mengaku, prestasi komunitasnya pun cukup baik dan tercatat sebagai bagian dari 10 besar klub terbaik organisasi Indonesia Downhill (IDH).


Kartika Yuwono, juga memilih bersepeda karena merasa perlu berolahraga teratur. Kartiko yang mulai hobi bersepeda sejak 2010 itu pun semakin mendapatkan banyak waktu luang setelah keluar dari pekerjaan tetapnya. Ia bercerita, waktu itu berat badannya hampir tembus 90 kilogram. Jadi, ia merasa butuh olahraga dan berpikir bersepeda itu sangat menyenangkan. Kartiko mengaku tidak sepenuhnya menekuni olahraga downhill. Sebagai pesepeda gunung, ia pernah bersepeda di beberapa trek downhill seperti Gunung Pancar, Bogor, dan Cikole, Bandung. Meski begitu, ia mengaku kemampuan sepedanya tidak mumpuni untuk melibas trek itu dengan kecepatan penuh. Dibutuhkan sepeda khusus untuk melakukan downhill. Sepeda gunung jenis cross country miliknya bisa melewati trek downhill namun dengan kecepatan rendah. Bila ada lompatan yang jaraknya lebih dari satu meter, biasanya ia mengambil jalur aman (chicken way), karena memang sepedanya tidak kuat.

Agus Teguh Stipan, yang aktif dalam komunitas Kediri Downhill Community, mengatakan, inti tantangan dari bersepeda downhill adalah mampu melewati lintasan secara aman dan cepat. Maka, menurut Stipan, wajar bila seorang pemula merasa takut pada awal belajar downhill karena trek-nya yang cukup ekstrem. Pria asal Kediri, Jawa Timur ini menyarankan pemula untuk lebih dulu melatih otot-otot lengan, pinggang, dan kaki. Hal itu bisa dilakukan dengan bersepeda di trek non aspal. Bila yang jarang bersepeda, tapi langsung mencoba downhill dikhawatirkan akan kaget dan justru kapok.


Sepeda downhill merupakan bagian dari keluarga besar sepeda gunung. Bedanya, sepeda downhill sengaja dirancang untuk bisa mengatasi trek menurun dan rintangan-rintangan ekstrem. Sepeda downhill dilengkapi dengan garpu depan ganda serta suspensi sekitar 200 milimeter. Hal itu berguna untuk menjaga kestabilan sepeda ketika mendarat atau melewati rintangan jalan berbatu. Sepeda downhill dijual di pasaran mulai dari harga belasan juta rupiah. Untuk standar atlet, harga sepeda paling murah mulai sekitar Rp 50 juta. Salah satu faktor penentu harga adalah kualitas suspensi.

Downhill bisa dilakukan oleh remaja minimal usia 15 tahun. Sebagai olahraga ekstrem, jatuh adalah hal lumrah ketika bersepeda downhill. Maka itu, prosedur keamanan strandar wajib digunakan selama bersepeda downhill. Hal itu seperti pelindung badan, helm, kacamata, pelindung siku dan lutut, sarung tangan, serta sepatu khusus untuk bersepeda. Selain itu, seseorang juga perlu memahami batas kemampuan diri. Walaupun ada teman yang sudah bisa melewati rintangan tertentu, kita jangan sampai memaksakan diri kalau memang belum mampu.


Pemula bisa mulai belajar teknik dasar melompat seperti bunny hop. Hal itu bisa dilatih di trek datar dan akan sangat berguna untuk melewati rintangan berupa lompatan. Ketika meluncur, jangan ragu untuk mengurangi kecepatan terutama saat tikungan. Rem adalah hal penting untuk bisa meningkatkan daya kendali pada sepeda. Sebuah trek downhill memiliki panjang lintasan minimal 1,5 kikometer. Untuk kategori amatir, jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2 menit 23 detik. Sementara untuk tingkat atlet, catatan waktu bisa mencapai 1 menit 30 detik. Meski memiliki banyak rintangan, kecepatan sepeda ketika meluncur bisa mencapai 80 kilometer per jam. Karena harus fokus melewati rintangan tersebut, bersepeda downhill ini juga bisa melatih konsentrasi dan reflek.

Komunitas Kediri Downhill Community sengaja dibuka untuk umum dan menampung semua orang yang mencintai sepeda. Di komunitas ini, berkumpul pesepeda downhill dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Tulung Agung, Trenggalek, dan Malang. Usia juga bukan menjadi halangan untuk menikmati olahraga downhill. Bahkan, di Kediri Downhill Community pernah ada pesepeda yang berusia 60 tahun, dan ia tetap bisa meluncur di lintasan yang sama dengan anak muda, walaupun kecepatannya tidak secepat anak muda. Karena masalah usia berkaitan dengan kebugaran. Jadi, yang terpenting adalah aktif berolahraga lain seperti lari.



BELANJA : Berburu Piringan Hitam Yang Kian Langka Dan Alat Pemutarnya.

BELANJA : Berburu Piringan Hitam Yang Kian Langka Dan Alat Pemutarnya.


Menikmati musik, saat ini jauh lebih mudah. Cukup berbekal smartphone dan paket data, streaming musik dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja. Tapi, kalau kita mengingat kembali ke belakang, musik telah melalui evolusi yang begitu panjang, sebelum akhirnya berwujud digital seperti sekarang. Di awal 2000-an ada MP3 Player, kemudian di era 90-an ada kaset, compact disc CD dan radio tape. Namun, bicara sejarah alat pemutar musik, tentu tak bisa lepas dari phonograph record atau istilah populernya, vinyl record dan gramophone record.

Media penyimpan suara analog ini hadir sekitar tahun 1940-an. Sekarang, vinyl atau piringan hitam juga gramofon sebagai perangkat putarnya telah menjadi barang antik yang banyak diburu kolektor. Perekam suara yang satu ini memang menyuguhkan sensasi menikmati musik yang berbeda dibanding dengan media pemutar musik lainnya. Kekhasan dan keunikan suaranya,  mampu membuat pencarinya rela merogoh kocek berapa pun untuk mendapatkan benda klasik ini.

Jika tertarik berburu piringan hitam dan gramofon, bisa mencoba mencarinya di pasar barang antik Triwindu, Solo. Di pasar yang berada di Jalan Diponegoro, Keprabon, Banjarsari ini, ada beberapa toko yang menjual piringan hitam lengkap dengan pemutarnya. Salah satunya, toko barang antik milik Wisnu Kusuma. Di tokonya ini, Wisnu masih menyimpan lebih dari 100 keping piringan hitam. Isinya merupakan lagu-lagu klasik mencanegara, seperti Elvis Presley dan The Beatles, yang memang termasuk langka. Wisnu mengaku, untuk lagu-lagu golden memory dari dalam negeri bahkan sudah sangat susah mencarinya.


Wisni menjual piringan hitam berdiameter 30 sentimeter seharga Rp 100 ribu per keping. Tak hanya itu, dia juga menjual gramofon dengan bentuk trompet menjulang ke atas. Memang ada beberapa bentuk gramofon klasik, di antaranya berbentuk portabel, lemari kecil, kotak dengan trompet yang terletak di samping atau di bagian atas. Untuk alat pemutar musik ini, Wisnu membanderolnya seharga Rp 4 juta. Sebab, dia mengaku, gramofon yang dijualnya telah melalui beberapa perbaikan seperti pada tubuh gramofon dan trompet. Jika gramofonnya klasik orisinil dan tidak ada bagian yang diperbaiki atau diubah, harganya bisa mencapai Rp 15 juta per unit. Saat diputar, suara yang dihasilkan dari sound box akan masih terdengar jelas dengan kekhasannya.

Selain di Pasar Triwindu, berburu piringan hitam juga bisa dilakukan di Gedung Lokananta. Perusahaan rekaman musik pertama di Indonesia yang berdiri pada 1956 ini, hingga kini masih menyimpan sekitar 40 ribu piringan hitam dengan berbagai koleksi musik-musik lokal. Di sini, tiap pengunjung dapat mendengarkan merdu dan orisinalnya lagu-lagu klasik nusantara dari piringan hitam koleksi Lokananta. Pada 1958, Lokananta memang telah memulai menjual piringan hitam produksinya sendiri. Namun, karena sudah tidak memproduksi lagi dan jumlahnya makin sedikit, piringan hitam itu kini disimpan di ruangan khusus. Lokananta masih menjual beberapa koleksi keping piringan hitam kepada pengunjung, tapi harga koleksi yang dijual di sini, paling murah Rp 1 juta.


Sementara itu, di Jakarta untuk berburu piringan hitam sebenarnya tidak sulit. Ada banyak toko musik daring atau pun fisik yang menyediakan lagu-lagu dari artis terkenal dalam bentuk versi piringan hitam. Di kawasan perbelanjaan Blok M Square, contohnya. Terdapat belasan kios yang menjual beragam piringan hitam bekas mulai dari penyanyi luar negeri hingga dalam negeri. Salah satunya toko ATD milik Donal Wilson. Piringan hitam yang dijual oleh Donal umumnya adalah koleksinya pribadi yang ia kumpulkan sejak masih muda dulu. Pria paruh baya ini dulunya sempat memiliki koleksi piringan hitam hampir 1000 lebih. Namun sekarang sudah berkurang karena ia jual sejak 2012.

Toko yang berlokasi di basement blok B ini kebanyakan menjual piringan hitam dari grup band dan penyanyi lawas tahun 60 - 70-an, seperti The Beatles, The Temptation, Koes Bersaudara, hingga D'Bijis. Menurut Donal, pengunjung yang membeli piringan hitam di tokonya tidak hanya dari kalangan bapak-bapak, tetapi juga anak muda, baik laki-laki maupun perempuan. Harga yang ditawarkan di toko ini pun bervariasi tergantung pada kondisi fisiknya. Semakin mulus kondisi piringan hitam, akan semakin mahal. Tapi, apabila banyak goresannya, harganya akan semakin murah. Dalam kondisi mulus, satu piringan hitam bisa dijual mulai Rp 350 ribu hingga Rp 450 ribu.


Murah atau mahalnya harga piringan hitam juga ditentukan oleh cetakan keberapanya. Piringan hitam cetakan pertama biasanya dijual dengan harga lebih tinggi. Harga akan semakin mahal jika piringan hitam cetakan pertama itu milik musisi terkenal yang kualitasnya terbaik. Harganya bisa dijual sampai jutaan. Untuk mengantisipasi harga yang tinggi, piringan hitam biasanya akan dirilis ulang. Piringan hitam milik grup band The Beatles, Led Zappelin, dan Rolling Stone, adalah paling banyak yang dirilis ulang karena permintaan pasar.

Seiring meningkatnya popularitas piringan hitam beberapa tahun belakang, alat pemutarnya pun juga kembali menjadi perburuan pecinta musik. Dulu, untuk mendengarkan rekaman dari piringan hitam ini, orang masih menggunakan gramofon. Namun kini gramofon sudah jarang digunakan. Untuk memutar piringan hitam orang sudah beralih menggunakan alat pemutar yang disebut turntable. Menurut jenisnya, turntable terdiri dari dua tipe yaitu single turntable untuk pemakaian di rumah dengan menggunalan listrik dan portable turntable yang menggunakan baterai serta bisa dibawa-bawa.


Dari segi kualitas suaranya, single turntable memiliki kualitas suara yang jauh lebih baik dari yang portabel. Karena fungsi yang portabel memang hanya sekedar untuk mengetes saja saat akan membeli piringan hitam, untuk berjaga-jaga bila seandainya toko yang menjual piringan hitam itu tidak punya alat pemutar. Bagi pemula yang baru akan menggeluti dunia piringan hitam, ada baiknya melakukan survei terlebih dahulu sebelum menentukan turntable apa yang akan dibeli. Beberapa toko musik yang menjual piringan hitam, seperti Piringan Hitam Recordstoe (PHR), yang juga berlokasi di Blok M Square, biasanya juga menjual alat pemutar piringan hitam sekaligus. Untuk single turntable, PHR menawarkan harga yang beragam tergantung pada mereknya, mulai Rp 2,3 juta hingga Rp 4,6 juta. Merek yang tersedia, yaitu Auido Technica, Crosley Cruiser, Karcher KA 8050. Selain itu untuk portable turntable dengan merek Auna TBA 298, dibanderol Rp 2,5 juta.

Bagi pemula yang ingin mencari turntable dengan tampilan lebih menarik bisa memilih turntable wooden case. Beberapa kios di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, menyediakannya dengan harga miring. Kebanyakan turntable yang dijual di sini adalah barang bekas, tapi kualitas suara yang dihasilkan tidak kalah dengan yang baru. Turntable wooden-case merek Sony produksi Jepang rata-rata dijual dengan harga Rp 2,5 juta. Sementara, untuk turbtable tampilan biasa dijual seharga rata Rp 1,5 juta. Jika masih terasa mahal, pembeli juga diperbolehkan untuk menawarnya.



HOBBY : Menikmati Keindahan Dari Tamanan Hias Tropis Begonia.

HOBBY : Menikmati Keindahan Dari Tamanan Hias Tropis Begonia.


Popularitas begonia mungkin tak pernah sespektakuler tanaman penghias rumah lain seperti anthurium, adenium, dan aglaonema. Namun belakangan ini, media sosial mulai diramaikan dengan netizen yang mengunggah foto tanaman berhabitat hutan tropis ini. Menurut peneliti di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI di Bogor, Wisnu Handoyo Ardi, ada ribuan jenis tanaman begonia yang tersebar di kawasan tropis dan subtropis benua Afrika, Amerika, dan Asia, bahkan hingga Kepulauan Pasifik. Di Indonesia saja sampai saat ini tercatat ada sekitar 200 jenis begonia, dan masih bisa terus bertambah mengingat banyak begonia di Papua dan Kalimantan yang belum dieksplorasi.

Daya tarik tanaman ini terdapat pada pola warna dan bentuk daun yang unik. Daun begonia umumnya asimetris dengan variasi bentuk sesuai jenis. Daun begonia memang beragam mulai dari yang berbentuk oval, bulat, menjari, hingga berbentuk seperti daun palem. Sebagai tanaman hias, begonia terbagi dua kelompok, yang berdaun indah dan yang berbunga indah. Begonia berbunga indah lebih banyak terdapat di luar negeri, khususnya Amerika. Sementara, di Indonesia lebih banyak jenis yang berdaun indah.

Untuk yang berbunga indah biasanya dari kelompok tuberous begonia. Umumnya merupakan hasil persilangan dan banyak berasal dari kawasan Amerika Selatan, Peru, dan Bolivia. Begonia ini berbentuk rimpang, umumnya memiliki kelopak bunga yang bertumpuk. Sementara, begonia berdaun indah biasanya berasal dari varietas rex. Begonia rex memiliki daun dengan warna dan corak yang sangat eksotik dengan permukaan daun kasar serta bertekstur, beberapa di antaranya juga berbulu halus.


Di kalangan pecinta begonia yang awam atau baru mengenal tanaman ini, biasanya begonia jenis-jenis eksotis hasil persilangan atau hybrid menjadi pilihan. Sebab, umumnya kelompok begonia ini memiliki variasi bentuk daun dan warna yang sangat menarik. Akan tetapi, buat yang sudah mulai advance dalam mengoleksi begonia, beberapa sudah mulai mengumpulkan jenis-jenis asli atau spesies dari berbagai wilayah di Indonesia. Meskipun terkadang jenis spesies memiliki sedikit variasi bentuk daun dan warna yang kurang menarik, namun bagi sebagian orang itu adalah sesuatu yang unik. Begonia spesies cenderung memiliki warna monoton seperti hijau. Tapi ada pula beberapa yang memiliki pola warna sangat unik dan langka. Salah satunya Begonia darthvaderiana, jenis ini berciri warna daun kehitaman dengan tepian putih. Begonia tersebut merupakan salah satu yang sangat langka dan diburu kolektor. 

Selain karena bentuk dan warnanya yang unik, perawatan begonia terbilang mudah. Begonia merupakan tanaman yang tumbuh di tempat lembap dan ternaungi dari sinar matahari langsung. Begonia menyukai media tanam porous seperti cacahan daun bambu. Media tanam porous adalah media tanam yang tak menyerap banyak air. Tanaman ini juga cukup mudah untuk diperbanyak. Salah satunya dengan teknik stek irisan daun. Namun, meski umumnya mudah, beberapa jenis begonia memiliki tingkat kesulitan perawatan yang cukup tinggi. Terutama untuk jenis-jenis dari dataran tinggi, akan sangat sulit untuk diadaptasikan ke dataran rendah yang panas.

Kebun Raya Bogor kini memiliki koleksi kurang lebih 100 jenis begonia di mana lebih dari setengahnya merupakan jenis-jenis endemik dan langka. Jenis-jenis ini ditanam sebagai koleksi untuk penelitian di pembibitan Kebun Raya.


Kecintaan pada begonia dirasakan oleh Astri Yanto. Astrid, begitu pria ini biasa disapa mengatakan, sudah jatuh cinta dengan begonia sejak kecil. Namun, ia baru aktif mengoleksi tanaman ini sejak 2014, dengan mulai mengumpulkannya satu demi satu, dan mencari nama dari setiap jenisnya. Kini, ia sudah memiliki 70 hingga 80 jenis begonia. Ia mengaku, sangat tertarik dengan variasi bentuk dan warna beragam jenis begonia. Namun, yang menjadi favoritnya adalah semua jenis begonia dengan daun bernuansa kehitaman.

Astrid membenarkan, merawat begonia bukan perkara sulit meski perlu juga perjuangan. Karena begonia termasuk tanaman shading, jadi alangkan lebih baik ditaruh di tempat yang teduh. Merawat begonia yang tumbuh di dataran rendah yang suhunya panas lebih susah dibanding dengan dataran tinggi. Halaman rumah Astrid kini dipenuhi beragam jenis begonia yang dibelinya. Pria yang juga pengelola grup komunitas Begonia Indonesia Paradise di Facebook ini bahkan, kini juga menjual bibit tanaman begonia. Harga begonia di Indonesia menurutnya terbilang murah, sekitar Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu tergantung jenis dan kelangkaannya. Lain halnya dengan peminat dari luar negeri yang rela mengeluarkan lebih besar dari koceknya untuk mendapatkan tanaman hias ini. Di luar negeri, begonia dihargai sekitar tujuh hingga 200 dolar AS.


Sementara itu, Iwan, lelaki asal Majenang, Cilacap yang juga mengoleksi begonia menceritakan, mengenal begonia pertama kali karena menjadi salah satu dari begitu banyak koleksi tanaman hias milik sang ibunda di rumahnya. Pada 2008, saat mulai bekerja di sebuah sentra tanaman hias yang ada di Bogor, Iwan bertemu kembali dengan tanaman itu. Rasanya seperti CLBK (cinta lama bersemi kembali). Pertemuannya dengan 'goni', sebutan sayangnya pada begonia, lantas membawanya mengumpulkan berbagai jenis tanaman itu. Ia kemudian memajang foto-foto si goni di akun media sosialnya, dan ternyata banyak yang suka. Dari situ, Iwan lalu bertemu teman sehobi yang semakin meningkatkan semangatnya, dan jadi ingin memiliki semua jenis begonia.

Kini, Iwan telah memiliki kurang lebih 30 hingga 40 jenis begonia. Yang paling ia sukai adalah jenis variegata atau mutan, Begonia soli-mutata, yang bentuknya memiliki kelainan dari induknya. Walau 90 persen koleksi begonianya hasil membeli, tapi Iwan juga pernah berburu ke hutan. Saat sedang mudik ke kampung halamannya, ia menyempatkan berburu begonia. Ia pun pernah berhasil menemukan begonia di tebing pinggir sungai di dalam hutan. Sayang, tanaman hasil buruannya itu mati tanpa sempat dicari tahu nama ilmiahnya. Iwan juga pernah melakukan teknik penyilangan begonia jenis rex. Ia mengakui, cara ini memerlukan ketelatenan dan kesabaran. Dari banyak begonia yang disilangkan, yang hasilnya berbeda bisa hanya satu. Itu pun harus menunggu hingga besar untuk terlihat bentuk, daun, dan warnanya.



HOBBY : BERKEBUN SEKALIGUS BETERNAK IKAN MELALUI AKUAPONIK.

HOBBY : BERKEBUN SEKALIGUS BETERNAK IKAN MELALUI AKUAPONIK.


Mubarak Ali Sungkar, atau yang lebih dikenal sebagai Mark Sungkar sudah tujuh tahun berkebun dengan sistem akuaponik. Sebagai arsitek, sebenarnya ia kerap membuat rumah lengkap dengan kolam ikan dan air terjunnya. Menurut pria yang lebih dikenal sebagai artis film ini, hal yang seperti itu sebetulnya sudah termasuk akuaponik, karena sistemnya menggunakan perpaduan antara ternak ikan dan pertanian. Saat memulai menekuni akuaponik, Mark melakukan uji coba sendiri, dengan bantuan belajar dari internet. Di teras rumahnya, ia menggunakan drum dengan kapasitas 1000 liter yang berisikan 10-12 ikan. Tak lama kemudian, ia mencoba menambah hingga 200 ekor di antaranya ikan nila (tilapalia), ikan mas, dan gurame. Mark mencoba untuk tidak memberikan makan ikan selama satu bulan. Hasilnya, ternyata hewan itu tetap hidup dan tidak ada satu pun yang mati. Ikan-ikan itu mendapat tempat yang kaya akan plankton dan oksigen yang baik selama berada dalam drum. Mark lalu juga mencoba mengembangbiakkan hampir semua tanaman mulai dari padi, sayur-sayuran, cabai, tomat, daun-daunan, kemangi, selada, buah-buahan, seperti jeruk, anggur, blackberry, dan kiwi.

Pada saat pertama kali membangun sistem akuaponik, ia tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Sebab, Mark mengambil bahan-bahan yang telah tersedia di rumahnya. Untuk pot tanaman, ia menggunakan yang sudah ada di rumahnya dengan mengganti media tanah dengan batu kerikil, pompa yang dipakai pun bekas dari sirkulasi untuk kolam. Mark menjelaskan, dalam akuaponik ada beberapa pilihan sistem. Di antaranya, growbed dengan menggunakan sistem apung, media growbed bisa menggunakan batu kerikil. Kemudian ada lagi sistem NFT dengan menggunakan pipa paralon atau bambu dan semuanya disusun secara horizontal. Saat ini, Mark mengaku, fokus pada sistem vertikal, yang benar-benar vertikal. Jada, hanya memakan biaya sedikit, namun memberikan hasil yang lebih banyak.


Mark juga sempat mengikuti seminar sepekan tentang akuaponik, di Brisbane, Australia. Di sana, ia bertemu dengan para peserta dari negara-negara lain. Mark mendapatkan banyak teori yang tepat untuk dibawa ke Tanah Air. Dua bulan berselang, Mark pun menulis sebuah buku Akuaponik ala Mark Sungkar bagi para pemula yang ingin belajar. Mark menyarankan para pemula agar memakai akuarium berukuran 60 x 40 x 40 terlebih dahulu, yang kemudian di atasnya menggunakan pot. Ini dianggap sudah lebih dari cukup. Lalu, mereka bisa menggunakan pompa akuarium untuk sirkulasi, bisa juga tanpa alat tersebut. Mark juga mengungkapkan, lebih mudah untuk pemula sebaiknya mencoba bertanam tomat, selada, atau kangkung yang paling gampang. Agar kalau misalkan gagal, tidak sampai putus asa.

Selain Mark Sungkar, ada pula Supriyanto, yang turut menekuni akuaponik. Cara dan jenis teknik sistem akuaponik diakui Supriyanto cukup rumit. Tak pelak banyak pemula yang putus asa dan meninggalkan cara cocok tanam ini karena hanya berkutat pada teknik semata. Lelaki yang memulai akuaponik sekitar 2011 lalu ini lantas mengajak para pemula untuk melihat kembali ke prinsip dasar akuaponik seperti yang sedang dijalaninya. Yakni, memelihara ikan, mengalirkan air kolam kaya nutrisi ke tanaman. Dari tanaman, air kembali lagi ke kolam. Yanto sendiri membuat  sistem akuaponik dengan barang-barang bekas. Dari kolam ikan berbentuk L yang sudah ada di rumahnya, Yanto menghidupi pokcoy, selada air, cabai, dan berbagai tanaman di kebunnya yang berukuran 4 x 5 meter persegi. Namun, ia menambahkannya dengan pupuk organik cair yang dibuat dari limbah dapur.


Yanto mengingatkan, akuaponik itu sebenarnya berakar panjang dalam tradisi pertanian di Asia dan Amerika Latin. Sementara, teknik yang dikenal sebagai akuaponik modern sebenarnya merupakan pengembangan oleh peneliti/praktisi Barat yang dimulai pada 1960-an. Lelaki yang berasal dari keluarga petani di Jawa Tengah ini ingat benar, kakeknya dulu memiliki kolam ikan di halaman rumah dengan dapur. Di kolam itu, kakeknya memelihara ikan tawes atau lele lokal. Neneknya lalu biasa membuang sisa-sisa nasi/makanan ke kolam ikan tersebut. Ikan lalu akan memakan sisa limbah dapur dan rumah tangga yang organik. Seperti makhluk hidup lain, ikan menghasilkan buangan berupa limbah yang kaya nutrisi ke air kolam. Neneknya kemudian memanfaatkan air kolam yang kaya nutrisi itu untuk menyiram tanaman yang ada di kebun pekarangan, seperti kacang panjang, cabai, bayam, kecipir, koro, dan sayuran lain.

Lalu apa yang membedakan akuaponik tradisional dulu dan sekarang ? Yanto menunjuk pada cara mengalirkan air dalam kolam yang kaya nutrisi ke tanaman. Akuaponik modern meminjam teknik yang lazim dalam kultur hidroponik, yakni mengalirkan air secara mekanis, yang biasanya menggunakan pompa, ke tanaman. Hal yang menyenangkan hati Yanto selama berakuaponik adalah pengaliran air ke tanaman yang berlangsung secara otomatis. Jadi, tidak perl lagi menyiram tanaman secara manual dan air kolam pun selalu jernih.


Menggeluti sistem akuaponik juga dilakukan Dede Rahmat Muslim sejak Januari 2016. Perkenalannya dengan akuaponik berawal dari ketidak sengajaan. Lelaki yang hobi bercocok tanam dengan sistem hidroponik ini semula hanya ingin memiliki kolam kecil di teras depan rumahnya. Kemudian ia mencari tahu mengenai filter khusus ikan koi, bakki shower, melalui internet. Dari penelusuran tersebut, informasi yang keluar ada istilah mengenai akuaponik. Dede pun mulai mencari tahu tentang akuaponik. dan menemukan grup Facebook, Belajar Akuaponik Indonesia. Di situ Dede banyak belajar dari setiap postingan teman-teman yang tengah belajar bercocok tanam dengan akuaponik. Dede juga mulai mengikuti seminar bersama dengan Mark Sungkar.

Melalui akuaponik, Dede tidak perlu membutuhkan lahan yang lebih luas dan bisa memanfaatkan hasil dua sekaligus, yakni tanaman dan ikan. Sebelumnya konsep awal kolam ikan berada di depan rumahnya, tetapi Dede memilih untuk membangun lagi di samping teras dengan volume 700-800 liter air. Dari awal hadirnya kolam ikan di rumahnya, Januari sampai November 2016, ia tidak pernah mengurasnya. Sebab, air kolam masih bersih dan tidak berbau. Kolamnya juga lebih hemat air, hanya memang dalam satu pekan ia terkadang menambahkan air, karena Dede juga menggunakan air dari kolam untuk tanaman lainnya.


Alumnus dari Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka ini pun bersyukur tidak harus membeli pupuk, cukup hanya dengan memberikan makan ikan-ikannya. Pada saat pertama kali mencoba, Dede menggunakan 20 ekor ikan nila merah. Bukan dari bibirt unggulan, hanya ikan biasa yang digunakan sebagai umpan arwana. Lama-kelamaan ikannya bertambah menjadi banyak, bahkan hingga kini jumlahnya bisa mencapai 200 lebih, dan sisanya ia pernah mengambil untuk dikonsumsi. Di rumahnya, Dede menanam terong, seledri, dan stroberi. Kemudian ia pun menuai hasil yang baik dalam tiga bulan. Kebetulan, ia dan istrinya sama-sama menyukai buah stroberi yang biasanya tumbuh di pegunungan. Namun, sekarang ia bisa membuktikan bahwa buah itu juga bisa tumbuh di rumahnya di Bekasi. Tanaman stroberi juga biasanya butuh waktu sekitar dua tahunan untuk berbuah, tapi di rumahnya dalam dua sampai tiga bulan sudah bisa berbuah.





RAGAM : BERBURU BUAH SI RAJA BUAH , DURIAN.

RAGAM : BERBURU BUAH SI RAJA BUAH , DURIAN.


Desas-desus tentang keberadaan 'durian hantu' membuat Karim Aristides penasaran. Informasi itu ia dapatkan dari seorang tukang sapu asal Sorong, Papua Barat, pada sekitar tahun 2010. Karim mendapatkan informasi tersebut tidak utuh sehingga memunculkan keraguan. Arsitek lulusan Jerman ini hanya tahu, ada durian berdarah di Manokwari yang tidak satu pun orang berani memakannya. Karim kemudian mencoba menghubungi beberapa koleganya. Ia pun mendapatkan informasi tambahan, 'durian hantu' itu berada di Kampung Ransiki atau masih sekitar tiga jam perjalanan dari Manokwari.

Tak menunggu lama, Karim bergegas menuju Manokwari dari Jayapura. Seakan sudah berjodoh, baru setengah perjalanan dari Manokwari menuju Ransiki, Karim langsung bertemu dengan durian tersebut. Ia mendapatkannya dari warga setempat yang mengaku sulit menjual buah itu. Ketika dibuka, daging durian dengan kombinasi warna merah, kuning, jingga, dan sedikit keunguan langsung menyambutnya. Tak hanya penampilan, daging 'durian hantu' itu ternyata tebal dan manis. Jatuh terpesona, Karim langsung memberinya nama Durian Pelangi dan mengunggah foto durian itu ke jaringan pertemanan media sosial. Ahli-ahli durian pun langsung dibuat geger seketika.

Karim menjelaskan, durian pelangi memiliki daya tahan tinggi yakni kuat empat hingga lima hari setelah matang. Hal ini tentu sangat baik untuk pedagang durian. Karim membandingkan dengan durian Malaysia dan Thailand yang biasanya dipetik dalam kematangan 85 persen. Oleh karena itu, rasa durian tersebut kurang nikmat karena belum benar-benar matang. Kecintaan Karim pada durian sudah tertanam sejak kecil. Pria yang tumbuh besar di Palembang, Sumatera Selatan ini sering berpesta durian bersama keluarga ketika sedang musim panen. Bahkan, ia pernah berkunjung ke Singapura pada 1976 untuk mencicipi durian-durian yang dihargai jauh lebih mahal dibandingkan di Indonesia. Saat itulah Karim berpikir, sebenarnya di Indonesia ada banyak sekali durian, tapi mengapa tidak bisa dijual mahal.


Keinginan Karim untuk mencari durian-durian Indonesia berkelas dunia membuatnya intens berkelana mulai 2003. Ia menjelajah beberapa daerah di Sumatera dan Sulawesi namun belum mendapatkan kualitas durian spesial. Baru, ketika ia menemukan durian pelangi, ia semakin yakin durian Indonesia berpotensi besar untuk berjaya di dunia.

Sementara itu, pakar buah tropis Mohammad Reza Tirtawinata mengatakan, durian pelangi pernah dipamerkan dalam Simposium Dunia Durian 2015 di Thailand. Durian itu sempat mencengangkan dunia internasional. Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengaku, perlu terus ada penelusuran jenis-jenis durian berkualitas yang bisa dijadikan alat bersaing terutama dengan Thailand dan Malaysia.

Ketika masih bekerja di Taman Buah Mekarsari, Reza pernah menyodorkan 30 jenis buah ke pengunjung untuk dinilai. Kala itu, ia ingin mengetahui buah yang menjadi favorit para pengunjung. Hasilnya, lebih dari 80 persen pengunjung memilih durian. Menurut Reza, durian adalah buah paling mahal dan sangat digemari masyarakat Indonesia. Itulah yang menjadi alasannya serius berkecimpung di dunia durian. Reza melihat, minat tinggi untuk menikmati si Raja Buah ini belum bisa terakomodasi karena stok durian lokal belum memenuhi kebutuhan nasional. Alhasil, Indonesia pun harus mengimpor durian monthong dari Thailand dan musangking dari Malaysia. Padahal, durian Indonesia banyak yang lebih bagus. Jadi, Reza berkeinginan memperkenalkan dan mengangkat jenis-jenis durian dari setiap daerah.


Reza mengakui untuk mengeksplorasi durian di setiap daerah satu per satu akan memakan biaya besar. Alternatinya, kontes durian bisa disemarakkan. Peserta kontes akan mengumpulkan durian terbaik dari masing-masing daerah dan akhirnya bisa ditemukan bibit unggul. Meski begitu, untuk menggelar kontes yang terpusat di Jakarta ada kendala proses pengiriman. Durian yang akan berkompetisi pun sudah tidak dalam kondisi prima. Akhirnya, jalan keluar diambil, kontes tetap digelar namun dilakukan di sekitar sentra-sentra durian di Indonesia.

Reza sendiri sudah berpertualang mencari durian ke seluruh Indonesia. Durian unggul kerap ia temukan di hutan. Durian tersebut merupakan hasil persilangan alami dari berbagai jenis durian yang tumbuh di Indonesia. Menurut Reza, terdapat beberapa kriteria durian unggul. Hal itu mulai dari rasa, bentuk daging, kulit, aroma, dan daya simpan. Semakin tinggi masing-masing komponen, maka akan semakin baik kualitas durian tersebut.

Reza menyebut pencarian durian unggul tidak akan ada habisnya. Saat ini, terdapat Komunitas Maniak Durian dengan anggota mencapai 14 ribu orang di seluruh Indonesia. Komunitas itu kemudian menjadi wadah bertukar informasi sesama penggila durian dan juga menggelar kontes. Pada Desember 2016 lalu misalnya, terdapat panen durian di Sanggau, Kalimantan Barat. Reza dan rekan-rekan pun membuat kontes dadakan yang menghasilkan pemenang durian ilok dengan kualitas istimewa. Reza menjelaskan, durian asal salah satu desa di Sanggau itu rata-rata beratnya tidak lebih dari satu kilogram. Ia mengibaratkan durian itu memang didesain untuk porsi satu orang. Selain itu, durian tersebut memiliki daging kuning, berbiji kempes, dan rasanya manis serta gurih. Akhirnya juri pun bersepakat durian dari Balai Karangan itu menjadi juara. Setelah pemenang di dapatkan, bukan berarti tidak ada lagi petualangan mencari durian. Justru, durian juara harus diverifikasi dengan melihat wujud pohon aslinya. Tim juri pun harus masuk ke dalam hutan sekitar satu setengah jam berjalan kaki untuk melihat pohonnya.


Pecinta durian yang juga peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok, Panca Jarot Santoso mengatakan, hampir setiap tempat memiliki durian yang khas. Itu karena variasi durian di Indonesia sangat beragam. Ia menjelaskan, durian di Indonesia banyak ditanam dari biji. Oleh karena itu bisa disebut dari setiap biji itu bisa muncul varian yang berbeda pula. Jarot mengatakan, luas kebun durian di Indonesia tercatat seluas 70 ribu hektare. Dari sana, terdapat sekitar lima juta pohon durian liar. Itu sebabnya, kita sering menemukan sensasi berbeda-beda dari buah durian. Ada yang manis, gurih, dan creamy.

Untuk mendapatkan durian dengan kualitas terbaik, konsumen bisa mencari tahu masa musim panen durian di suatu daerah. Jarot mencontohkan, jika berdomisili di Jakarta bisa membeli durian di saat yang paling dekat dengan masa panen di daerah aslinya. Mengetahui masa panen juga berguna jika ingin mengunjungi sentra produksi durian tersebut. Tentunya akan lebih bagus hasilnya jika bisa berburu langsung ke petaninya.




HOBBY : MELUNCUR DI ATAS PAPAN RODA PINTAR.

HOBBY : MELUNCUR DI ATAS PAPAN RODA PINTAR.


Ada yang menyebut mainan, ada juga yang melihatnya sebagai 'alat transportasi'. Sejenis papan luncur ini sejak tahun 2015 mulai sering terlihat di taman kota, jalan raya, juga di dalam gedung. Bukan hanya orang dewasa yang menggunakannya, anak-anak pun sekarang mulai mencoba ikut merasakan berdiri di atas papan luncur ini. Cukup berdiri di atasnya, kemudian posisikan tubuh dengan kedua kaki berada di atas papan. Kemudian, jaga keseimbangan sebelum meluncur di jalan. Kira-kira begitulah cara memainkan perangkat yang satu ini. Hoverboard, atau di Indonesia sendiri memiliki nama lain, yakni Runwheel, sudah sejak 2014 mulai masuk ke Tanah Air. Kedua nama itu sejatinya adalah merek dagang. Ada berbagai sebutan yang mengacu pada benda yang sama. Self balance scooter, smart balance board, atau smart balance wheel (SBW) alias si papan atau si roda pintar.

Erii Suryanata telah merasakan jatuh bangun belajar menggunakan SBW. Tiga hari ia belajar menguasai perangat beroda itu, karena belum mengetahui tekniknya. Kini, setelah mengetahui teknik yang benar, Erii pun mengedukasi para pemula. Dengan tagline 'Keep Balance and Stay Focus' ia berbagi trik bagaimana bisa mahir menggunakan perangkat itu dalam waktu singkat. Untuk pemula, ia menargetkan bisa menguasai SBW dalam waktu lima sampai 15 menit.

Kunci bermain perangkat ini, menurut Erii, terletak pada diri pemula. Yakni, mengesampingkan rasa takut jatuh ketika akan mencoba berdiri di atas SBW. Ketika sudah berada di atasnya, posisi kaki pun harus menempel pada dinding SBW agar keseimbangan tetap terjaga. Bila perangkat sudah meluncur di jalan, pengguna harus tetap fokus serta menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Sesuai tagline 'Keep Balance and Stay Focus', itu benar-benar harus diterapkan jika tidak ingin terluka saat menggunakan perangkat ini.


Erii mengakui, menguasai perangkat ini tidaklah mudah. Banyak pemula yang mengalami jatuh bangun dan babak belur saat menjajal perangkat ini pertama kali. Bahkan, ada pengguna yang mengalami patah tulang saat tidak bisa menguasai keseimbangan. Menjaga keseimbangan menjadi titik kunci menguasai perangkat ini. Bila tidak memahami teknik, tak ayal kecelakaan pun tak bisa dimungkiri. Edukasi yang salah, cara naik dan turun yang tidak benar, pasti akan terjatuh. Hal ini menjadi alasan Erii membentuk Komunitas Runwheel. Tujuannya untuk memberikan edukasi tentang tata cara bermain SBW yang benar sehingga meminimalkan kecelakaan. 

Meski perangkat ini dianggap berbahaya oleh sebagian besar orang, Erii justru merasa terbantu dengan hadirnya inovasi ini. Ia pernah mengalami kejadian unik bersama Runwheel menembus macet Ibu Kota. Saat itu kondisi macet dari arah Gatot Subroto menuju Semanggi. Karena sedang terburu-buru, ia kemudian terpaksa turun dari taksi dan menggunakan Runwheel berjalan zig-zag di antara barisan mobil-mobil yang terjebak macet. Saat itu banyak orang yang bertepuk tangan kepadanya.

Pengalaman lainnya juga dirasakan oleh anggota Komunitas Runwheel, Indri Nuansa Fitri. Perangkat ini membantu pekerjaannya berpindah satu tempat ke tempat lain. Fitri biasa menggunakan Runwheel ini di kantor, di tempat perbelanjaan, dan keperluan untuk mengambil kebutuhan untuk keperluan customer di toko. Menurut perempuan yang menggunakan jenis Runwheel QX Transformer seharga Rp 6 juta itu, SBW juga dapat melatih konsentrasi dan keseimbangan. Meski sempat jatuh saat awal belajar, ia kini sudah mahir dan sering kali membantu memberikan edukasi kepada masyarakat di komunitasnya.


Lain lagi Jikri Firdaus. Ia tertarik pada perangkat ini lantaran lebih efektif dibawa kemana pun tanpa mengakibatkan polusi. Untuk menguasainya pun, Jikri hanya butuh latihan satu harian penuh. Tetapi, jika ingin dipadukan dengan dance atau freestyle, dia mengaku perlu latihan lebih lama. Di Komunitas Runwheel setiap pertemuan selalu diperlihatkan gaya baru atau freestyle dan biasanya latihannya tidak cukup satu hari, tapi perlu berhari-hari untuk menguasainya. Melawan rasa takut adalah syarat utama saat mencoba perangkat ini. Ketika sudah berdiri di atas papan, sensor otomatis akan bekerja dan yang perlu dilakukan adalah konsentrasi serta menyeimbangkan diri.

Pada Mei 2015, Erii Suryanata selaku ketua Komunitas Runwheel, untuk pertama kalinya diundang salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta untuk mengedukasi cara bermain Runwheel. Sejak tampil di acara tersebut, mulailah tercipta sebuah perkumpulan yang akhirnya membuat sebuah komunitas. Saat ini yang terdaftar sebagai anggota komunitas ini sudah hampir 100 orang, namun yang aktif hanya sekitar 30-an orang, itupun jumlah yang sering kumpul juga berkurang karena kesibukan masing-masing.

Runwheel sendiri berasal dari nama 'kiran', diambil dari kata 'ran' yang diubah menjadi 'run'dan 'wheel' yang berarti roda. Kiran adalah nama anak perempuan Yoppie Sasda, CEO Runwheel Indonesia. Pria asal Padang, Sumatera Barat ini, adalah yang pertama kali membawa masuk SBW ke dalam negeri. Meski bodi Runwheel dibuat dan didistribusikan di Indonesia, ada beberapa komponen yang masih diimpor dari Taiwan, seperti suku cadang dan baterai. Erii menjelaskan, perangkat ini menggunakan baterai lithiumion original Samsung yang mampu bertahan hingga empat jam.


Pemilihan baterai yang buruk menjadi salah satu penyebab perangkat ini dapat meledak seperti kejadian yang sempat ramai diberitakan. Karena itu, banyak maskapai penerbangan yang enggan menerima perangkat tersebut masuk dan dibawa terbang. Baterai tiruan juga hanya mampu bertahan selama dua jam. Meskipun beberapa maskapai di Indonesia sendiri juga enggan membawa perangkat tersebut, Erii menjelaskan bahwa pengguna masih bisa membawa perangkat ini dengan melepas baterainya terlebih dulu. Bodi SBW bisa diletakkan di kabin pesawat, sementara aksesori dan baterai harus masuk ke dalam bagasi bersamaan dengan koper. Hal itu mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, meski kejadian ledakan belum pernah terjadi di Indonesia.

Erii menjabarkan, perawatan perangkat ini terbilang cukup mudah. Anda hanya perlu mengisi daya baterai sesuai dengan prosedur, yakni dua jam tak boleh lebih. Untuk menjaga bodi, Erii menyarankan untuk menggunakan semir yang biasa digunakan untuk memoles bodi motor. Begitu pun untuk menjaga ban, cukup diberi semir hingga kembali kinclong seperti awal. Perawatan yang mudah, dan asal pemakaian baterainya benar, Runwheel bisa awet hingga bertahun-tahun. Harga perangkat ini berkisar dari yang paling murah Rp 5 juta hingga Rp35 juta sebagai produk yang paling mahal. Berbagai hal tentang SBW bisa ditanyakan pada komunitas yang biasa main di pelataran Gelora Bung Karno, Senayan. Mereka juga bisa dijumpai di kawasan Sarinah - Thamrin saat car free day pukul 8 pagi.







HOBBY : FLYBOARDING, Serunya Terbang Bak Iron Man.

HOBBY : FLYBOARDING, Serunya Terbang Bak Iron Man.


Ingatkah anda dengan tokoh superhero Iron Man yang mampu terbang ke udara dengan kostumnya ? Dalam film itu Tony Stark membuat sebuah pakaian khusus yang memiliki daya dorong ke udara dengan api. Dalam dunia nyata, seorang penggiat olahraga air asal Prancis, Franky Zapata, pada 2011 membuat sebuah alat yang mampu menerbangkan penggunanya seperti Iron Man. Tetapi, alat tersebut bukan menggunakan daya dorong api, melainkan air untuk membuat si pemakai terbang melayang setinggi sekitar 20 kaki di atas air. Tak hanya itu, alat itu juga mampu membuat penggunanya "berselancar" bebas di udara. Menyelam, lalu kembali terbang ke udara.

Alat itu kini dikenal dengan flyboard. Butuh tiga kali penyempurnaan hingga Zapata dan timnya berhasil menemukan formulasi flyboard yang kini banyak digunakan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Bayu Febri Utomo merupakan salah satu penggemar flyboarding di Indonesia. Ia mengenal flyboard pada sekitar 2014. Bayu, yang kini menjadi supervisor flyboard di Flyboard Bali yang berlokasi di Tanjung Benoa, Nusa Dua, ini mengaku belajar secara autodidak. Alatnya dibeli langsung di Prancis.


Saat pertama mencoba flyboard, pria yang akrab dipanggil Bayu Jarwo ini mengaku tak bisa berkata-kata. Pengalaman itu sangat menegangkan baginya, apalagi saat ia berhasil terbang mencapai ketinggian hingga 15 meter di atas air. Menurut Bayu, dengan menjaga keseimbangan tubuh dan kekuatan kaki, pengguna flyboard bisa bebas bergerak ke manapun ia inginkan.

Bayu mengatakan, tak ada aturan baku berapa lama idealnya seseorang bisa berada di udara saat bermain flyboard. Flyboarding bahkan bisa dilakukan segala usia, termasuk anak-anak. Asalkan ada pendampingan dari instruktur atau orang yang lebih dewasa. Yang terpenting adalah, harus sehat jasmani dan rohani, dan tidak ada masalah dengan kaki. Selebihnya aman. Bahkan, Bayu sendiri mengaku pernah 'menerbangkan' anak berusia 12 tahun.

Namun, Bayu menyarankan agar tetap memperhatikan keselamatan saat bermain flyboard. Sebab, menurutnya, segala macam permainan bisa mendatangkan bahaya jika tak dilakukan dengan hati-hati dan tanpa pengamanan diri. Untuk itu, perlengkapan pengamanan, seperti helm dan jaket pelampung sangat penting digunakan saat bermain flyboard. Bayu sendiri pernah mengalami cedera kaki saat bermain flyboard. Kala itu karena kurang hati-hati ia mengalami keseleo di mata kakinya. Kontan saja hal itu membuatnya harus beristirahat di rumah selama sekitar tiga bulan. Tetapi, itu tak membuat Bayu kapok.


Bermain flyboard, juga membutuhkan biaya yang tak sedikit. Flyboard yang kini telah cukup banyak terdapat di beberapa tempat di Bali dan beberapa daerah lain di Indonesia ini ditawarkan dengan harga beragam. Di Flyboard Bali, misalnya, pengunjung harus merogoh kocek dan membayar sekitar Rp 650 ribu per orang untuk menjajal sensasi terbang dengan flyboard selama 20 menit. Namun, lagi-lagi, keseruan dan adrenalin yang terpacu oleh permainan ini membuat harga tak lagi menjadi permasalahan penting. Bayangkan, melayang-layang kemudian melesat ke dalam air, kembali terbang, berputar dengan bebas di udara, tentu mendatangkan sensasi tersendiri.

Itu pula yang dirasakan Indira Aryvienna. Perempuan yang akrab disapa Ary ini pertama kali mencoba keseruan bermain flyboard di negeri kincir angin Belanda pada 2015. Awalnya, Ary melihat permainan flyboard di situs jejaring Youtube. Ia lantas penasaran dengan aksi terbang bak Iron Man tersebut. Akhirnya ia pun mencoba setelah salah seorang teman menawarinya menjajal permainan yang menguji nyali itu. Ia pun menyambangi lokasi di Anton Schleperspad, Amsterdam. Ary mengaku, hari pertama ia mencoba flyboarding, sempat merasa takut, tegang, waswas, karena bermasalah dengan keseimbangan tubuh.

Namun, Ary pantang mundur. Meski agak sulit lambat laun perempuan yang berdomisili di Manado dan Ternate ini mengaku mulai dapat beradaptasi dengan permainan flyboarding. Pada hari berikutnya Ary pun sudah lebih santai memainkan alat yang mampu mengangkat bobot hingga sekitar 180 kilogram tersebut. Pada hari ketiga, ia sudah mahir mengendalikan papan itu di udara. Dan sejak saat itu, Ary tidak pernah kapok bermain flyboard, justru malah ketagihan.


Flyboard memang membuat penikmatnya ketagihan untuk kembali bermain dan bermain lagi. Alat berbentuk sepatu yang dihubungkan dengan papan seperti ski air ini terhubung dengan sebuah selang sepanjang sekitar 55 kaki. Dengan tekanan air dari PWC (personal water craft) yang memiliki daya dorong dengan kekuatan 100 ekor kuda. Alat ini mampu menerbangkan penggunanya hingga ketinggian 35 kaki dari permukaan air. Perangkat flyboard ini dikendalikan oleh tuas yang terhubung dengan PWC. Itu memungkinkan pengendara terbang ke angkasa ataupun menyelam ke dalam air. Hingga saat ini ada dua versi flyboard yang beredar di pasaran. Jenis pertama merupakan flyboard standar dan kedua untuk profesional. Flyboard standar yang merupakan versi asli dari Zapata dilengkapi dengan genggaman stabilisator untuk mengendalikan flyboard di udara. Sedangkan, versi profesional tak dilengkapi pegangan tersebut.

Bagi para pemain, baik pemula maupun profesional harus mengenakan perlengkapan keselamatannya dengan baik dan tepat. Mereka harus memasang dengan benar semua alat keselamatan, seperti helm dan jaket pelampung. Pastikan semua terikat dengan kencang, terutama sepatu flyboard. Pastikan juga bermain di jarak yang aman dan tak berada di tempat ramai. Setelah mulai menyalakan flyboard, perhatikan keseimbangan. Untuk awal cara menjaga keseimbangan bisa dengan berdiri tegak, tetapi lutut sedikit di tekuk ke depan. Pastikan tubuh dan pikiran santai saat melakukan flyboarding untuk pertama kalinya. Jika sukses melakukan yang pertama biasanya ingin mencoba tingkatan yang lebih sulit. Tetapi, pastikan diri merasa nyaman terlebih dahulu sebelum pindah ke tingkat berikutnya.

Wanita hamil dan orang yang mengonsumsi alkohol sangat tak disarankan bermain flyboard. Sejak ditemukan lima tahun lalu, sudah sekitar 2.500 unit flyboard terjual di seluruh dunia, termasuk yang sampai ke Indonesia. Agaknya para pencinta flyboard harus berterima kasih kepada kejuaraan jet ski di Cina pada 2012, yang merekam aksi permainan ini hingga menjadi viral di dunia maya. Flyboarding pun mendunia.


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia