Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label CULINARY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CULINARY. Tampilkan semua postingan
KULINER : CANGKIR BLIRIK - Solo, Wedangan Urban Dengan Konsep Tempo Dulu.

KULINER : CANGKIR BLIRIK - Solo, Wedangan Urban Dengan Konsep Tempo Dulu.


Wedangan Cangkir Blirik di bilangan Jalan Banyuanyar, Solo ini, menonjolkan desain interior Jawa tempo dulu. Bangunan joglo dengan pintu gebyok langsung menyapa para pengunjung. Memasuki ruangan, para pengunjung serasa diajak menikmati makanan dengan atmosfer Jawa nuansa dulu. Dinding-dinding dari kayu, lampu temaram, meja dari kayu dan kursi-kursi rotan mempertegas kesan itu. Nuansa itu membawa pengunjung layaknya makan dan minum di rumah. Mereka bisa merasakan kenyamanan wedangan sembari ngobrol ngalor ngidul dengan rekan, kerabat atau keluarga.

Menurut Isnan Wihartanto, pemilik wedangan Cangkir Blirik, dalam membuat wedangan urban hal yang sangat penting adalah konsepnya yang harus beda. Karena prinsip wedangan urban itu biasanya 60 persen untuk tempat nongkrong, dan 40 persen untuk makan. Desain interior dan eksterior wedangan menjadi pembeda dari masing-masing. Wedangan urban tidak hanya menonjolkan rasa makanan yang ditawarkan, tetapi juga berlomba-lomba membuat konsep agar pengunjung memiliki pengalaman yang berbeda.


Berbagai makanan dan minuman tersaji di wedangan Cangkir Blirik. Satu hal yang menjadi ciri khas Cangkir Blirik adalah tempat minumnya. Karena ingin mengajak pengunjung merasakan wedangan layaknya tempo dulu, tempat minumnya pun menggunakan cangkir blirik. Alasannya, tradisi wedangan sudah ada sejak zaman dulu, dan untuk minumnya selalu memakai cangkir seperti itu. Cangkir Blirik memiliki 50 jenis menu. Dari 50 menu itu, 70 persen di antaranya dimasak sendiri, terutama sajian nasi. Ada banyak jenis nasi, mulai dari nasi kucing, nasi teri, dan nasi oseng. Nikmatnya lagi, nasi-nasi ini dimasak dengan cara khas zaman dulu alias diadang yang menggunakan arang. Lauk-pauknya puluhan, tapi yang menjadi favorit adalah sate kikil.


Harga nasi sekitar Rp 4000, sementara lauknya berkisar Rp 2.500 - Rp 8.500. Untuk menu minuman, Cangkir Blirik menawarkan beragam wedang, dari wedang jahe, wedang jeruk, dan juga wedang jahe kencur. Wedang yang terakhir ini diyakini memiliki khasiat memberikan rasa bugar tubuh saat masuk angin, dan menjadi wedang favorit pelanggan. Harga minuman mulai dari Rp 3.500 hingga Rp 6.500. Mengingat keunikan Cangkir Blirik, tak heran jika beberapa pesohor pernah ke tempat ini, seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, hingga Ibu Negara Iriana Jokowi. Setiap harinya, ada sekitar 100 hingga 150 pegunjung yang datang ke sini. Namun bila akhir pekan pengunjung yang datang bisa sampai 300. Sementara pada hari Senin, Cangkir Blirik tutup.

KULINER : CARNIVOR SKY BAR & GRILL, Sensasi Makan Sambil Menatap Keindahan Kota Semarang Di Atas Ketinggian.

KULINER : CARNIVOR SKY BAR & GRILL, Sensasi Makan Sambil Menatap Keindahan Kota Semarang Di Atas Ketinggian.



Sesuai dengan tagline #areyouhighenough yang disematkan, resto satu ini memang memberikan sensasi makan di ketinggian. Ya, Carnivor Sky Bar & Grill berada di Roof Top Grand Edge Hotel di bilangan Jl. Sultan Agung, Semarang. Tak hanya memberikan sensasi makan di ketinggian, Carnivor Sky Bar & Grill juga menawarkan berbagai menu yang menarik dan cocok disantap bersama keluarga.

Resto ini digawangi oleh empat sahabat, yakni Robby Chandra, Rolla Otta, Tan Natali, dan Andi Ardian, yang tertarik terjun di bisnis kuliner. Mereka pun mendapatkan tawaran lokasi dari manajemen Grand Edge Hotel, tepatnya di roof top yang bisa memberikan pemandangan keindahan kota Semarang dari ketinggian. Sepakat dengan lokasi, mulailah mereka mencari konsep resto yang akan diusung. Pilihan akhirnya jatuh pada franchise resto Carnivor yang sudah lebih dulu ada di Jakarta. Bedanya, Carnivor Sky Bar & Grill Semarang memiliki tempat yang luas dan menambahkan bar sebagai pelengkap.


Tanggal 15 November 2015, Carnivor Sky Bar & Grill resmi diluncurkan dan ditawarkan sebagai salah satu resto berkonsep unik di kota Semarang. Awalnya, menu yang ditawarkan adalah menu western, tetapi sekarang sudah dilengkapi dengan menu Asian dan Indonesian. Selain menawarkan sensasi makan dengan view keindahahan kota Atlas Semarang, menu yang ditawarkan juga menjadi nilai lebih dari resto ini. Beberapa menu yang direkomendasikan seperti Roasted Caramelized Half Baby Chicken, Australian Beef Wellington, Norwegian Seared Salmon, merupakan signature chef menu. Ada juga menu yang tidak bisa didapatkan di tempat lain yaitu Pizza Burger.

Carnivor Sky Bar & Grill juga selalu menawarkan beragam promosi. Biasanya, pelanggan pada hari Jumat hingga Minggu 80% adalah keluarga. Untuk itu, mereka meluncurkan promo buy 2 get 1 free. Jadi, bagi keluarga kecil beranggotakan 4 orang bisa lebih hemat dengan promo ini. Tak heran, banyak keluarga yang memilih resto ini untuk menghabiskan waktu sambil menikmati kuliner. Biasanya, di penghujung minggu juga selalu ada agenda gathering, ulang tahun, atau agenda lainnya.


Setelah hampir setahun berjalan, respons yang diberikan masyarakat Semarang terhadap resto ini pun positif. Para pemiliknya jadi mengenal keinginan pasar Semarang. Pelanggan biasanya mau yang berkualitas, sehingga menu, fasilitas, dan pelayanan pun terus ditingkatkan. Mereka juga terus meng-update menu setiap tiga bulan agar pelanggan tidak bosan dan punya pengalaman kuliner baru. Tentunya, menu grill tidak akan berubah, dilengkapi menu Asia dan Indonesia. Mereka pun sangat terbuka dan selalu mensurvei keinginan pelanggan, dengan melihat masukan dan ranking menu permintaan pelanggan. Kalau ada menu yang tidak mendapat respons bagus, menu akan diganti dengan inovasi menu baru. Ini salah satu cara agar mereka bisa terus update, apalagi kafe baru dan resto baru semakin banyak di Semarang.

Salah satu menu baru dan jadi favorit adalah Breaded Fish Orange Mayo. Inovasi menu ini banyak dipesan pelanggan. Tak hanya kualitas menu yang ditingkatkan, mereka juga memperhatikan tren kuliner yang sedang ramai di masyarakat. Tentunya tetap disesuaikan dengan konsep resto. Satu hal lagi yang juga menjadi perhatian resto ini adalah pelayanan maksimal agar pelanggan merasa betah dan ingin berlama-lama. Ini karena pelanggan dari Semarang memang menuntut kualitas yang tinggi sehingga semuanya perlu diperhatikan. Karena itulah, resto berusaha untuk selalu bisa mengakomodir semua permintaan pelanggan.


Bagi anda yang ingin bersantai dan menikmati menu di Carnivor Sky Bar & Grill bersama keluarga, cukup siapkan anggaran mulai Rp 70.000 hingga Rp 300.000. Jangan lupa juga untuk update promo resto di akun Instagram carnivorskybar.




KULINER : D'EXQUISITE, Menikmati Menu Mewah Ala Italia di Kawasan Kota Lama Semarang.

KULINER : D'EXQUISITE, Menikmati Menu Mewah Ala Italia di Kawasan Kota Lama Semarang.


Berlokasi di Jalan Cenderawasih No.8E, Kawasan Kota Lama, Semarang, kafe ini tengah menjadi talk of the town warga Semarang. Meski baru buka pada bulan Juni 2016, d'Exquisite menyita perhatian dengan konsep dan menu yang berbeda. Mengusung konsep ala Italia, kafe ini berusaha membawa pengunjung untuk mendapatkan sensasi dan atmosfer elegan serasa berada di Italia. Khas kafe Italia, desain yang elegan dan minimalis memang menghiasi ruangan kafe ini. Dominasi warna shabby chic dan romantis membuat pelanggan betah berlama-lama meski ruangan tak terlalu besar.

Andreas Ivan Fernando Tanowi, salah satu pemilik d'Exquisite menceritakan awal berdirinya kafe serta menu yang ditawarkan. Awalnya, bersama seorang temannya, Richard, Andreas menawarkan panacotta lewat sebuah bazar di Surabaya. Ide berjualan di bazar juga karena Richard mendapatkan tugas kuliah. Kebetulan, dia mengambil jurusan bisnis kuliner di sebuah universitas swasta. Berniat membantu Richard, Andreas, yang berlatar belakang pendidikan otomotif, pun mau mengikuti bazar dan memilih berjualan panacotta sambil belajar bisnis. Ternyata panacotta yang mereka buat direspons sangat baik, sehingga bisnis itu mereka teruskan. Mereka terus berjualan dari bazar ke bazar mulai Maret hingga Desember 2015.


Andreas menjelaskan, saat itu panacotta yang mereka tawarkan hanya ada tiga jenis rasa, yaitu caramel panacotta, chocolate panacotta, dan raspberry panacotta. Pria asal Semarang ini mengaku, tak menyangka makin lama permintaannya semakin banyak. Setiap hari mereka bisa memproduksi 50 hingga 100 panacotta. Mereka pun berbagi tugas, Richard yang bagian memproduksi, sedangkan Andreas mengurusi bagian bisnis dan promosi, walau terkadang ikut juga membantu produksi.

Melihat potensi bisnis dan peluang, Andreas lalu menawarkan sahabatnya itu untuk membuka kafe di kota asalnya, Semarang. Kebetulan, Andreas sudah memiliki ruko di kawasan Kota Lama, yang tempatnya strategis dan banyak dikunjungi wisatawan. Richard pun merespons positif dan langsung setuju. Setelah cocok dengan lokasi yang strategis, Andreas dan Richard mulai menyusun konsep kafe. Mereka berpikir, kalau hanya menawarkan tempat untuk minum kopi dan dessert sepertinya sayang sekali. Karena itulah, Andreas mengusulkan mengajak lagi seorang temannya bernama Elisa yang mahir membuat menu makanan barat. Jadi, tempat yang mereka buka nantinya tidak sekedar coffe shop, tapi juga bistro. Elisa sendiri kemudian bergabung karena memiliki passion dan visi yang sama.


Mengusung konsep Italia, mereka menawarkan pengalaman kuliner berbeda. Nama d'Exquisite sendiri diambil dari bahasa Inggris yang berarti mewah dan megah. Jadi, mereka memang menawarkan suasana makan yang megah, rasa mewah, tapi dengan harga bersahabat. Mereka ingin mengubah pandangan bahwa tempat makan mewah dan megah pun ternyata bisa ditawarkan dengan harga terjangkau. Nuansa Italia yang ditawarkan ternyata mendapat respons positif. Didukung kawasan Kota Lama yang juga memiliki banyak bangunan bergaya arsitektur Eropa, hadirnya kafe dengan konsep Italia ternyata menjadi nilai tambah karena pelanggan mendapat sensasi yang berbeda.

Kafe ini mulai beroperasi bulan Juni 2016 dengan berbagai menu menarik, mulai dessert seperti chocolate panacotta, caramel panacotta, red velvet cake, vanilla raspberry chaux, dan sebagainya, sampai makanan berat Big Bites, mulai dari salted egg chicken rice, chicken parmigiana, hingga home made Pizza Classic Spesial yang berwarna hitam dengan topping yang menarik. Pizza hitam merupakan ide Elisa, yang memiliki latar belakang pendidikan bisnis kuliner dan punya passion yang sama dengan dunia kuliner. Belakangan, pizza ini jadi salah satu menu favorit yang banyak dipesan.


Berbagai program menarik juga gencar dipromosikan kafe ini, misalnya menu sarapan pagi yang hanya dibanderol Rp 50.000. Selain mendapat paket menarik, pelanggan juga disuguhi sajian musik Italia yang melengkapi sensasi makannya. Sedangkan menu lainnya ditawarkan mulai Rp 27.000. Andreas memahami betul pasar di kota Semarang yang menuntut kualitas tetapi dengah harga bersahabat. Menurutnya, rata-rata orang Semarang itu sangat perhitungan dan menginginkan barang yang berkualitas. Maka, ini menjadi tantangan baginya dan kedua temannya untuk menyuguhkan menu mewah dengan harga terjangkau. Dan ternyata mereka berhasil.

Bukti bahwa warga Semarang merespons baik kafe satu ini terlihat dari jam buka kafe ini. Jika sebelumnya kafe libur setiap hari Selasa,  per bulan September 2016 kafe ini mulai buka setiap hari. Yang juga berbeda di kafe ini adalah pelayanan yang sangat personal. Mereka tidak segan berinteraksi dengan pengunjung sehingga pengunjung merasa lebih diperhatikan. Kafe ramai sejak pagi hingga malam hari dengan pelanggan dari berbagai kalangan dan umur. Pagi hingga siang hari banyak didatangi kaum ibu-ibu. Setelah mengantar anaknya sekolah, biasanya mereka memilih menunggu di kafe ini sambil kumpul-kumpul. Kafe ini juga sering dijadikan tempat kumpul ibu-ibu untuk arisan. Sementara jam makan siang banyak dipilih oleh karyawan, sore hingga malam biasanya jadi tempat nongkrong sambil menikmati dessert. Jadi kafe ini memang masuk ke semua kalangan.


Ke depan, Adreas dan dua rekan bisnisnya berencana mengembangkan kafe. Rencananya Elisa akan membuka d'Exquisite di Bali, Richard di Surabaya, sementara Andreas sendiri tetap fokus di Semarang. Untuk menjaring banyak pelanggan, promosi sosial media lewat Instagram juga gencar dilakukan, serta mengajak food blogger mereview dan memperkenalkan menu-menu d'Exquisite. Program atau promo yang ditawarkan pun juga biasanya dishare di Instagram dengan akun dexquisiteid.

KULINER : SOUTH BOX : Tempat Nongkrong Baru Anak Muda Jakarta.

KULINER : SOUTH BOX : Tempat Nongkrong Baru Anak Muda Jakarta.


Terletak di Jalan Prapanca, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tempat yang dibuka sejak tahun 2015 ini telah berhasil menjadi salah satu tempat berkumpulnya anak muda Jakarta. Tumpukan peti kemas yang menyerupai bangunan bertingkat dua ini terlihat mencolok di sisi jalan yang selalu ramai oleh lalu lalang kendaraan bermotor itu. Di sekeliling kotak kontainer beraneka warna, terdapat area semi outdoor yang cukup luas bagi pelanggan untuk menikmati suasana dan kuliner yang lezat.

South Box menyediakan makanan dan minuman dengan harga beragam, namun masih ramah di kantong. Di antaranya Bakmi RN, The Halal Bro's, Warteg Gaspoll, dan lain-lain. Sore hari menjadi waktu yang tepat untuk mendatangi South Box, terutama ketika akhir pekan. Pasalnya, di sana kerap disuguhkan berbagai acara seru seperti live music hingga nobar alias nonton bareng pertandingan sepak bola. 


Selain menikmati beragam sajian hiburan, pelanggan juga bisa mencicipi beragam kuliner yang disajikan di sana. Salah satu yang patut dicoba adalah The Halal Bro's yang menyajikan makanan ala Timur Tengah yang sudah disesuaikan dengan lidah lokal Indonesia. Makanan yang lahir dari dapur The Halal Bro's memiliki gaya penyajian yang sebelumnya sudah terkenal di Amerika Serikat. Hampir semua jenis makanan menjadi favorit pelanggan, terutama Chicken and Lamb Over Rice yang setiap porsinya berisi nasi basmati gurih nan harum ditambah selada segar, roti pita, tomat cherry, dan saus rahasia istimewa. Ya, selain menggunakan beras basmati, The Halal Bro's juga menyediakan saus yang berbeda seperti white sauce dan red sauce. Bumbu-bumbu yang digunakan juga beragam dan berkualitas. Misalnya bubuk cabai menggunakan bubuk cabai dari Singapura yang memiliki warna yang lebih merah dan tidak pedas. Selain menyajikan penganan dengan nasi basmati, The Halal Bro's juga memiliki makanan manis favorit pelanggan yakni roti canai berisi cokelat. Ditambah satu scoop es krim dalam setiap porsinya, tak heran jika makanan ini disukai pengunjung.


Buka sekitar pukul 10.00 WIB setiap harinya, lokasi ini tidak terlalu ramai didatangi pelanggan pada siang hari. Namun, mereka masih melayani pesanan melalui jasa transportasi online. Baru pada sore dan akhir pekan ramai dikunjungi pelanggan, apalagi kalau ada acara nobar pertandingan sepak bola. Jika ingin datang ke tempat ini dan enggan repot mencari tempat parkir, South Box memberi layanan valet parking dengan tarif Rp 15.000 pada hari biasa dan Rp 20.000 di akhir minggu.




KULINER : FOOD CONTAINER, Menghadirkan Konsep Food Court Di Dalam Peti Kemas.

KULINER : FOOD CONTAINER, Menghadirkan Konsep Food Court Di Dalam Peti Kemas.


Ketika berkendara dari arah Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan menuju Cinere, Depok, dengan mudah kita menemukan beragam lokasi kuliner. Satu yang menarik perhatian adalah keberadaan barisan kontainer yang ada di sisi kiri jalan raya. Nama tempatnya Food Container. Dengan tempat parkir yang mudah diakses, di dalamnya ternyata menyimpan aneka kreasi makanan yang menggugah selera. Walau mungkin masih asing di telinga karena beberapa di antaranya biasa hadir di arena bazar atau festival makanan, namun dari menu yang disajikan, nama makanan dan minuman yang ada terasa akrab di telinga. Misalnya aneka olahan dari daging ayam suwir, cendol, pasta, steak, beragam olahan daging bebek, kebuli, serba olahan lele, dan lain sebagainya.

Di siang yang panas, cendol terasa pas mendampingi Suwir Ayam Combrang dari Suwar Suwir yang bisa dipesan untuk menjadi pengganjal perut. Harga yang diberikan keduanya masih terhitung wajar. Aneka cendol dari The Cendol'o harganya berkisar dari Rp 20.000 hingga Rp 25.000, juga Suwar Suwir yang memiliki rentang harga dari Rp 30.000 sampai Rp 40.000. Saat anda berkunjung ke tempat ini, jangan lupa untuk menanyakan program promo yang sedang berlaku. Kadang pengelola memberi promo dengan harga hemat untuk paduan makanan dan minuman tertentu. Misalnya, satu roti bakar dengan es teh manis dijual dengan harga Rp 20.000. Padahal harga normal roti bakar Rp 18.000 dan es teh manis Rp 8000.


Tempat yang berada di Jalan Lebak Bulus Raya ini, baru dibuka awal 2016 lalu dan memiliki konsep layaknya sebuah food court dalam pusat perbelanjaan atau mal. Terdiri dari dua area, yakni smoking dan non smoking, walau terbuat dari peti kemas, suasana di dalamnya terasa nyaman dan sejuk berkat hadirnya beberapa pendingin udara. Selain menghadirkan lantunan musik easy listening dan live music pada saat tertentu, pengelola juga menambah kenyamanan pelanggan dengan menyediakan beragam permainan seperti UNO, congklak, catur, dan lainnya, yang bisa dipinjam pelanggan dan menggunakannya selama berada di tempat ini (tidak boleh dibawa pulang). Untuk meminjam bisa langsung menghubungi pelayan yang sudah terlatih dan sangat friendly.

Buka sejak pukul 10.00 WIB sampai 22.00 WIB pada hari kerja dan 10.00 WIB hingga 24.00 WIB di akhir pekan, pelanggan yang kerap menyambangi tempat ini datang dari beragam latar belakang. Pada hari biasa kebanyakan yang datang adalah karyawan dan mahasiswa. Sementara di akhir pekan, banyak keluarga yang datang ke sini.


KULINER : BERSANTAP DI DALAM PETI KEMAS DI DAERAH PERMATA HIJAU - JAKARTA SELATAN.

KULINER : BERSANTAP DI DALAM PETI KEMAS DI DAERAH PERMATA HIJAU - JAKARTA SELATAN.


Sore hari berkendara di jalan arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan, seringkali memang butuh stamina tersendiri. Pasalnya rute ini dikenal sebagai rute yang kerap dilanda kemacetan panjang. Maka, tak ada salahnya jika anda beristirahat sejenak, dan mungkin tempat yang satu ini cocok dijadikan referensi. Berada di sisi sebelah kiri jalan tak jauh dari The Belezza Shopping Arcade, tempat makan yang terbuat dari peti kemas berwarna kuning ini mudah ditemukan. Berada di sebuah kompleks tempat makan yang juga terbuat dari peti kemas beraneka warna, Ropangi menawarkan makanan berat dan ringan dengan harga murah. Dengan rentang harga mulai Rp 12.000 sampai Rp 24.000, aneka makanan dan minuman ini menjadi teman untuk sejenak menghindari kemacetan.


Selain nasi goreng, mi goreng instan dengan olahan bumbu Tom Yam asal Thailand dan roti bakar meises cokelat, pisang, keju susu menjadi favorit pelanggan di tempat ini. Dengan harga mulai Rp 4000 sampai Rp 6000, pelanggan juga dapat menambahkan isian atau topping makanan yang dipesan, misalnya dengan menambah jumlah keju, telur, abon, atau cokelat ke dalam makanan dan minuman pesanan. Di lokasi yang sama, beberapa tempat makan lain seperti Kulinarian, Ilvero Gelateria dan PSY Steamboat Yakiniku, juga menggunakan peti kemas sebagai bangunannya. Semuanya menawarkan pengalaman kuliner yang seru dan unik dengan beragam makanan unggulan. 


Kulinarian, yang terletak di bagian depan, terlihat sungguh mengundang perhatian dengan penataan ruang yang minimalis namun terlihat segar. Tempat makan ini menghadirkan beragam masakan mulai dari steak, pasta, salad, hingga nasi goreng. Di bagian atasnya terdapat Ilvero Gelateria yang menghadirkan beberapa rasa gelato dan sorbet buatan sendiri. Beralih ke bagian belakang, dapat ditemui Pattaya Steamboat Yakiniku (PSY) yang menyediakan makanan ala Thailand dan Jepang. Nah, usai mengisi perut, anda pasti siap menerjang kemacetan menuju arah pulang.

KULINER : KARAROPI, Coffee Shop Dengan Biji Kopi Lokal Pilihan.

KULINER : KARAROPI, Coffee Shop Dengan Biji Kopi Lokal Pilihan.


Menjelang malam, kawasan Granada Square yang terletak di daerah Tangerang Selatan, justru terasa semakin hidup. Berlokasi di kawasan BSD City, di tempat ini mudah ditemukan bermacam penjual makanan dan minuman dengan harga bersahabat. Terletak agak menjorok ke dalam, sebuah coffee shop mungil bernama Kararopi, bisa menjadi tujuan. Di dalam coffee shop milik Yan Dikara ini, nampak peralatan pembuat kopi tertata rapi di meja, berdampingan dengan beragam pilihan biji kopi asal nusantara, di antaranya Sunda Aromanis, Sulawesi Latimojang, Flores Golo Pau, dan Bali Toya Bungkah.

Biji kopi lokal di tempat ini dipilih bukan tanpa alasan. Selain ingin memuliakan hasil tanah Indonesia, penggunaan biji kopi lokal juga diharapkan bisa meningkatkan perekonomian petani. Menurut Yan, kopi asal Indonesia itu sangat banyak jenisnya. Setiap daerah punya ciri khas sendiri. Dari satu daerah saja sudah ada banyak variannya. Dari semua biji kopi lokal yang pernah dicobanya, Yan lebih suka biji kopi dari Indonesia Timur, yang memiliki rasa lebih fruity. Selain itu, ia juga menyukai kopi asal Jawa Barat seperti Malabar, Pengalengan, dan Garut. Dengan adanya trend ngopi yang berkembang di tengah masyarakat saat ini, menurut Yan, perkebunan kopi yang dulu sempat sekarat pun kini sudah mulai sehat kembali.


Kecintaannya akan kopi yang kemudian mencetuskan ide untuk membuka sebuah coffee shop. Dimulai di tahun 2014, ia menjual kopi dengan tehnik cold brew. Kemudian pada Februari 2016, coba membuka sebuah coffee shop bernama Kararopi di daerah Kalimalang. Tak disangka, tanggapannya baik. Dan pada September 2016 ia membuka satu coffee shop lagi di kawasan BSD. Kararopi menawarkan lebih dari sekedar tempat ngopi, karena di tempat ini sering terjadi dialog seputar kopi antara pelanggan dan pemilik. Pasalnya, selain menjual olahan biji kopi, Yan, yang lebih suka disebut tukang kopi ketimbang barista atau brewer ini, juga tak pelit berbagi ilmu mengenai kopi.

Kararopi buka sejak pukul 16.00 WIB hingga 24.00 WIB setiap hari kerja dan sejak pukul 07.00 WIB sampai 24.00 WIB pada akhir pekan. Desain ruangan yang seperti sebuah dapur modern terbuka sengaja dipilih Yan agar interaksi dengan pelanggan berjalan lancar. Yan ingin menjadikan tempatnya ini sebagai working space dan art space. Latar belakangnya sebagai pekerja di salah satu media, membuatnya punya banyak teman fotografer dan desainer. Ke depannya, menurut Yan, mereka bisa menaruh karyanya di Kararopi. Karena itu pula, desain tempatnya ini Yan buat agar pengunjung terasa nyaman bagai ada di rumah kedua. Tidak terlalu banyak furnitur di dalamnya. Beberapa titik ia buat sederhana tapi catchy, agar instagramable.

KULINER : PIGEONHOLE COFFE,  Coffe Shop Desain Minimalis Dengan Sajian Kopi Yang Lengkap.

KULINER : PIGEONHOLE COFFE, Coffe Shop Desain Minimalis Dengan Sajian Kopi Yang Lengkap.



Terletak di sisi jalanan utama sebuah kawasan perumahan yang berada di Bintaro, Jakarta Selatan, Pigeonhole Coffee menawarkan beragam pilihan biji kopi, bersama dengan berbagai jenis kue seperti lemon cake, pie, croissant, muffin, dan lainnya. Coffe shop ini tidak memiliki ruangan besar, namun terasa nyaman dengan pengaturan furnitur minimalis. Buka sejak pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB setiap hari biasa dan tutup pada pukul 22.00 WIB setiap akhir pekan, dalam sehari barista Pigeonhole Coffee paling tidak membuat lebih dari 30 cup kopi bagi pelanggannya, kadang bisa juga lebih bila di akhir pekan.

Tempat yang buka sejak tahun 2015 ini juga sudah membuka cabang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Yang menjadi pembeda dengan tempat minum kopi sejenis adalah jenis kopi di sini lebih lengkap. Selain itu, para barista juga dibiasakan untuk selalu melakukan kalibrasi rasa setiap pagi. Setiap orang memiliki cita rasa yang berbeda akan sebuah biji kopi. Untuk itu, sebelum membuatkan pesanan kopi, barista selalu menanyakan terlebih dahulu kopi seperti apa yang disukai pelanggan. Kepada pelanggan juga akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai karakteristik biji kopi yang tersedia.



Dari beberapa jenis minuman olah kopi yang ditawarkan, Black And White menjadi salah satu favorit pelanggan. Kopi ini disajikan dalam dua cup, yakni espreso dan milk. Pilihannya terdapat capucino, latte, flat white, dan piccolo. Sementara jenis kopi yang digunakan adalah kopi arabika. Jarang sekali menggunakan kopi robusta. Selain menyajikan kopi dari biji kopi impor, di tempat ini juga dapat ditemukan biji kopi lokal seperti Toraja, Papua, Kerinci, dan kopi dari Jawa Barat. Perbedaan lainnya adalah setiap gelas kopi yang disajikan tidak diberi gula, agar pelanggan bisa mencoba keaslian rasa kopinya. Kalau pun pelanggan ingin yang manis, bisa ditambahkan gula sendiri yang sudah disediakan di meja.

Kopi merupakan sesuatu yang personal, setiap orang memiliki selera tersendiri untuk menikmati kopi. Kadang ada pelanggan yang minta dibuatkan kopi yang extra hot, ada pula yang minta kopi tubruk, atau extra strong, dan lain-lain. Selain kopi, di Pigeonhole Coffee juga terdapat minuman lain seperti teh dan cokelat. Harga minumannya relatif terjangkau, mulai Rp 35.000 sampai Rp 50.000, tergantung jenis bijinya. Bahkan pernah ada juga kopi yang dijual seharga Rp 70.000 sampai Rp 80.000, yakni kopi Panama Geisha, yang memang sangat enak.


Desain yang menarik di tempat ini menjadi titik-titik foto para pelanggan untuk diunggah ke media sosial. Bahkan ada pula pelanggan yang datang ke tempat ini untuk melakukan pemotretan prewedding. Pelanggan regular yang datang pun tak hanya dari sekitaran Bintaro saja, tapi juga dari daerah lain.

KULINER : KLINIK KOPI - YOGYAKARTA : Setiap Kopi Punya Ciri Khas Dan Cerita Sendiri.

KULINER : KLINIK KOPI - YOGYAKARTA : Setiap Kopi Punya Ciri Khas Dan Cerita Sendiri.


Salah satu pilihan tempat ngopi yang ngehits di Yogyakarta adalah Klinik Kopi. Lokasinya di bilangan Jalan Kaliurang km 7,5, Sleman. Kedai kopi ini menempati rumah sang pendirinya yaitu Firmansyah. Tempatnya terlihat simpel dengan bangunan berkonsep bambu. Memasuki halaman Klinik Kopi terpampang tulisan-tulisan yang menggamit perhatian, seperti "No Smoking", "Kami Menyediakan Teknologi Sampah", "Buanglah Mantan pada Bak Sampah", atau "Sorry No Wi-Fi. Talk To Each Other", di ruang tunggu. Di ruang tunggu inilah para pencinta Klinik Kopi menunggu giliran masuk ke ruang utama di mana Firmansyah, atau akrab disapa Pepeng, dan seorang temannya, Sigit, bersiap menyajikan kopi pesanan. Di ruang utama, terdapat meja dengan 6 toples berisi kopi berbagai jenis dari berbagai daerah di Indonesia. Tak ada buku menu. Semua jenis kopi dijual Rp 15.000 per cup. Ada juga roti dan makanan kecil seharga Rp 10.000. Menurut Firmansyah atau Pepeng, menu di kedai kopinya adalah ngobrol. Karena setiap kopi yang ia jual punya ciri khas dan cerita sendiri.

Klinik Kopi buka mulai pukul 16.00 WIB dan last order pukul 20.00 WIB. Namun, meski belum buka, pengunjung sudah banyak yang menunggu di ruang tunggu. Dengan ramah, Pepeng akan menyapa pengunjung sembari membagikan nomor antrean. Setelah pengunjung masuk ruang utama, biasanya Pepeng akan menanyakan jenis kopi yang diinginkan. Jika pelanggan bingung, Pepeng akan menjelaskan 6 jenis kopi yang dipajang di meja. Proses kopi diambil dan dibuat menjadi bagian dari penjelasan Pepeng. Jika belum pernah minum kopi, Pepeng akan menyarankan pelanggan memilih salah satu jenis kopi yang mempunyai cita rasa agak manis walaupun tanpa gula. Setelah kopi dipilih, proses pembuatan kopi secara manual brew dilakukan sembari diputar video tentang kopi. Suasana yang lebih dekat dan intim antara pembeli dan penjual sangat terasa. Pembeli dan penjual bisa saling memberikan informasi dari kopi yang ada.


Pepeng menjelaskan, budaya kopi itu terbagi dua. Pertama karena keturunan, dan yang kedua karena diciptakan. Di Klinik Kopi ia lebih memilih yang kedua, yakni menciptakan budaya sendiri. Ngopi pun tidak harus ada asap rokok, dan harus memakai gula. Di Klinik Kopi pula, setiap kopi diberitahukan asalnya dari mana. Penikmat Klinik Kopi memang segmented. Namun sejak Mei 2016 lalu, jumlah pengunjung di kedai ini meningkat tajam. Hal ini diakui Pepeng karena film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2). Film itu memengaruhi jumlah pengunjung di kedai kopinya hingga dua kali lipat. Tak heran, banyak dari pengunjung Klinik Kopi adalah orang-orang baru.

Pepeng menceritakan, awalnya sutradara film AADC 2, Riri Riza sering datang ke tempatnya, dan mengajak ngobrol. Berikutnya, sekitar November 2015, Riri juga mengajak Mira Lesmana, produser film AADC 2 yang kebetulan memang sedang mencari lokasi syuting untuk film tersebut. Akhirnya, Klinik Kopi memang menjadi salah satu tempat yang dipilih sebagai lokasi syuting film laris itu. Banyaknya jumlah pengunjung membuat Klinik Kopi akhirnya membatasi last order pada pukul 20.00 WIB dan tutup pukul 22.00 WIB. Setiap hari, ada sekitar 100 pengunjung baru di Klinik Kopi. Pengunjung baru ini datang ke Klinik Kopi karena film AADC 2 dan karena penasaran dengan cita rasa kopi tanpa gula.


Pria lulusan Teknik Penerbangan ini mengaku terjun di dunia kopi sejak tahun 2012 lalu. Berawal dari kegemarannya jalan-jalan dan membeli kopi. Kopi bawaannya itu lalu diracik dan dibuatnya sendiri, kemudian ia hidangkan kepada teman-teman dekatnya. Dari situ, teman-temannya percaya racikan kopi buatannya. Karena sering membuatkan kopi yang nikmat, Pepeng pun sering dipanggil teman maupun bos-bos perusahaan untuk membuatkan kopi. Ia bercerita, suatu hari pernah diundang oleh bos temannya untuk membuat kopi di kantornya. Setiap kegiatan membuat kopi itu, tak lupa selalu ia posting di akun media sosial pribadi. Dari situlah, teman-temannya yang lain jadi mengetahui kalau ternyata dirinya bisa diundang. Akhirnya, Pepeng pun sering diundang ke banyak kota seperti Bandung, Semarang, dan Jakarta, hanya untuk membuatkan kopi.

Berawal dari banyaknya permintaan untuk membuatkan kopi itulah, yang akhirnya mendorong Pepeng membuka warung kopi di pusat studi Sanata Dharma, di Jalan Gejayan, Yogyakarta, tahun 2013 lalu dengan sistem bagi hasil. Saat itu model promosinya hanya mengandalkan media sosial. Ternyata respons masyarakat semakin baik dan pelanggan terus bertambah. Tahun 2015, Klinik Kopi pindah ke rumahnya yang sekarang ini. Demi mendapatkan kopi sesuai cita rasanya, Pepeng rela merogoh kocek untuk membeli alat roasting seharga Rp 14 juta. Setelah memiliki alat sendiri, ia pun dapat menciptakan kopi sesuai cita rasa yang ia inginkan.


Ada 40-an jenis kopi dari seluruh Indonesia yang sudah masuk ke Klinik Kopi. Namun hanya 6 jenis kopi yang disajikan Klinik Kopi per harinya. Keenam jenis kopi ini akan diganti setiap minggunya. Pepeng mengaku, menyajikan kopi seperti di kedai kopi biasa lainnya. Yang harus selalu dijaga adalah mood pembuat kopi. Sebab mood akan mempengaruhi cita rasa kopi yang dibuat.

KULINER : CARNE SMOKE HOUSE : Hidangan Barbeque Ala Texas.

KULINER : CARNE SMOKE HOUSE : Hidangan Barbeque Ala Texas.


Bagi anda penggemar sajian barbeque, tentu yang menjadi arah patokannya adalah resep dan rasa dari masakan khas negara Eropa dan Amerika. Kali ini, hidangan barbeque ala Texas, Amerika, hadir di Jakarta. Carne Smoke House adalah restoran yang menawarkan aneka hidangan ala warung-warung barbeque yang ada di Texas. Carne dalam bahasa Spanyol artinya daging. Nama ini didasarkan pada kegemaran keempat pemilik resto ini terhadap aneka sajian berbahan daging. Mereka pun membuat formula sendiri yang pas untuk sajian barbeque-nya, sehingga lahirlah restoran dengan sajian original Texas ini pada 28 Oktober 2016.

Restoran Carne Smoke House menyediakan berbagai menu barbeque dengan andalannya daging brisket, ribs, dan bronto ribs yang dimasak dengan cara diasap. Untuk brisket, dagingnya dipotong tipis memanjang. Untuk bronto ribs, disajikan bersama tulangnya dan paling enak dimakan sambil memegang tulangnya. Tak perlu menggunakan pisau, karena dagingnya sudah empuk dan rasanya enak, seperti brisket. Bagi yang ingin menambah kenikmatannya, barbeque ini bisa ditambahkan saus, yang khusus dibuat sendiri oleh tim Carne Smoke House. Rasanya berbeda, lebih asam dan lebih cair. Bahannya terdiri dari tomat, cuka, soy sauce, bawang merah, bawang putih, bubuk paprika, dan gula merah. Selain itu, juga tersedia acara mentimun. Rasa asam tersebut untuk menetralisasi rasa barbeque.


Sajian barbeque dipadu dengan kentang tumbuk, ubi tumbuk, mac and cheese, roti tawar, dan lainnya. Umumnya, pelanggan memesan mac and cheese untuk pendampingnya dan bisa juga disajikan bersama salad kol putih, kol merah, dan wortel. Harga yang ditawarkan untuk brisket Rp 59 ribu per 100 gram. Ribs Rp 159 ribu dan bronto ribs Rp 290 ribu. Sedangkan, untuk menambahkan side dish, anda cukup membayar Rp 20 ribu. Untuk menu Bastard Platter dengan harga Rp 499 ribu, anda bisa mendapatkan brisket 200 gram, bronto ribs 500 gram, atau empat potong sautern fried chicken, dilengkapi dengan roti bakar.

Carne Smoke House juga menyediakan pilihan menu steak tenderloin, sirloin, dan daging lainnya. Dagingnya ada pilihan dari Australia, Amerika, dan Selandia Baru. Menu burger ala Carne Smoke House pun ada dengan harga mulai dari Rp 85 ribu sampai Rp 299 ribu. Untuk pilihan minuman, saat ini hanya ada es lemon tea, es teh manis, dan air mineral. Harga mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Maka, dengan uang Rp 100 ribu saja, anda sudah bisa makan puas di restoran ini.


Restoran ini berkapasitas 30 kursi dan dapat dipesan untuk acara arisan dan lainnya dengan sistem booking dua hari sebelumnya. Restoran ini dibuka setiap hari dari pukul 11.00 sampai 23.00 WIB, kecuali hari Jumat yang baru buka mulai pukul 13.30 WIB. Penasaran ingin mencoba ? Datang saja ke Carne Smoke House, yang berada di Jalan Cipete Raya nomor 15 C, Jakarta Selatan. 

KULINER : ES GRIM, Sensasi Menikmati Es Tradisional Kota Solo.

KULINER : ES GRIM, Sensasi Menikmati Es Tradisional Kota Solo.


Tak perlu bingung mencari tempat makan dan nongkrong saat malam hari di Solo. Di beberapa sudut jalan, dengan mudah akan kita temui angkringan atau wedhangan yang menyediakan makanan dan minuman hangat dengan harga bersahabat. Lokasi makan dan nongkrong saat malam hari di Solo juga sangat beragam. Es Grim menjadi salah satu tempat nongkrong siang dan malam hari di Solo. Sang pemilik, Andang Aphri, mengatakan bahwa sebenarnya tempat ini memiliki konsep untuk mengangkat es tradisional. Solo memiliki es tradisional yang sudah jarang ditemui seperti es puter dan es lilin. Dari cita-cita itulah muncul ide membuat usaha ini.

Meski begitu, untuk sementara misi awal melestarikan es tradisional belum sepenuhnya dijalankan oleh Andang. Ia masih menunggu usahanya ini hidup dulu, barulah merealisasikan visi dan misinya. Andang ingin, es tradisional itu bisa di-rebranding, agar update dan tidak membosankan. Sasaran utamanya adalah mahasiswa juga keluarga, sehingga mereka bisa menjadikan lokasi Es Grim sebagai tempat nongkrong dan makan.


Sejak konsep hingga usaha ini berdiri, menurut Andang, yang butuh waktu lumayan lama adalah menampilkan tempat yang tepat. Andang ingin tempatnya ini tampil girly, salah satunya dengan menggunakan warna-warna pastel namun homey. Selain menyediakan es krim, saat ini juga sudah ada makanan dan minuman yang menjadi menu Es Grim. Total ada sekitar 30 jenis menu. Menu andalannya tentu Es Grim, yang merupakan pelafalan dalam bahasa Jawa untuk es krim. Selain es krim, menu-menu yang tersedia antara lain, aneka steak, dan makanan kecil seperti udang rambutan, french fries, serta roti bakar.

KULINER : PABLO CHEESE TART, Menikmati Kue Tart Keju Ala Jepang.

KULINER : PABLO CHEESE TART, Menikmati Kue Tart Keju Ala Jepang.


Makanan Jepang belakangan menjadi primadona di lidah masyarakat dunia. Restoran yang menyajikan sushi atau ramen kini dengan mudahnya ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tak heran bila banyak kuliner Jepang membuka cabang di luar negaranya, karena yakin rasanya akan digemari orang luar Jepang. Seperti Pablo Cheese Tart yang baru saja membuka cabang pertamanya di Jakarta, yakni di pusat perbelanjaan Gandaria City, Jakarta Selatan. Pada hari pembukaannya, antrean pengunjung tampak memenuhi gerai Pablo. Semua tergoda mencoba penganan manis yang sedang naik daun di Asia ini.

Cheese tart atau tart keju merupakan varian dari egg tart yang sebelumnya sudah lebih dulu populer di Indonesia. Egg tart merupakan warisan kuliner Portugis, yakni sejenis kue dengan isian krim custard yang diwadahi kulit pastry ala croissant. Cheese tart lalu menggunakan isian krim keju. Adalah Masamitsu Sakimoto, pria dibalik Pablo Cheese Tart. Tart keju Pablo merupakan buah pemikirannya yang berkeinginan merevolusi penganan cheese cake. Nama Pablo untuk merek tart keju dipilihnya dari pelukis Pablo Picasso yang karyanya merevolusi dunia seni lukis. Sakimoto mengatakan, revolusi yang dimaksudnya terwujud tak hanya lewat kejutan di setiap gigitan, tetapi juga dengan tingkat kematangan yang berbeda-beda. Sayangnya, untuk gerai di luar Jepang, hanya tersedia satu tingkat kematangan, yakni medium rare.


Sakimoto mengatakan, di Jepang tart keju memang sedang naik daun. Pablo juga memiliki pesaing dengan produk serupa di Jepang, yakni Bake. Namun, Pablo lah yang lebih dulu menciptakan tart keju. Sakimoto bercerita, ketika mulai menjual tart keju ia hanya mengeluarkan satu macam ukuran. Namun lama kelamaan dia banyak menerima permintaan untuk tart keju dalam ukuran lain. Saat ini, di Jakarta tersedia dua ukuran. Yakni, berdiameter 18 cm dan mini yang pas untuk satu orang. Di Jepang, Sakimoto menjual yang ukuran kecil di toko serba ada Family Mart. Ternyata respons pembeli sangat baik. Tart keju Pablo menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Family Mart. Satu lagi yang menjadi perbedaan Pablo dan Bake, menurut Sakimoto adalah, Pablo memiliki beragam rasa. Di Indonesia setidaknya ada tiga pilihan. Original yang berisi hanya krim keju, lalu Matcha alias teh hijau Jepang, dan cokelat. Ke depannya, Sakimoto akan menambah pilihan rasa termasuk menyediakan tart keju rasa musiman yang khas Indonesia, misalnya rasa buah mangga.

Sepotong tart keju Pablo memang begitu menggoda. Lembutnya keju khas Australia yang menjadi bahan baku utama Pablo akan membuai lidah yang bertemu sesuap potongan tart. Elemen kejutan lalu dihadirkan lewat tambahan moci dan kacang merah dalam tart keju Matcha. Moci pun memberi tambahan tekstur ke sepotong tart yang meleleh di lidah. Tart keju Pablo diracik ala minute sehingga akan tersaji hangat. Jika anda ingin membawanya pulang, anda bisa menyimpannya terlebih dulu di kulkas demi merasakan tart keju yang sedikit lebih keras saat dingin. Isian tart yang sangat lembut juga bisa dinikmati bak es krim jika anda menyimpannya di dalam freezer.


Kelembutan kue keju Jepang memang sudah beberapa saat terakhir ini menjadi keriuhan di dunia kuliner. Lupakan kue keju atau cheese cake ala barat yang memiliki tekstur agak berat dengan lapisan remahan krakers di bagian bawahnya. Kue keju Jepang begitu ringan, menyerupai bolu namun lebih lembut. Kelembutannya biasa didapat dari teknik mengocok putih telur terlebih dahulu baru mencampurnya ke adonan. Setelah cheese cake, kini publik lebih menikmati tren kuliner terbaru Jepang, yakni cheese tart. Pablo sengaja membuat dapurnya berkonsep terbuka. Di sini pengunjung bisa melihat ribuan tart keju diracik. Mulai dari melihat pegawai meratakan isian keju ke wadah pastry, lalu membalurnya dengan lapisan sirup di bagian atas. Tak lupa cap merek Pablo disematkan ke atas tart baru kemudian dipanggang. Meski dibuat langsung di dapur Jakarta, Sakimoto memastikan rasanya sama persis dengan yang tersaji di Jepang.

Secangkir kopi tanpa gula agaknya menjadi teman terbaik menikmati potongan tart keju ini. Meski Pablo tidak terlalu manis, tetapi minuman tanpa gula dirasa paling pas. Anda bisa memilih kopi dingin atau panas. Pablo juga menyediakan di gerainya yang terletak di Upper Ground Floor Gandaria City. Sepotong tart mini Pablo harganya Rp 35 ribu. Sedangkan, untuk cheese tart original harganya Rp 169 ribu. Bagi tart berukuran diameter 18 cm dengan rasa Matcha, cokelat, dan premium harganya Rp 189 ribu. Sakimoto meyakini publik Indonesia akan dengan mudah menerima tart keju Jepang. Alasannya mau membawa produknya masuk ke Jakarta, karena ia yakin Indonesia sangat siap menerima budaya kuliner Jepang.

KULINER : LOKAL DELI, Masakan Khas Indonesia Dengan Bahan Organik.

KULINER : LOKAL DELI, Masakan Khas Indonesia Dengan Bahan Organik.


Nasi uduk, nasi kuning, dan varian nasi lainnya, merupakan makanan yang sudah tidak asing lagi di lidah masyarakat Indonesia. Makanan ini memang sangat murah dan mudah ditemui di beberapa tempat, terutama di pasar atau pinggiran kota. Namun, di balik itu masyarakat tentu tidak tahu, apakah bahan-bahan yang dipakai mereka benar-benar sehat atau tidak. Melihat situasi yang ada, Ein Halid mencoba membuka restoran kecil, Lokal Deli. Restoran yang berada di Como Park, Kemang Timur, Jakarta ini menyediakan makanan Indonesia sehari-hari namun disajikan tanpa MSG dan bahan pengawet.

Restoran yang mengedepankan makanan organik memang bukan pertama kalinya di Indonesia. Sudah banyak restoran dengan tema ini muncul di masyarakat. Apalagi, saat ini masyarakat tengah menggandrungi makanan organik yang jelas sehat bagi tubuh. Namun, bagi Ein, Lokal Deli merupakan restoran kecil organik pertamanya. Untuk bahan makanan dan minuman, Ein menggunakan seratus persen bahan dari Indonesia. Ein tak berkeinginan mengambil bahan makanan luar mengingat kulinernya lebih pada keindonesiaan. Bahkan, di restorannya ini, pengunjung bisa menikmati kue jajanan pasar seperti onde-onde yang dijamin kesehatannya. 


Di restoran yang tidak terlalu luas ini, Ein menyediakan sejumlah resep Indonesia yang harganya mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 50 ribu. Beberapa menu kuliner yang ia tawarkan, antara lain nasi ayam asap jeruk, nasi lidah asap keju, nasi sapi asap sambal ijo, dan nasi panggang lemon. Semua makanan tersebut tidak dimasak di dapur restoran, tetapi sudah dipersiapkan sedari pagi. Tujuannya, agar lebih sederhana dan tidak membuat pembeli menunggu lama. Konsep ini juga untuk menghindari konsumsi makanan yang tak terjual selama berhari-hari. Saat ada pemesanan, Ein hanya perlu menghangatkan dan ini tak menghilangkan cita rasa alami makanan. 

KULINER : MARKOBAR JAKARTA, Martabak Dengan Varian 8 Rasa Yang Menjadi Andalan.

KULINER : MARKOBAR JAKARTA, Martabak Dengan Varian 8 Rasa Yang Menjadi Andalan.


Nama Markobar kini tak asing lagi sejak masyarakat tahu ada nama Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo, di balik usaha martabak manis ini. Bermula dari Solo, kini Markobar telah membuka cabang di Jakarta, tepatnya di Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Cabang pertama di Jakarta ini menempel dengan Restoran Sere Manis, di mana pemiliknya memang menawarkan lahan kosong di samping restorannya untuk ditempati Markobar. Markobar sendiri sebelumnya memang berniat melebarkan sayap ke Jakarta, Itu sebabnya, tahun 2015 Markobar sempat mengikuti dua kali pameran makanan di Kelapa Gading, yaitu saat Ramadhan dan di bulan November 2015 silam. Ternyata, warga Jakarta sangat antusias dengan martabak Markobar.

Saat pameran itulah, pemilik restoran Sere Manis menawarkan kerja sama, yang langsung disambut baik oleh Gibran dan Arif, pemilik Markobar lainnya. Jadilah Markobar membuka cabang di Jakarta, di bulan Desember 2015. Meski demikian, pada awal Markobar Cikini dibuka, belum banyak orang Jakarta yang tahu. Namun, tak butuh waktu lama untuk mendatangkan pembeli, karena usaha ini juga berpromosi lewat Facebook, Twitter, dan Instagram. Tak hanya itu, menu Markobar juga sudah ada di Go Food. Tak heran, kini antrean pembeli nyaris selalu membludak. Padahal, pemesanan sengaja dibuka setengah jam lebih awal dari jam buka pukul 17.00, untuk menghindari tumpukan pesanan. Namun, tetap saja antrean mengular. Pukul 16.30 begitu pemesanan dibuka, antrean sudah cukup panjang. Apalagi satu orang bisa memesan 5-10 loyang. Untuk di cabang lainnya, Markobar sudah mulai buka pukul 12.00. Hanya cabang di Jakarta saja yang buka pukul 17.00 dan tutup pukul 23.00.


Soal model, martabak Markobar di semua cabang sama, kecuali cabang pertama di Lapangan Kota Barat, Solo, yang masih menjual martabak konvensional alias martabak lipat. Selain di sana, semua cabang Markobar menjual martabak model piza yang terbuka. Sedangkan untuk varian, selain varian satu macam rasa, Markobar menyediakan varian empat rasa dan delapan rasa. Varian delapan rasa terdiri dari rasa Ceres, keju, Delfi, Cadbury, Silver Queen, KitKat, Nutella, dan Toblerone. Namun, pembeli juga boleh mengganti rasa sesuai keinginannya. Varian empat dan delapan rasa inilah yang menjadi favorit pembeli Markobar. Selain itu Markobar juga telah me-launching varian 16 rasa. Harga martabaknya sendiri dimulai dari Rp 40.000 sampai Rp 90.000, untuk varian delapan rasa. Semuanya dalam satu ukuran loyang, yaitu 22 cm untuk konsumsi 2-3 orang. Untuk penambahan topping tertentu dikenai tambahan biaya Rp 10.000 untuk topping green tea atau Ovomaltine, dan Rp 15.000 untuk Tim Tam Red Velvet. Sementara untuk varian 16 rasa, harganya Rp 150.000 dengan ukuran loyang 33 cm. Namun, sebetulnya harga di tiap kota berbeda-beda, tergantung biaya operasionalnya.

Markobar sendiri bermula dari usaha martabak di sentra kuliner kaki lima Lapangan Kota Barat, Solo, yang didirikan Budi, pria asal Solo pada 1996. Pada awal 2015, usaha ini diteruskan anak Budi, Arif Setyobudi, yang kemudian mengganti semua varian rasa dan mencetuskan varian delapan rasa. Saat di tangan Arif inilah, Gibran mengajaknya berkolaborasi membuat usaha martabak Markobar dengan konsep yang lebih modern. Berawal dari Markobar dengan konsep kafe di samping Solo Grand Mall, Markobar yang manajemennya ditangani Gibran dan Arif membuka cabang di dalam Mal Solo Square. Setelah itu, Markobar merambah ke Yogya, Semarang, dan Jakarta dengan beberapa di antaranya berkonsep kafe. Dan dalam waku dekat, Markobar juga akan membuka cabang di Surabaya dan Manado.


Kecuali cabang di Lapangan Kota Barat, Solo, manajemennya langsung ditangani oleh Gibran dan Arif. Jumlah pegawai untuk seluruh cabang lebih dari 60 orang, 13 orang di antaranya untuk cabang di Jakarta. Dengan jumlah pegawai ini, Markobar Jakarta sanggup melayani 200-250 loyang per hari pada hari biasa dan 300-350 loyang di akhir pekan.

KULINER : CHE.CO CAFE & RESTO, Kafe Penuh Suasana Cinta Untuk Kalangan Mahasiswa.

KULINER : CHE.CO CAFE & RESTO, Kafe Penuh Suasana Cinta Untuk Kalangan Mahasiswa.



Bagi anda yang berada di kawasan Jatinangor, Jawa Barat, sepertinya mengenal betul Che.Co Café yang lokasinya berada di Jalan Raya Jatinangor No 83. Kafe yang digagas oleh pasangan suami istri Yari dan Yenny Purandita ini berdiri sejak tahun 2005. Che.Co Café merupakan singkatan dari Cherry Corner. Ini bisa disebut sebagai proyek cinta Yari dan Yenny. Yenny berkisah, sewaktu mereka masih pacaran, ia punya nama kesayangan Cher yang artinya sayang dalam bahasa Prancis. Dan supaya lebih gampang disebut, jadilah Cherry. Karena itulah, nama kafe yang ia buat pun terinspirasi dari nama panggilannya itu, Cherry Corner. Namun banyak pelanggan yang juga suka menyebutnya Checo. Maka sampai hari ini, kafenya dikenal dengan nama Che.Co.

Sejak berdiri, Yenny dan Yari memiliki konsep Fusion, Passion and Fashionable yang terus update sehingga pelanggan tak mudah bosan. Fusion mewakili menu-menu makanan oriental, Indonesia, dan western, sedangkan passion itu karena mereka melayani dengan hati dan cinta, dan fashionable itu sebagai tanda untuk update tren kuliner. Desain interior pun dibuat agar pelanggan merasa betah. Suasana homy dan nyaman, jadi seperti rumah kedua. Berada di Jatinangor dan dekat dengan banyak kampus membuat pelanggan kafe ini dari kalangan mahasiswa. Beroperasi setiap hari sejak pukul 09.00 pagi hingga pukul 02.00 dini hari, Che.Co memang selalu ramai oleh pengunjung. Pelanggan Che.Co kebanyakan memang mahasiswa, tapi keluarga juga banyak yang datang untuk menikmati kebersamaan. Soal harga menu, di sini memang sangat terjangkau dan masuk kantong mahasiswa.


Menurut Yenny, Che.Co yang memiliki banyak pelanggan anak-anak muda memang harus lebih dinamis dan menawarkan keunggulan dibanding kafe lain. Biasanya, kafenya juga ikut merayakan momen-momen seperti Valentine’s Day. Biasanya, di momen seperti itu pelanggan Che.Co akan ditemani live acoustic band dengan lagu-lagu romantis untuk membuat suasana makin hidup. Perempuan kelahiran 11 Maret 1982 ini menambahkan, banyak pengalaman unik dan cerita-cerita penuh cinta dari pelanggan kafenya. Mulai dari pelanggan yang membuat surprise party, candle light dinner, ataupun lainnya. Yang jelas, menurut ibu dua anak ini, kafenya selalu siap untuk membantu kebutuhan pelanggan. Tidak heran, Yenny mengaku sering sekali mendengar banyak pasangan yang jadian di kafenya, kemudian pacaran, sampai foto prewed pun dilakukan dikafe ini. Ada juga yang sudah menikah dan kemudian pindah kota. Dan saat datang ke Bandung lagi, pasti menyempatkan untuk datang ke Che.Co sekedar bernostalgia. Bagi Yenny, hal-hal seperti itu sama sekali tak mengherankan. Karena kafenya dibuat sebagai proyek cinya, maka atmosfir dan jiwa cintanya pun sangat terasa.

Suasana kafe yang mampu membangun kesan romantis, biasanya semakin terasa di malam hari, seperti hadirnya nyala lilin dan di dalam ruangan hanya dinyalakan lampu utama sehingga terasa temaram, didukung pula dengan lagu-lagu cinta. Untuk melengkapi ambience yang penuh cinta, menu yang dihadirkan pun tak kalah menggiurkan. Best seller-nya adalah chocolava dan creamy chicken nest. Sementara menu favorit yang juga banyak dipesan adalah chicken sacheur n beef of zurichoise. Menu tersebut menjadi signature Che.Co. Tapi agar pelanggan tidak bosan, biasanya ada menu baru karena Che.Co terus update dengan dunia kuliner.


Menempati lahan seluas 400 meter persegi dengan dua area, smoking dan no smoking, serta berkapasitas 120 orang, membuat kafe ini terus didatangi pelanggan. Banyak kejutan yang ditawarkan Che.Co agar pelanggan betah berlama-lama menghabiskan waktu bersama orang terkasih.




KULINER  : THE BILITON - SURABAYA, Bersantap Dalam Bangunan Tempo Dulu.

KULINER : THE BILITON - SURABAYA, Bersantap Dalam Bangunan Tempo Dulu.



Datang ke salah satu resto di jantung kota Surabaya ini tak sekedar suasana romantis saja yang dirasakan, tetapi kita seolah hadir dalam suasana tempo dulu. Arsitektur bangunan kuno dipadu dengan tata letak ruangan sekaligus penataan cahaya yang apik membuat suasana terasa syahdu. The Biliton, sebuah resto yang terletak di Jl. Biliton, Surabaya, memiliki dua bangunan. Bangunan utama ada di sebelah kanan, dan di sebelah kiri berdiri bangunan tambahan selebar sekitar lima meter memanjang ke belakang. Dari sisi arsitektur, bagian bangunan utama terasa sekali berkarakter bangunan tempo dulu.

Bangunan yang ditempati The Biliton merupakan peninggalan zaman Belanda. Layaknya bangunan tempo dulu, bentuknya sederhana, hanya bangunan persegi empat dengan teras depan dan samping yang dibatasi oleh tembok dengan tinggi sekitar 75 cm. Sementara teras bagian depan dan samping juga dikelilingi jendela kaca tembus pandang berukuran besar khas rumah kuno. Bangunan The Biliton ini juga masuk kategori cagar budaya sehingga harus dijaga kelestariannya, tidak boleh diubah atau dipugar kecuali direstorasi. Menurut sejarah, dulunya di bangunan ini merupakan rumah orang Belanda yang pada masa itu biasa digunakan untuk mengadakan perjamuan.


Begitu masuk pintu bangunan utama, mata akan disuguhi interior berdesain Eropa dan Asia. Pencahayaan yang redup dimaksudkan untuk menambah suasana romantis, sementara masing-masing meja yang didominasi warna cokelat tua diberi candle light. Sebagian besar dinding ditempeli ornamen-ornamen tiga dimensi yang dibingkai dalam sebuah pigura. Sedang dinding sebelah kiri ditempeli ornamen bergambar laci yang ditata secara acak. Di bagian depan pintu masuk terdapat satu sekat dengan foto kuno berukuran besar yang ditempel di dinding, menggambarkan Jl. Biliton tempo dulu. Kendati The Biliton merupakan bangunan kuno berciri Eropa, tetapi beberapa sudut sengaja diberi sentuhan desain masa kini. Salah satunya adalah keberadaan kaca cermin yang ditempel di beberapa sudut dinding.

Tak hanya soal arsitektur dan tata letak, pelayanan juga memberi ciri tersendiri. Pada siang hari, The Biliton didominasi jenis makanan Asia, sementara pada malam hari, selain Asia juga ada menu-menu khas Eropa. Ada satu menu bernama Vodka Agrio yang memiliki kekhasan dalam ritual cara menikmatinya. Makanan ini sejenis pasta, ada spageti atau fetucini yang bisa dipadu dengan sosis, chicken atau beef. Yang menarik, sebelum menikmati Vodka Agrio, di sekitar topping disiram dengan Vodka kemudian oleh waiters disulut dengan api hingga menghasilkan api berwarna biru dan aroma tersendiri. Jadi, ketika orang datang ke resto ini, tidak hanya lidah saja yang dimanjakan, tetapi mata juga akan melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan. Demikian pula hidung, akan merasakan aroma yang berbeda.


Sementara bangunan tambahan di sebelah kiri dijadikan lounge room. Desainnya sendiri masuk dalam kategori rastic elegance atau dalam bahasa awamnya jorok tetapi rapi. Misalnya, meja yang karatan tetapi ditata denga rapi dan bersih. Sedang kesan elegance dibentuk dari tata cahaya temaram. Yang kerap datang ke lounge room ini biasanya dari kalangan sosialita. Sambil mengobrol, para sosialita itu biasanya sambil menikmati live music. Sementara resto di bangunan utama, biasanya pelanggan datang untuk makan siang, makan malam, serta sebagian ibu-ibu kumpul mengadakan pertemuan.

Menurut owner The Biliton, Lucky Hasmoro, ia berusaha keras membuat image bahwa The Biliton kelak akan menjadi salah satu resto ikonik di kota Surabaya. Karena dari sisi lokasi yang strategis ditambah bangunan yang masuk dalam kategori heritage, diyakininya akan menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Hasmoro pun saat ini sudah memasarkan restonya ke berbagai daerah dengan menggandeng tour and travel.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia