Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label COMMUNITY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label COMMUNITY. Tampilkan semua postingan
KOMUNITAS STELLAR WOMEN, MENDORONG KAUM PEREMPUAN UNTUK MENGEJAR MIMPINYA.

KOMUNITAS STELLAR WOMEN, MENDORONG KAUM PEREMPUAN UNTUK MENGEJAR MIMPINYA.


Apakah anda punya mimpi dan sampai sekarang masih memendamnya ? Memang yang kita tahu mengejar mimpi itu tak selamanya mudah, baik di bidang karier maupun usaha. Apalagi bagi kaum perempuan. Suka tidak suka, di negara kita masih berkembang budaya patriarki yang selalu menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki. Seolah kaum perempuan hanya boleh mengurusi urusan rumah saja.

Tapi beruntungnya, belakangan ini gerakan yang menuntut kesetaraan gender kian marak. Sekaligus mendorong kaum perempuan untuk bisa mengejar mimpinya lebih kencang. Jadi, seharusnya perempuan jangan lagi merasa tidak percaya diri atau merasa bersalah kalau harus bersaing dengan kaum laki-laki. Perempuan juga berhak menunjukkan kemampuan yang dimiliki yang patut dibanggakan.

Atas dasar itulah, Samira Shihab memutuskan mendirikan komunitas yang dinamakan Stellar Women. Samira mengingingkan, komunitas yang dibentuk pada 2019 itu bisa menjadi wadah untuk perempuan yang ingin mengejar mimpinya. Mereka akan mendapatkan support system, baik secara moril mau pun hard skill untuk meraih impiannya itu. Stellar Women terdiri dari perempuan-perempuan yang saling bekerja sama, mendukung, dan menginspirasi satu sama lain.

Menurut Samira, untuk mencapai impiannya, perempuan membutuhkan sosok yang bisa menginspirasi, sehingga bisa memicu semangatnya untuk sampai pada titik tertinggi dalam karier maupun usahanya. Oleh karena itu, di komunitasnya yang sudah memiliki anggota 25 orang ini, ia sering mengadakan workshop tentang kepemimpinan perempuan.

Dalam workshop tersebut, biasanya Stellar Women akan mengundang pembicara yang ahli di bidangnya. Seperti pebisnis perempuan, pemimpin perempuan, hingga tokoh publik. Dengan begitu, para perempuan jadi mendapat sudut pandang baru dan motivasi untuk bisa meraih sukses. Dengan cara itu pula, Shamira yakin kalau perempuan jadi tidak ragu lagi dengan kemampuannya, terutama saat dipilih menjadi pemimpin.

Shamira juga mengatakan, sifat perempuan yang pada dasarnya tangguh membuat mereka tidak mudah digoyahkan dalam setiap ujian. Mereka bisa menangani situasi di dalam krisis, lebih cair dalam berkomunikasi, memiliki empati lebih, dan bisa menyeimbangkan antara kehidupan pribadinya dengan pekerjaan. Dari situlah, mereka bisa menghasilkan keputusan yang bagus, baik untuk perusahaan maupun organisasi.


KOMUNITAS LIFE WITH LESS, MENGAJAK MENCINTAI GAYA HIDUP MINIMALIS

KOMUNITAS LIFE WITH LESS, MENGAJAK MENCINTAI GAYA HIDUP MINIMALIS


Apakah anda termasuk orang yang suka beli barang tapi ternyata tidak terlalu membutuhkan? Boleh jadi anda termasuk orang yang konsumtif. Dan sudah jelas, menjalani hidup konsumtif seperti itu sangat tidak baik. Karena barang yang sudah terlanjur dibeli, ujungnya akan menjadi sampah saja. Karena keinginan untuk menghibahkan ke orang lain juga tidak ada. Tapi sayangnya, biar pun begitu ternyata banyak orang yang susah melepas budaya itu. Gaya hidup konsumtif masih sering kita temui di tengah-tengah masyarakat.

Atas dasar itulah, seorang wanita bernama Cynthia Lestari merasa terpanggil untuk menyebarkan edukasi seputar gaya hidup konsumtif dengan mendirikan komunitas Lyfe With Less. Komunitas yang dibentuk tahun 2018 ini memang bertujuan mengajak orang untuk meninggalkan gaya hidup konsumtif, dan beralih dengan mencintai gaya hidup minimalis. Esensi dari gaya hidup minimalis adalah cukup, pilah, dan sadar. Cukup dalam artian tidak berlebihan. Sesuai kebutuhan dan bisa dimanfaatkan.

Ajakan komunitas Lyfe With Less untuk menerapkan gaya hidup minimalis ternyata tidak sulit untuk dipraktekkan. Karena semua bisa dimulai dengan menerapkan decluttering barang di rumah. Decluttering adalah kegiatan mengurangi barang-barang yang tidak dibutuhkan yang masih tersimpan di dalam rumah. Sesama anggota komunitas pun akan saling mengingatkan soal ini melalui akun sosial media, salah satunya di Instagram @lyfewithless.

Hingga saat ini, mereka memang masih dalam tahap mengajak dan mengedukasi masyarakat melalui media sosial dengan memperkenalkan tagar #PakaiSampaiHabis dan #BijakBerkonsumsi. Dan rupanya, kerja keras Cynthia mengajarkan gaya hidup minimalis melalui komunitas Lyfewithless pun mulai menunjukkan keberhasilan. Setelah tiga tahun berjalan, komunitas yang dibentuknya sudah memiliki anggota sekitar 18.000-an orang yang berasal dari seluruh Indonesia.

Karena ingin menyebarkan manfaat hidup minimalis seluas mungkin, sehingga untuk bergabung ke dalam komunitas Lyfe With Less pun juga tidak perlu susah payah. Tinggal follow akun Instagram @lyfewithless dan mengikuti podcast-nya saja. Mereka sering mengadakan diskusi di grup Instagram atau menghadirkan IG live bersama berbagai praktisi dari banyak perspektif.

TIPS GAYA HIDUP MINIMALIS YANG BISA DITERAPKAN :

1. Catat dan rencanakan dengan matang sebelum membeli sesuatu. Belilah karena butuh, dan sesuaikan dengan preferensi anda.

2. Tanamkan kebiasaan berhemat.

3. Pindai setiap barang di rumah dan mulailah decluttering.

4. Kelilingi diri anda dengan barang-barang yang bermanfaat, dan eliminasi barang yang sudah tidak dimanfaatkan. Bisa dijual, didonasikan, atau diberikan kepada saudara dan teman.

5. Selain terhadap barang, kita juga bisa melakukan decluttering event atau acara apa saja yang mau kita datangi, berdasarkan prioritas.

6. Kalau biasanya kita "asal diajak ayo saja", sekarang kita harus pintar-pintar memilih berdasarkan prioritas dan urgency mana yang patut didatangi dan tidak.

7. Cobalah isi dompet digital anda hanya pada saat mau memesan saja, dengan nominal yang pas. Agar tidak ada keinginan menghabiskan sisa uang di dompet digital.

8. Selalu mengingatkan diri agar harus berhemat. Karena kita tidak tahu perekonomian ke depannya akan seperti apa. Dan berusahalan menjadi konsumen yang bijak agar bisa bertahan di masa-masa sulit.



KOMUNITAS : ALPAS.ID, EDUKASI KESEHATAN MENTAL DAN JADI TEMAN CURHAT

KOMUNITAS : ALPAS.ID, EDUKASI KESEHATAN MENTAL DAN JADI TEMAN CURHAT

Berdasarkan riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dijelaskan bahwa ada 1 miliar orang yang hidup dengan gangguan kesehatan mental. Bahkan, WHO juga mengungkapkan setiap 40 detik ada satu orang meninggal karena bunuh diri. Fakta itu tentu sangat mengkhawatirkan. Lantas, bagaimana caranya kita merawat dan menjaga kesehatan mental agar tidak sampai mengalami gangguan atau depresi ? Sementara informasi seputar kesehatan mental itu sendiri jarang yang bisa dipercaya.

Atas kondisi itulah, 4 sahabat yang terdiri dari Olphi Disya Arinda, Nathania Kusuma, Fathin Nibras, dan Lavinia Celina, membentuk Alpas.id. Komunitas yang didirikan pada Januari 2019 ini bertujuan untuk memberikan edukasi soal kesehatan mental dari para ahlinya. Kebetulan, tiga dari mereka adalah lulusan psikologi, sehingga dirasa bisa memberikan edukasi yang sesuai dengan apa yang sudah mereka pelajari. 

Dengan menghadirkan tenaga ahli, diharapkan akan banyak orang yang jadi terbantu sehingga bisa terhindarkan dari depresi. Pasalnya, memang tak semua orang punya teman curhat yang membuat mereka nyaman untuk bertukar kisah.

Lantas, apa saja yang telah dilakukan komunitas yang jumlah anggota internalnya sudah mencapai 40 orang ini ? Setelah berjalan beberapa bulan, Alpas tak hanya mengedukasi soal kesehatan mental lewat media sosial saja, tapi juga secara langsung. Mereka meluncurkan inovasi peer consulting secara gratis, sebagai teman masyarakat yang ingin curhat. Caranya, tinggal buka aplikasi Line, dan sampaikan ke akun Alpas.id.

Tak hanya konsultasi secara online saja, Alpas juga rutin mengadakan pertemuan untuk membahas beragam masalah kesehatan mental bersama para ahlinya. Biasanya kegiatan itu dilakukan sebulan sekali. Dalam kesempatan itu mereka akan membahas topik-topik yang sangat related dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Selain melalui Line, kalau anda ingin curhat atau tertarik bergabung dengan komunitas Alpas.id, anda juga bisa langsung KImengunjungi akun instagramnya.


KOMUNITAS OASE, Membangun Kebersamaan Antar Orangtua dan Anak Homeschooling.

KOMUNITAS OASE, Membangun Kebersamaan Antar Orangtua dan Anak Homeschooling.


Menyekolahkan anak dengan sistem homeschooling memang pilihan, yang tentu sudah dipikirkan secara matang oleh orangtua ketika mengambil keputusan tersebut. Menurut Mira Julia, pendiri Komunitas Oase, setiap anak memiliki keunikan dan minat sendiri-sendiri. Namun, masa depan anak mau dicapai lewat jalan mana, hal itu terserah keluarga. Homeschooling memang mengasyikkan. Namun, apakah cara ini dianggap lebih baik dibanding sekolah konvensional atau tidak, itu sepenuhnya tergantung dari visi misi, karakteristik, dan harapan masing-masing keluarga. Bahkan, ketika sudah memutuskan memilih jalur homeschooling pun, tak jarang orangtua masih merasakan adanya beban. Berbeda dengan anak-anaknya, yang justru sangat senang karena mereka jadi punya banyak teman.

Penyebabnya antara lain bisa kurang percaya diri lantaran anaknya tidak menempuh pendidikan di sekolah konvensional seperti anak lain, dan masih awam tentang konsep homeschooling sehingga butuh tempat bertanya dan curhat. Karena beragam alasan itulah, Mira bersama kedua temannya yang ia kenal di dunia maya, Mella Fitriansyah, dan Wiwiet Mardiati lalu serius mendirikan Komunitas Oase pada Januari 2011. Komunitas Oase lebih ditujukan untuk para orangtua, meski anak-anak mereka juga punya kegiatan bersama yang diadakan komunitas.


Menurut Mira, setelah tidak menyekolahkan anak di sekolah konvensional, orangtua harus tetap percaya diri. Oleh karena itu, mereka perlu saling menguatkan dan butuh orangtua lain untuk diskusi maupun sekadar mengobrol. Sebab, mereka tergolong minoritas, sehingga perlu didukung. Terkadang, saudara atau tetangga mereka ada yang bertanya atau berkomentar negatif tentang homeschooling. Belum lagi, saat anaknya ujian, mereka juga perlu berdiskusi atau bertanya pada orangtua lainnya. Mira sendiri mengaku selama 15 tahun anaknya menjalankan homeschooling, komentar negatif yang diterimanya tak sampai lima persen. Lantaran rumah ketiganya terbilang tidak terlalu jauh, Mira, Mella, dan Wiwiet bersama keluarga lalu membuat kegiatan bersama. Saat itu, anak-anak mereka yang seluruhnya berjumlah enam orang masih usia TK-SD, sehingga kegiatan yang diadakan pun yang sifatnya eksploratif. Misalnya, percobaan sains sederhana, memasak bersama, dan field trip.

Kegiatan-kegiatan mereka yang seru rupanya membuat banyak orangtua yang anaknya juga homeschooling, tertarik untuk bergabung, meski sebenarnya, ketiga sekawan ini tidak pernah secara khusus mengundang. Karena menurut Mira, Komunitas Oase bukanlah event organizer yang sengaja membuat acara dengan tujuan mencari keuntungan. Mereka lebih mengutamakan keakraban hubungan di antara anggota yang aktif. Sejak awal, mereka tidak mau menerima orang yang hanya menitipkan anaknya dan tidak mau terlibat dalam kegiatan. Karena di Komunitas Oase kegiatan yang diadakan untuk anak dan orangtua. Jadi, semuanya harus berkontribusi. Orangtua terlibat langsung sebagai penanggung jawab setiap kegiatan, dengan memegang motto tumbuh bersama.


Manfaat keberadaan Komunitas Oase sangat dirasakan para anggota. Tak sedikit anggota yang sebelumnya suaminya tidak setuju anak istrinya ikut kegiatan Komunitas Oase, kini sang suami malah ikut aktif di Komunitas Oase. Orangtua yang sebelumnya galau karena anaknya ikut homeschooling, setelah bergabung dengan Komunitas Oase galaunya jadi hilang dan jadi percaya diri. Bagi anak-anak sendiri, selain bisa pintar, mereka juga bisa saling bertukar pengalaman, bertukar buku, mengatur waktu belajar sendiri, dan berkegiatan bersama dengan sesama anggota. Anak-anak Komunitas Oase banyak yang berkomentar seru soal ujian atau tugas yang mereka dapatkan. Mereka memang jadi semakin antusias belajar.

Belum lagi, dengan bergabung di Komunitas Oase, anak jadi memiliki "orangtua" lebih dari sepasang, lantaran akrabnya hubungan yang terjalin satu sama lain. Karena bila sedang kumpul atau membuat kegiatan, biasanya memang untuk anak dan orangtua. Mereka pun bisa sangat dekat dengan orangtua dari anak lain, sekaligus dengan orangtua sendiri. Bagi para orangtua pun rasanya seperti memiliki banyak anak. Di komunitas ini, anak dan orangtua sama-sama belajar tentang berbagai hal dalam sebuah tim. Makin lama, jumlah keluarga yang bergabung dalam Komunitas Oase pun makin banyak. Anak-anak yang ketika bergabung dengan Komunitas Oase masih terbilang muda, terus mengikuti kegiatan komunitas ini meski umurnya sudah bertambah.


Alhasil, Komunitas Oase memiliki anggota mulai dari bayi sampai mahasiswa, karena orangtuanya tetap aktif di komunitas tersebut. Kegiatan yang diadakan pun makin beragam. Agar lebih teratur, kini Komunitas Oase memiliki jadwal kegiatan yang terbagi per empat bulan sekali yang dibuat berdasarkan project based. Untuk remaja, kegiatannya antara lain Pramuka, eksplorasi yang biasanya berupa traveling. Sedangkan untuk anak yang usianya lebih muda antara lain futsal, field trip, multilateral, belajar coding, dan lainnya. Kini tak kurang ada 30 keluarga yang aktif dalam beragam kegiatan Komunitas Oase, termasuk rutin datang ke pertemuan Komunitas Oase yang diadakan setiap minggu. Bahkan, ketika Komunitas Oase mengadakan acara besar, anggota dari luar kota pun biasanya ikut bergabung.

Supaya murah, setiap kegiatan yang membutuhkan dana seperti memasak atau field trip, misalnya, dibiayai secara patungan. Acara patungan juga berlaku untuk kegiatan tertentu yang membutuhkan pelatih dan sewa tempat, misalnya futsal. Namun, kalau bisa difasilitasi sendiri, kegiatannya gratis. Orangtua juga bisa mengajar, tapi tidak dibayar. Sebagai gantinya, anaknya bisa ikut kegiatan lain tertentu secara gratis. Yang jelas, orangtua yang mengajar tidak boleh merasa rugi. Di Komunitas Oase sendiri, anak yang memiliki minat tertentu, misalnya, bisa melakukan kegiatan bersama dengan anak lain yang juga berminat di bidang tersebut. Nah, lantaran kerap berkumpul itulah, para anggota akhirnya tumbuh bersama. Komunitas ini pun kemudian berevolusi menjadi klub keluarga.


Mira menjelaskan, sebetulnya banyak orang yang ingin bergabung dengan Komunitas Oase, baik dari dalam maupun luar kota. Tapi ia mendorong agar mereka bisa mendirikan grup sendiri yang kegiatannya berdasarkan minat atau umur yang sama, sehingga keterikatannya lebih kuat. Sebab, Komunitas Oase pun sangat mengutamakan bonding antar anggotanya. Di sisi lain, meski kerap berkegiatan bersama, anggota tidak ditarik iuran keanggotaan. Menurut Mira, semua anggota sangat antusias setiap Komunitas Oase mengadakan kegiatan. Tak heran, baru dua jam diumumkan, pendaftaran untuk 500 orang bisa langsung ditutup karena peserta sudah langsung penuh. Sebagai gambaran, Mira mengatakan, anggota Komunitas Oase pernah traveling bersama selama seminggu lebih dengan peserta 40 orang. Lalu untuk kemping, pesertanya bisa sampai ratusan orang. Dan bila bergabung dengan komunitas homeschooling lain, bisa sampai 500 orang. 








HEALTH & LIFESTYLE : TRIATHLON, Menggabungkan Tiga Cabang Olahraga Dalam Satu Perlombaan.

HEALTH & LIFESTYLE : TRIATHLON, Menggabungkan Tiga Cabang Olahraga Dalam Satu Perlombaan.


Mengayuh sepeda, berlari, atau berenang adalah olahraga populer. Mudah dan banyak orang yang melakukannya. Namun, saat menggabungkan ketiganya, banyak orang berpikir berulang kali. Triatlon, merupakan kompetisi olahraga yang menggabungkan tiga cabang olahraga, renang, sepeda, dan lari yang diadakan sekaligus. Keberadaan triatlon memang belum cukup familier di telinga masyarakat Indonesia, bahkan Chaidir Akbar, sebagai ketua komunitas Triathlon Buddies mengaku, baru mengenal ajang ini pada Januari 2012 melalui mulut temannya yang dulu berkuliah di luar negeri.

Awalnya, Chaidir hanya sekedar menggeluti olahraha bersepeda. Tapi ketika temannya memperkenalkan triatlon, dia mulai tertarik. Semenjak itu, dia dan beberapa temannya mencoba berlatih, termasuk memberanikan diri memperdalam renang yang awalnya tidak bisa dia lakukan. Warga Petukangan, Jakarta Selatan ini mengaku, berlatih bersama-sama menjadi kunci utama untuk dia mengenal olahraga asing ini. Sebab, dia sama sekali belum ada bayangan bagaimana cara melakukan tiga olahraga dalam satu acara perlombaan.


Setelah berjalan dan berlatih bersama, kesempatan pertama kali Chaidir mencoba Bintan Triathlon. Ajang yang dulu lebih didominasi peserta dari negara tetangga. Setelah langkah awal itu, Chaidir menginisiasi membuat komunitas Triathlon Buddies pada 2013 dan menggelar perhelatan triatlon di Jakarta khusus untuk pemula. Hingga saat ini, event itu sudah digelar selama lima kali dan menjaring 500 orang pemula untuk mencoba tantangan dari gabungan tiga olahraga. Tapi, medan renang masih diadakan di kolam renang.

Chaidir sendiri sudah 28 kali mengikuti kegiatan triatlon di dalam ataupun luar negeri. Acara yang paling berkesan bagi pria yang bekerja sebagai assistant vice president di PT Bank ICBC NISP Tbk ini adalah event Ironman yang menjadi lintasan terpanjang di ajang tersebut. Dia mesti berenang menempuh jarak 3,8 km di lautan, mengayuh sepeda 180 km, dan berlari di lintasan hingga 42 km pada 2014. Jarak tempuh tersebut menjadi prestasi bagi setiap pegiat olahraga tersebut, meskipun mereka tidak masuk menjadi juara. Ketika sudah bisa menyelesaikan garis finish, Chaidir merasa begitu bangga karena bisa menaklukkan jarak yang begitu panjang.


Tidak jago dalam bidang renang, sepeda, dan lari bukan berarti tidak bisa menjadi jawara triatlon. Itu yang dirasakan Chaidir. Dengan menggeluti triatlon, dia merasa menemukan kelebihan di masing-masing bidang tanpa perlu benar-benar ahli. Yang diperlukan adalah menyeimbangkan ketiganya. Selain merasakan kesenangan dari mengikuti triatlon, sosok kelahiran 26 Januari 1982 ini pernah mengalami pengalaman sulit terlupakan. Saat mengarungi Selat Madura untuk menyelesaikan lintasan Surabaya-Madura, tanpa disangka dia berhadapan dengan segerombolan ubur-ubur dan tersengat serangan mereka. Seketika, badan Chaidir mati rasa dan tidak bisa melanjutkan perlombaan. Ia harus langsung dibawa ke rumah sakit dan menginap hingga sepuluh hari.

Meski pernah berhadapan dengan pengalaman tidak menyenangkan, Chaidir menolak untuk kapok. Sebab, ia menyebut manfaat kegiatan triatlon lebih besar ketimbang risiko yang sebenarnya bisa dikurangi dengan segala persiapan. Persiapan bisa dilakukan sejak tiga bulan sebelum perlombaan triatlon. Tapi jika ingin mengikuti Ironman persiapan dimulai enam bulan sebelumnya. Hal pertama yang diperlu diperhatikan, mempersiapkan diri dengan kemampuan yang mencukupi dalam tiga cabang olahraga tersebut, termasuk mental berenang di lautan. Latihan kombinasi bisa mencapai 10 jam per hari. Menjelang dua pekan perlombaan perlu ada tapping rest atau jeda istirahat dengan intensitas latihan berkurang. Gunanya, untuk menstabilkan kondisi tubuh dan memperbaiki jaringan yang rusak agar bugar ketika menghadapi lintasan nantinya.


Jika Chaidir sudah bisa menjuluki diri Ironman, Chia Harijanto lebih memilih mencoba lintasan-lintasan triatlon di Indonesia terlebih dahulu. Berawal dari kegemaran berlari, Chia mengaku perlu tantangan baru setelah berhasil mencoba tantangan menaklukkan maraton sepenuhnya. Kemudian, dia diperkenalkan dengan triatlon pada 2014 dengan mengikuti Triathlon Buddies 2nd Anniversary. Setelah itu, dia mencoba triatlon di Sungailiat dan merasakan pengalaman yang berbeda-beda berikutnya.

Pengalaman menjajal beberapa lintasan di Indonesia membuat ibu dua anak ini merasa ingin terus mencoba. Apalagi, setiap lintasan memiliki karakteristik berbeda, seperti perlombaan di Sungaliat yang lebih mudah ketika berenang karena kondisi air yang tenang, tapi sangat sulit untuk bersepeda sebab menjalani lintasan naik turun. Berbeda jika dibandingkan dengan triatlon di Bali atau Pariaman, Sumatra Barat, dengan jalur sepeda lebih mudah meskipun disandingkan medan renang air yang berombak. Tantangan tersebut ingin dia perkenalkan juga pada kedua anaknya, Aksananta Agustiyanto dan Amazanisa Agustiyanto. Chia mengaku, memang memaksa mereka untuk terlibat dalam olahraga, termasuk mencoba triatlon pada usia muda.


Menurut perempuan kelahiran 28 Oktober 1983 ini, kebiasaan melihat ibunya berlatih membuat anak-anaknya merasa tertarik untuk mencoba. Dia pun mendorong lebih keras untuk anaknya merasakan sensasi adrenalin yang tinggi. Anak keduanya yang pertama kali mencoba triatlon, padahal belum bisa berenang ketika mencoba menyelesaikan lintasan di kolam renang. Alhasil, ia mesti menyusuri sisi kolam sampai menangis.

Namun, setelah itu, dia justru ingin mencoba triatlon pada tahun berikutnya dengan syarat harus bisa berenang terlebih dahulu. Kini, dua kakak-beradik itu rajin berlatih dalam klub renang. Tantangan bagi Chia kini adalah menjajal event triatlon di Bintan. Ia juga ingin memperkenalkan medan itu pada kedua anaknya sekaligus. Sebab, acara tersebut juga membuka pendaftaran khusus anak-anak dengan minimal usia depalan tahun yang memang tepat dengan usia mereka.






KOMUNITAS WOMEN ON WHEEL INDONESIA : Sekumpulan Perempuan Di Atas Motor Gede.

KOMUNITAS WOMEN ON WHEEL INDONESIA : Sekumpulan Perempuan Di Atas Motor Gede.


Jika suatu saat anda bertemu dengan serombongan perempuan tengah asyik mengendarai motor gede di jalanan, bisa jadi mereka adalah anggota Komunitas Women On Wheel (WOW) yang tengah melakukan touring. Jangan heran, postur tubuh mereka bolehlah langsing, tapi para perempuan cantik ini terlihat tangguh dan menikmati saat mengendarai motor besar. Meski perempuan sering terlihat kurang patuh berlalu lintas, komunitas ini membuktikan saat touring mereka tetap tertib di jalan. Menurut Inge Widjaja, pendiri WOW Indonesia (WOWI), mereka telah mendapat pelatihan dari instruktur yang bersertifikat, termasuk yang mendapatkan sertifikat dari luar negeri. Pelatihannya antara lain tentang mindset, pengereman, posisi motor saat touring, dan aturan-aturan lain tentang touring.

Inge sendiri mengaku menggemari motor besar setelah "diracuni" para pelanggan yang kerap datang ke Bendigo Motor, toko perlengkapan motor miliknya yang terletak di Serpong, Tangerang. Berawal dari obrolan dengan mereka, akhirnya muncul ide untuk membuat komunitas penggemar motor gede (moge) khusus perempuan. Tak lama berselang setelah ide tersebut muncul, salah seorang pelanggannya memperkenalkan Inge pada Maznah Zolkifli, perempuan asal Malaysia yang tak lain pendiri WOW Asia sekaligus Presiden Kuala Lumpur Bikes Community. Sekadar informasi, WOW sebetulnya pertama kali didirikan di California, Amerika Serikat pada 1982. Komunitas ini didirikan sebagai wadah bagi para rider wanita khusus motor gede. Komunitas ini kemudian menyebar luas ke seluruh dunia, termasuk Asia. WOW Asia didirikan Maznah pada Juli 2010. Inge sendiri lalu kemudian terpikir untuk membentuk WOWI, daripada membuat komunitas sendiri yang gaungnya hanya bersifat lokal.

Satu minggu setelah bertemu Maznah, Inge mendirikan WOWI, tepatnya pada 6 Juli 2012 di Jakarta, sekaligus menjadi ketua umumnya. Indonesia sendiri menjadi negara keempat yang menjadi anggota WOW Asia, setelah Malaysia, Singapura, dan Brunei. Untuk mempekenalkan WOWI, Inge melebarkan sayap ke area selain Jabodetabek. Sekarang, WOWI memiliki 73 anggota di seluruh Indonesia yang terbagi dalam tiga chapter, yaitu Mother Chapter alias Jabodetabek, Bali Chapter, dan West Java (Jawa Barat) Chapter. Namun, Inge menyadari, motor besar di Indonesia masih sedikit jumlah maupun perempuan yang meminatinya. Itu sebabnya, ditetapkan motor berkapasitas mesin mulai 250 cc diperbolehkan ikut dalam komunitas ini.


Inge, yang juga memiliki suami penggemar moge ini menambahkan, kebanyakan motor yang digunakan para anggota WOWI adalah Kawasaki Ninja 250, tapi ada pula yang menggunakan motor Ducati, Kawasaki Ninja 650, Kawasaki Ninja Z1000, BMW R1200 yang pernah digunakan James Bond dalam filmnya, Harley Davidson, dan Honda. Inge sendiri mengendarai BMW F 700 GS. Ditanya mengapa para anggota WOWI menggemari motor besar, Inge menyebutkan penyebabnya, antara lain ketularan suami dan hobi sejak SMA. Para anggota WOWI juga rajin merawat motor mereka ke bengkel dan memandikan motor. Inge bercerita, motornya dengan milik suami saat ini sama, sehingga lebih sering meminta petugas bengkel yang datang ke rumah untuk melakukan perawatan rutin.

Inge, juga para anggota WOWI lainnya, menyadari motor harus rajin dirawat agar tidak mengganggu perjalanan saat touring, seperti mogok, atau lainnya. Dan sebelum melakukan perjalanan jauh, kondisi motor juga harus dicek terlebih dulu. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, saat melakukan touring jarak jauh, biasanya pesertanya tidak semuanya perempuan. Penggemar moge dari komunitas lain yang notabene pria, termasuk suami Inge, biasanya ikut mengawal. WOWI sendiri pernah melakukan touring antara lain ke Puncak, Garut, dan Lombok. Pernah juga, empat anggota WOWI mengikuti touring mewakili Indonesia ke Malaysia. Beberapa anggota lain juga pernah mengikuti touring ke Eropa.

Touring sendiri hanya salah satu dari beberapa kegiatan utama dari komunitas yang menjadikan mantan Wakapolri Nanan Soekarna sebagai pelindung ini. Kegiatan lainnya antara lain kopi darat sebulan sekali mengingat domisili para anggotanya banyak yang berjauhan, bakti sosial, dan kelas safety riding. Bakti sosial biasanya diadakan untuk memperingati Hari Kartini, Hari Ibu, Idul Fitri, maupun bakti sosial dadakan karena terjadi suatu bencana di sebuah tempat. Dukungan dari keluarga, menurut Inge juga sangat penting. Asal anggota bisa membagi waktu dengan baik, punya kegiatan positif, dan keluarga juga tahu kegiatan WOWI, menurut Inge, keluarga pasti akan mendukung. Tak heran, salah satu syarat untuk bisa menjadi anggota WOWI adalah mendapatkan izin tertulis dan tanda tangan bematerai dari suami atau orangtua bagi yang belum menikah. Ini ditujukan agar keluarga tahu betul kegiatan yang dilakukan anggota WOWI.


Syarat lainnya, tentu saja perempuan, serta memiliki dan bisa mengendari motor besar. Kini, anggota termuda WOWI berusia 18 tahun, dan tertua berusia 60-an tahun, yang berasal dari Yogya. Menariknya, profesi para anggotanya sangat beragam, mulai dari mahasiswi, ibu rumah tangga, pengusaha, dokter, bidan, desainer, pemilik salon, pramugari, DJ, yang berkecimpung di dunia teknologi infromasi, sampai sinden. Selain bersenang-senang, ada juga anggota yang memang menjadikan hobi naik motor ini sebagai pekerjaan, yaitu sebagai free styler. Memiliki hobi yang maskulin tak lantas membuat para anggota WOWI tak lagi feminin. Selain tetap berdandan rapi dan cantik, di antara mereka, ada pula yang gemar memasak. Inge sendiri rajin membuat kue. Mereka ingin menunjukkan kesejajaran di mata pria, tanpa melupakan kodrat sebagai wanita untuk patuh pada suami dan orangtua. Di sisi lain, sebagai sebuah komunitas, WOWI juga tak main-main, dengan memiliki AD/ART.

Para pria yang juga menjadi penggemar moge juga tidak merasa tersaingi dengan keberadaan WOWI. Mereka justru senang, karena WOWI dianggap sebagai komunitas yang unik yang ikut mewarnai kegiatan bermotor di Indonesia. Mereka justru kerap minta diajak bila WOWI akan melakukan touring. Menariknya, seperti pada umumnya perempuan yang gemar memberi nama benda kesayangannya, anggota WOWI pun rata-rata memberi nama untuk motor mereka. Namanya banyak yang terdengar lucu. Ada yang diberi nama Blacky karena seluruh bodi motor berwarna hitam, ada yang namanya Pinky, dan lainnya. Motor milik Inge sendiri diberi nama Christo. Karena diberi nama itulah, ia jadi memiliki chemistry dengannya dan jadi rajin merawat.





HOBBY : MELUNCUR DI ATAS PAPAN RODA PINTAR.

HOBBY : MELUNCUR DI ATAS PAPAN RODA PINTAR.


Ada yang menyebut mainan, ada juga yang melihatnya sebagai 'alat transportasi'. Sejenis papan luncur ini sejak tahun 2015 mulai sering terlihat di taman kota, jalan raya, juga di dalam gedung. Bukan hanya orang dewasa yang menggunakannya, anak-anak pun sekarang mulai mencoba ikut merasakan berdiri di atas papan luncur ini. Cukup berdiri di atasnya, kemudian posisikan tubuh dengan kedua kaki berada di atas papan. Kemudian, jaga keseimbangan sebelum meluncur di jalan. Kira-kira begitulah cara memainkan perangkat yang satu ini. Hoverboard, atau di Indonesia sendiri memiliki nama lain, yakni Runwheel, sudah sejak 2014 mulai masuk ke Tanah Air. Kedua nama itu sejatinya adalah merek dagang. Ada berbagai sebutan yang mengacu pada benda yang sama. Self balance scooter, smart balance board, atau smart balance wheel (SBW) alias si papan atau si roda pintar.

Erii Suryanata telah merasakan jatuh bangun belajar menggunakan SBW. Tiga hari ia belajar menguasai perangat beroda itu, karena belum mengetahui tekniknya. Kini, setelah mengetahui teknik yang benar, Erii pun mengedukasi para pemula. Dengan tagline 'Keep Balance and Stay Focus' ia berbagi trik bagaimana bisa mahir menggunakan perangkat itu dalam waktu singkat. Untuk pemula, ia menargetkan bisa menguasai SBW dalam waktu lima sampai 15 menit.

Kunci bermain perangkat ini, menurut Erii, terletak pada diri pemula. Yakni, mengesampingkan rasa takut jatuh ketika akan mencoba berdiri di atas SBW. Ketika sudah berada di atasnya, posisi kaki pun harus menempel pada dinding SBW agar keseimbangan tetap terjaga. Bila perangkat sudah meluncur di jalan, pengguna harus tetap fokus serta menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Sesuai tagline 'Keep Balance and Stay Focus', itu benar-benar harus diterapkan jika tidak ingin terluka saat menggunakan perangkat ini.


Erii mengakui, menguasai perangkat ini tidaklah mudah. Banyak pemula yang mengalami jatuh bangun dan babak belur saat menjajal perangkat ini pertama kali. Bahkan, ada pengguna yang mengalami patah tulang saat tidak bisa menguasai keseimbangan. Menjaga keseimbangan menjadi titik kunci menguasai perangkat ini. Bila tidak memahami teknik, tak ayal kecelakaan pun tak bisa dimungkiri. Edukasi yang salah, cara naik dan turun yang tidak benar, pasti akan terjatuh. Hal ini menjadi alasan Erii membentuk Komunitas Runwheel. Tujuannya untuk memberikan edukasi tentang tata cara bermain SBW yang benar sehingga meminimalkan kecelakaan. 

Meski perangkat ini dianggap berbahaya oleh sebagian besar orang, Erii justru merasa terbantu dengan hadirnya inovasi ini. Ia pernah mengalami kejadian unik bersama Runwheel menembus macet Ibu Kota. Saat itu kondisi macet dari arah Gatot Subroto menuju Semanggi. Karena sedang terburu-buru, ia kemudian terpaksa turun dari taksi dan menggunakan Runwheel berjalan zig-zag di antara barisan mobil-mobil yang terjebak macet. Saat itu banyak orang yang bertepuk tangan kepadanya.

Pengalaman lainnya juga dirasakan oleh anggota Komunitas Runwheel, Indri Nuansa Fitri. Perangkat ini membantu pekerjaannya berpindah satu tempat ke tempat lain. Fitri biasa menggunakan Runwheel ini di kantor, di tempat perbelanjaan, dan keperluan untuk mengambil kebutuhan untuk keperluan customer di toko. Menurut perempuan yang menggunakan jenis Runwheel QX Transformer seharga Rp 6 juta itu, SBW juga dapat melatih konsentrasi dan keseimbangan. Meski sempat jatuh saat awal belajar, ia kini sudah mahir dan sering kali membantu memberikan edukasi kepada masyarakat di komunitasnya.


Lain lagi Jikri Firdaus. Ia tertarik pada perangkat ini lantaran lebih efektif dibawa kemana pun tanpa mengakibatkan polusi. Untuk menguasainya pun, Jikri hanya butuh latihan satu harian penuh. Tetapi, jika ingin dipadukan dengan dance atau freestyle, dia mengaku perlu latihan lebih lama. Di Komunitas Runwheel setiap pertemuan selalu diperlihatkan gaya baru atau freestyle dan biasanya latihannya tidak cukup satu hari, tapi perlu berhari-hari untuk menguasainya. Melawan rasa takut adalah syarat utama saat mencoba perangkat ini. Ketika sudah berdiri di atas papan, sensor otomatis akan bekerja dan yang perlu dilakukan adalah konsentrasi serta menyeimbangkan diri.

Pada Mei 2015, Erii Suryanata selaku ketua Komunitas Runwheel, untuk pertama kalinya diundang salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta untuk mengedukasi cara bermain Runwheel. Sejak tampil di acara tersebut, mulailah tercipta sebuah perkumpulan yang akhirnya membuat sebuah komunitas. Saat ini yang terdaftar sebagai anggota komunitas ini sudah hampir 100 orang, namun yang aktif hanya sekitar 30-an orang, itupun jumlah yang sering kumpul juga berkurang karena kesibukan masing-masing.

Runwheel sendiri berasal dari nama 'kiran', diambil dari kata 'ran' yang diubah menjadi 'run'dan 'wheel' yang berarti roda. Kiran adalah nama anak perempuan Yoppie Sasda, CEO Runwheel Indonesia. Pria asal Padang, Sumatera Barat ini, adalah yang pertama kali membawa masuk SBW ke dalam negeri. Meski bodi Runwheel dibuat dan didistribusikan di Indonesia, ada beberapa komponen yang masih diimpor dari Taiwan, seperti suku cadang dan baterai. Erii menjelaskan, perangkat ini menggunakan baterai lithiumion original Samsung yang mampu bertahan hingga empat jam.


Pemilihan baterai yang buruk menjadi salah satu penyebab perangkat ini dapat meledak seperti kejadian yang sempat ramai diberitakan. Karena itu, banyak maskapai penerbangan yang enggan menerima perangkat tersebut masuk dan dibawa terbang. Baterai tiruan juga hanya mampu bertahan selama dua jam. Meskipun beberapa maskapai di Indonesia sendiri juga enggan membawa perangkat tersebut, Erii menjelaskan bahwa pengguna masih bisa membawa perangkat ini dengan melepas baterainya terlebih dulu. Bodi SBW bisa diletakkan di kabin pesawat, sementara aksesori dan baterai harus masuk ke dalam bagasi bersamaan dengan koper. Hal itu mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, meski kejadian ledakan belum pernah terjadi di Indonesia.

Erii menjabarkan, perawatan perangkat ini terbilang cukup mudah. Anda hanya perlu mengisi daya baterai sesuai dengan prosedur, yakni dua jam tak boleh lebih. Untuk menjaga bodi, Erii menyarankan untuk menggunakan semir yang biasa digunakan untuk memoles bodi motor. Begitu pun untuk menjaga ban, cukup diberi semir hingga kembali kinclong seperti awal. Perawatan yang mudah, dan asal pemakaian baterainya benar, Runwheel bisa awet hingga bertahun-tahun. Harga perangkat ini berkisar dari yang paling murah Rp 5 juta hingga Rp35 juta sebagai produk yang paling mahal. Berbagai hal tentang SBW bisa ditanyakan pada komunitas yang biasa main di pelataran Gelora Bung Karno, Senayan. Mereka juga bisa dijumpai di kawasan Sarinah - Thamrin saat car free day pukul 8 pagi.







KOMUNITAS : KAJIAN HUMAIRA, Sarana Belajar Kaum Muslimah Untuk Lebih Mengenal Islam.

KOMUNITAS : KAJIAN HUMAIRA, Sarana Belajar Kaum Muslimah Untuk Lebih Mengenal Islam.


Awalnya, Kajian Humaira diadakan hanya sebagai cara untuk membuat ramai masjid di sekitar tempat tinggal pengurusnya. Ketua Kajian Humaira, Siti Hariyani, yang akrab disapa Aniek, mengisahkan, dirinya tinggal di daerah Deresan, Yogyakarta. Di kampungnya itu terdapat masjid. Di sana pula Aniek mendirikan rumah tahfidz. Suatu hari, Aniek ingin supaya masjid yang ada di kampungnya itu ramai. Lalu, ia pun membuat acara Tabligh Akbar, yang untungnya waktu itu banyak ibu-ibu tetangga yang mau membantu. Tabligh Akbar yang diadakan sekitar tahun 2009 itu menghadirkan Teh Ninih sebagai pemateri. Selesai acara, Teh Ninih menyarankan supaya acara semacam itu bisa digelar secara rutin. Aniek pun berpikir, rasanya saran itu sangat baik untuk dicoba.

Aniek pun kemudian menanyakan ke ibu-ibu penghuni kompleks, bagaimana kalau acara serupa diadakan lagi, tapi khusus untuk muslimah, karena pengurusnya memang muslimah semuanya. Semuanya pun menyambut dengan antusias. Akhirnya, mereka pun rutin mengadakan Tabligh Akbar sebulan sekali yang dihadiri ribuan muslimah. Saat ini kegiatan rutin yang berlangsung adalah Kajian Rutin setiap minggu, sementara Kajian Akbar digelar sebulan sekali dengan mengundang pembicara dari luar. Untuk Kajian Rutin seminggu sekali, pembicara berasal dari seputar Yogyakarta. Temanya antara lain akhlak, fiqih, akidah, dan tafsir. Jadi, ada 4 ustaz yang rutin mengisi Kajian Rutin.


Di sela-sela Kajian Rutin dan Kajian Akbar, hampir setiap tahun pengurus Kajian Humaira juga membuat semacam garage sale. Barang-barang jamaah yang sudah tidak digunakan dikumpulkan, ditampung, dan kemudian dijual. Hasilnya kemudian disedekahkan lagi untuk kegiatan bakti sosial. Pada setiap acara kajian, pengurus juga menyebar infaq. Semua acara yang diadakan bersifat free, dananya bersumber dari donatur dan infaq. Selain kajian untuk muslimah, Kajian Humaira juga membuat kegiatan untuk anak-anak dan remaja. Untuk anak-anak TK dan SD kegiatannya disebut Ta'lim For Kids dan dilakukan sebulan sekali. Sebetulnya, kegiatan ini serupa kajian, namun dikemas dalam bentuk dongeng. Sementara untuk remaja SMP dan SMA diadakan dua bulan sekali. Para anak-anak itu biasanya akan dikasih celengan untuk dibawa pulang. Lalu, di rumah mereka bisa berlatih bersedekah dengan menabung uang recehannya. Bila celengan itu sudah penuh, bisa diberikan kepada pengurus, dikumpulkan, dan digunakan untuk bakti sosial bersama anak-anak juga.

Sasaran Kajian Humaira memang untuk umum, bukan kajian khusus. Mereka memang mengejar masyarakat yang awam, karena sebetulnya, menurut Aniek masih banyak orang awam yang belum kenal dengan Islam. Jumlah jamaah yang sudah masuk data base kini sudah mencapai ribuan orang. Saking banyaknya jamaah, bahkan bila tidak sengaja bertemu di tempat lain, Aniek suka tidak menyangka kalau orang itu adalah jamaah Humaira. Namun dari situ mereka bisa saling berkenalan. Kajian Humaira memanfaatkan media sosial Facebook (kajianhumaira) dan Instagram (anieksiti) untuk menyebarluaskan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Lalu mereka juga membuat poster. Namun saat ini, untuk memberi informasi kegiatan kepada para jamaah, mereka cukup memanfaatkan data base, dengan mengirim SMS broadcast. Jadi setiap kali para jamaah datang, Kajian Humaira selalu menyiapkan daftar hadir dan jamaah juga diminta untuk mencantumkan nomor telepon. Nomor-nomor yang terkumpul itulah, yang akan mereka hubungi di kegiatan selanjutnya. Menurut Aniek, bahkan jamaah yang datang dari luar kota pun banyak, seperti dari Solo, Klaten, dan Magelang.


Kajian Humaira juga menggelar Muslimah Camp, yaitu menginap di sebuah tempat dan mengadakan kajian serta berbagai kegiatan lain. Muslimah Camp biasanya mengambil tempat di sekitar Yogya, seperti di Kaliurang. Peserta Muslimah Camp memang dibatasi supaya lebih fokus, paling hanya 50 sampai 100 peserta. Sekarang ini, para anggota jamaah Kajian Humaira juga diajari untuk berjualan. Mereka membuat merchandise dakwah untuk dijual, dan hasilnya dipakai untuk sedekah dan mengadakan acara/kegiatan. Jadi mereka tidak semata-mata mengandalkan dana kegiatan dari donatur saja. Merchandise yang dibuat antara lain mug, payung, tas, dan sebagainya. dengan kalimat-kalimat motivasi. Mereka bersyukur, penjualan merchandise tersebut cukup laku. Harganya mulai dari Rp 25.000. Namun, karena kesibukan pengurus, penjualannya hanya dilakukan pada saat acara saja.

Latar belakang pengurus Kajian Humaira beragam, mulai dari pengusaha, karyawan, sampai ibu rumah tangga. Mereka saling berbagi tugas, Aniek misalnya, kebagian mencari pembicara. Kini, Kajian Humaira juga sudah melebarkan sayap ke berbagai kota di sekitar Yogya, salah satunya Solo. Kebetulan, ada satu pengurus yang pindah ke Solo, jadi pengurus tersebut diminta untuk membuat acara serupa di sana. Sebenarnya, menurut Aniek, masih banyak langkah pengembangan yang ingin mereka lakukan, tapi selalu terkendala dengan kesibukan pengurus, sehingga tidak bisa full sepenuhnya mengurus kegiatan Kajian Humaira. Di luar bulan Ramadhan, pada setiap Kajian Rutin juga disediakan menu buka puasa bagi yang melaksanakan puasa sunah Senin-Kamis.






KOMUNITAS : MUSLIMPRENEUR COMMUNITY, Tempat Berkumpulnya Pengusaha Produk Halal.

KOMUNITAS : MUSLIMPRENEUR COMMUNITY, Tempat Berkumpulnya Pengusaha Produk Halal.


Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia memiliki pasar yang sangat besar bagi beragam produk yang sesuai syariah. Namun untuk membangun bisnis atau membesarkan usaha, butuh perhitungan matang. Untuk itulah Mulimpreneur Community (MPC) dibentuk, pada November 2015 sebagai komunitas binaan Muslimarket.com. Komunitas ini hadir sebagai wadah pertemuan para pengusaha atau calon pegusaha produk-produk halal. Mereka dapat saling bertukar pikiran dan menjalin hubungan kerja sama dengan sesama pengusaha. Selain itu fungsi komunitas juga bisa mengajak yang belum punya bisnis untuk berbisnis dan memotivasi mereka.

Mengapa harus berbisnis? Menurut Triana Putri Rahmi, selaku Public Relation and Partnership Executive Muslimarket.com, Nabi Muhammad SAW saja adalah seorang pedagang, lalu mengapa kita sebagai umatnya tidak ikut berdagang? Mengapa harus bekerja dengan orang lain dan tidak membuat bisnis sendiri? Caranya bisa dimulai dengan mengikuti kegiatan rutin yang diadalah sekali dalam sebulan. Dalam acara ini, anggota komunitas yang mayoritas perempuan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan seputar bisnis. Untuk sementara, kegiatan berbagi ilmu ini masih diadakan di Jakarta dengan jumlah peserta maksimal 150 orang, meskipun sebenarnya yang daftar banyak sekali, bahkan sampai 300-400 orang. Namun dengan pertimbangan kapasitas ruangan yang dipakai, maka mau tak mau peserta memang harus dibatasi antara 100 sampai 150 orang saja.


Sejak diadakan pertama kali, MPC selalu menghadirkan pengisi acara yang variatif, ada yang berbisnis makanan, fashion muslim, blogger dan lainnya. Peserta yang datang juga dari berbagai kalangan dengan rentang usia 23-40 tahun. Siapa saja bisa mengikuti dan free. Tema pun juga beragam, salah satunya mengenai fashion muslim. Sebagai contoh, pada talkshow perdana, komunitas ini mengangkat tema "Memulai Bisnis Fesyen di Era Digital". Dalam acara itu dihadirkan pembicara Riel Tasmaya (CEO Muslimarket.com), Jenahara dan Bayi Nurhayati (pemilik Jenahara) dan Haykal Kamil (pemilik BIA by Zaskia Mecca). Selain itu pernah pula mengangkat tema lain, seperti "Dari Hobi Jalan-Jalan Menjadi Bisnis". Pembicaranya Hanum Rais (traveler dan writer), Temi Sumarlin (Editor in Chief Scarf Magazine), dan Sarah Sofyan (enterpreneur dan traveler).

Selain itu MPC juga pernah mengangkat fenomena blogging yang beberapa waktu belakangan ini ternyata dapat memberikan keuntungan finansial. Pada Januari 2016, MPC menghadirkan Fifi Alvianto (blogger dan motion graphic designer), dan Suci Utami (blogger dan pemilik brand SUCH!) untuk berbagi dalam tema "Seni Blogging Mengatasi Kantong Kering". Hal Positif yang didapat anggota, selain mendapat ilmu baru, adalah memperluas jaringan. Karena biasanya, selesai acara mereka saling berkenalan. Tidak jarang mereka bertemu dengan pemilik bisnis lain dan bisa sharing atau bekerja sama. Ke depannya pun, sudah ada beberapa tema talkshow yang tidak kalah menarik. Di antaranya "Kiat Sukses Bisnis Kreatif", "Peluang Bisnis Kuliner Halal", "Beautyholic to be Beautypreneur" dan tema-tema talkshow lainnya.


Komunitas ini sangat terbuka bagi anggota baru. Siapa saja bisa ikut, bahkan yang bukan muslim pun boleh. Asal, mereka memiliki bisnis yang halal. Misalnya, kalau berbisnis makanan adalah makanan yang halal, dan kalau membuat pakaian, harus sesuai dengan aturan agama Islam. Setelah mendaftar, nanti akan ada tim kontrol, yang juga diawasi oleh Dewan Syariah Nasional. Sehingga, jika nantinya ada anggota yang menjual makanan, tim akan melakukan cek apakah makanannya itu halal atau tidak, atau bila membuat pakaian, apakah pakaian itu cocok sesuai dengan syariat Islam atau tidak. 

KOMUNITAS KEMAH KELUARGA INDONESIA : Serunya Kemping Bersama Keluarga Sekaligus Menambah Pertemanan.

KOMUNITAS KEMAH KELUARGA INDONESIA : Serunya Kemping Bersama Keluarga Sekaligus Menambah Pertemanan.


Bosan ke mal atau tempat wisata kala libur tiba? Kemping saja ! Kalau kemping bersama pasangan dan anak-anak masih kurang seru, anda bisa bergabung dengan Komunitas Kemah Keluarga Indonesia (K3I). Jadi, tak perlu khawatir tenda anda akan sendirian di alam terbuka. Merasa kurang seru piknik hanya bersama keluarga ini juga yang pernah dialami Bharata Ceppy Asmara Lubis dan membuatnya lantas mendirikan K3I, tahun 2015. Sejak SMP, Ceppy memang sudah menyukai kegiatan pencinta alam. Saat SMA, bahkan ia pernah menjadi ketua organisasi pencinta alam di sekolah. Lalu waktu kuliah, ia turut mendirikan organisasi pencinta alam di kampus. Naik gunung, arung jeram, dan memanjat tebing menjadi hobinya. Ceppy juga senang mengumpulkan teman-teman untuk kemudian jalan bareng. Sayang, setelah menikah dan memiliki anak, ia tak lagi bisa mengulang hobinya tersebut lantaran sang istri keberatan ia mendaki gunung.

Tak kehabisan akal, Ceppy lalu mengajak istri dan kedua anaknya kemping untuk pertama kalinya pada Desember 2014. Beberapa kali kemping, mereka berpindah-pindah tempat. Namun, Ceppy merasa kurang seru. Mengapa kemah hanya sekeluarga saja ? Mengapa tidak mengumpulkan teman-teman dari keluarga lain yang ditemui di camping ground saat berkemah ? Setidaknya, dari sana bisa saling sharing pengalaman masing-masing. April 2015, Ceppy berinisiatif mengajak keluarga lain untuk ikut kemping dengan mendirikan komunitas Green Mountain Family Camp Community. Sebagai penggiat media sosial, Ceppy lalu membuat akun untuk komunitas itu di Facebook. Pada 3-5 April 2015 itu, komunitas ini mengadakan kemping pertamanya di Cibodas, Jawa Barat dengan peserta sekitar 100 orang. Sejak itu, jumlah anggota komunitas meningkat.


Pada kegiatan kemping kedua yang diadakan di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat, jumlah pesertanya makin banyak. Kemah ketiga diadakan di Bukit Golf, Cibodas, Jawa Barat. Jumlah pesertanya lebih banyak lagi dibanding kemah kedua. Pada ujung 2015, atas hasil kesepakatan dengan anggota komunitas, Ceppy lalu membuat komunitas yang lebih besar lagi dengan peserta dari seluruh Indonesia. Namanya diubah menjadi Komunitas Kemah Keluarga Indonesia, sekaligus membuat situs kemahkeluarga.org. Untuk menjaring lebih banyak anggota, Ceppy mempromosikan komunitasnya lewat media sosial, pertemanan, bahkan membagi-bagikan kartu nama komunitas ke tenda-tenda keluarga lain saat berkemah dan mengundang mereka untuk ikut kegiatan K3I yang sedang berlangsung di tempat kemah tersebut. Ibaratnya, Ceppy berusaha 'meracuni' mereka agar mau bergabung dalam komunitasnya.

Alhasil, ketika Desember 2015 silam K3I mengadakan kemping keempat di Bukit Golf Cibodas, acara ini diikuti oleh sekitar 150 keluarga dengan jumlah peserta 450-500 orang. Ada pula yang mengajak kakek dan nenek mereka. Untuk lokasi kemping, biasanya K3I memilih area yang memiliki sungai kecil yang airnya tenang dan tidak dalam, ada tanah lapang, pohon, pemandangan gunung. Satu lagi yang wajib adalah udaranya dingin sehingga peserta tidak akan kegerahan di dalam tenda. Kegiatannya bukan hanya sekedar mendirikan tenda lalu sibuk sendiri-sendiri. Meski banyak yang tak saling kenal, para peserta bisa akrab dan bahkan ketagihan ikut kemping. Sebab, para panitia yang jumlahnya sekitar 20 orang punya sederet acara yang sungguh sayang untuk dilewatkan.


Antara lain, fun games, ice breaking untuk mengakrabkan para peserta, lintas alam, seminar parenting, story telling, permainan tradisional untuk anak-anak yang selama ini sudah banyak dilupakan, lomba memasak untuk keluarga, dan lainnya. Semua kegiatan tersebut, tentu saja akan membuat para peserta punya pengalaman yang sangat berkesan dan tak sabar menunggu acara kemping berikutnya. Apalagi, untuk kegiatan yang berlangsung selama 3 hari 2 malam ini, peserta hanya diminta membayar Rp 80.000 per orang. Biaya ini meliputi biaya kemah selama acara, toilet, api unggun, dan jagung bakar saat api unggun, serta permainan. Sementara, perlengkapan seperti tenda, sleeping bag, makan, peralatan masak, dan lainnya, menjadi tanggung jawab masing-masing.

Kalaupun peserta tidak punya tenda, panitia bisa membantu menyediakannya dengan biaya murah, sekitar Rp 75.000 per malam untuk kapasitas empat orang. Menyewa sleeping bag juga bisa. Jadi, untuk kegiatan seperti story telling, seminar parenting, dan lainnya gratis. Padahal, kalau kita ikut seminar parenting yang diadakan di berbagai tempat, biayanya bisa ratusan ribu rupiah. Lalu, bagaimana bisa gratis ? Ceppy bercerita, bahwa member K3I berasal dari beragam kalangan dan profesi. Ada yang menjadi story teller, pembicara di seminar parenting, dan lainnya. Momen inilah yang dimanfaatkan untuk berbagi ilmu itu secara gratis. Ditambahkan Ceppy, setiap kemping juga selalu ada dokter yang stand by, yang juga merupakan anggota K3I sekaligus peserta kemping. Sementara Ceppy sendiri bertanggung jawab untuk urusan fun games saat acara berlangsung.


Permainan untuk orangtua yang dilakukan antara lain ice breaking, jump in jump out, polisi mengejar pencuri, melatih kekompakan, dan lainnya. Sementara, untuk anak-anak antara lain permainan dampu, tapak gunung, egrang kaleng, dan sebagainya. Antara peserta satu sama lain tidak saling kenal, jadi adanya permainan tersebut sebagai upaya bagaimana bisa mencairkan suasana yang kaku menjadi hangat. Ibu-ibu, misalnya, bisa memasak beramai-ramai di tenda besar yang memang disiapkan sebagai dapur umum. Mereka bisa membawa kompor, meja, dan peralatan masak lainnya ke tenda ini. K3I, menurut Ceppy, juga mengajarkan setiap anggota keluarga yang ikut untuk bekerja sama menjalankan kegiatan selama berkemah. Kalau sehari-hari biasanya orangtua sibuk bekerja, saat kemping mereka bisa menjadi tim yang luar biasa kompak dan memiliki quality time dengan anak, misalnya saat memasak, mencuci piring, mengambil air di sungai, dan lainnya. Anak yang sehari-hari mainnya ke mal atau bermain gawai, bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda. Bahkan, kata Ceppy, sampai pernah ada anak yang tidak mau pulang karena menikmati kemping.

Ayah dua anak yang bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan multinasional di Tangerang Selatan ini menambahkan, selama ini banyak orang berlibur dengan menghabiskan biaya mahal hingga Rp 500.000 per orang ketika kemping. Sementara K3I menawarkan kemping dengan biaya yang terjangkau. Para peserta kemping berasal dari semua kalangan, baik kalangan bawah, menengah, sampai atas. K3I memiliki dua jenis kegiatan, yaitu big event yang merupakan kemping skala besar yang dilangsungkan setiap pertengahan dan akhir tahun, dan Kopdar Kemah Keluarga Bulanan. Acara big event diadakan oleh K3I pusat, sedangkan acara kopi darat yang biasanya diadakan pada akhir pekan pertama setelah gajian bisa diadakan baik oleh pusat maupun region (tingkat provinsi), dan chapter (tingkat kota/kabupaten). Saat ini, K3I tersebar di berbagai daerah, antara lain Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Jawa Barat, Kalimantan, dan lainnya.


Kini anggota K3I sudah lebih dari 500 keluarga. Untuk menjadi anggota K3I sangat mudah. Yang penting adalah hobi kemah dan ingin menambah pertemanan. Tidak punya tenda pun tidak apa-apa, karena bisa menyewa. Pendaftaran jadi anggota juga gratis. Saat kemah berlangsung, kalau ada yang mau menyumbang makanan pun, dipersilahkan saja. Ceppy bercerita, kalau dulu orang kemping membawa tas ransel besar di punggung, sekarang keluarga yang berkemah menggunakan cara yang berbeda. Mereka membawa kontainer plastik yang berisi makanan, piring, dan peralatan makan lainnya. Tinggal diangkut dan dimasukkan ke mobil. Lebih praktis. Selanjutnya tinggal dibuat acara kemping yang senyaman mungkin. Yang penting, semua anggota keluarga bisa menikmati.

Untuk peserta, diharapkan juga membawa obat-obatan pribadi agar selama kemping kesehatannya tetap terjaga, meski ada dokter saat acara dan rumah sakit tak terlalu jauh dari lokasi. Untuk perlengkapan, tak sedikit peserta yang membawa meja dan kursi lipat untuk makan. Ingin membuat puding pun boleh. Mau masak apa saja silahkan. Ceppy menambahkan, kalau kemah bersama keluarga wajib membawa kompor portable. Dari K3I sendiri ada susunan acara selama kegiatan. Yang jelas, berupaya agar quality time antara orangtua dan anak makin banyak. Untuk kegiatan yang butuh tempat besar seperti sholat atau kehujanan saat acara, panitia menyediakan tenda pleton. 

SEDEKAH BARENG MEDAN : Bersedekah Dengan Enjoy.

SEDEKAH BARENG MEDAN : Bersedekah Dengan Enjoy.


Sedekah Bareng Medan dibentuk oleh Abdini Maliana Timor dengan tujuan untuk membahagiakan banyak orang sekaligus menanamkan kebiasaan bersedekah. Sedekah Bareng juga tidak hanya untuk yatim piatu, tapi mencakup semuanya, dari kaum dhuafa, anak yatim, sedekah pembangunan rumah ibadah, dan sebagainya. Ada banyak cerita yang mengubah cara pandang Dini dan menuntunnya mendirikan Sedekah Bareng. Selain rasa jenuh karena harus menjalani kehidupan yang itu-itu saja, Dini juga pernah mengalami kejadian yang sangat membekas dan memberikannya inspirasi. Dulu, Dini adalah anak band yang pekerjaannya menyanyi, nge-rap, masuk dari satu studio ke studio yang lain, tampil dari satu panggung ke panggung yang lain. Kini, penampilannya berubah 180 derajat.

Tepatnya sekitar tahun 2013, Dini terserang maag akut. Rasa sakit yang ia alami membuatnya takut akan kematian. Ia lalu berusaha mem-flashback perjalanan hidupnya. Ia mengingat-ingat kembali hal-hal yang sudah dilakukannya, dan seberapa banyak perbuatan baik dan buruk yang sudah dilakukannya. Sampai akhirnya, Dini menyadari betapa banyak waktu yang telah ia sia-siakan. Padahal, Tuhan telah memberi banyak kesenangan pada dirinya. Pemikiran ini muncul saat ia meminta dibelikan pizza kala sakit. Dini langsung merenung, betapa mudahnya ia mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan. Tinggal bilang saja, dan dalam sekejap permintaannya akan terkabul.

Lalu Dini mencoba membandingkan nasibnya dengan orang lain yang kurang beruntung. Mereka harus bekerja keras dahulu baru bisa mendapatkan apa yang mereka mau, itu pun belum tentu dapat. Dari situ, Dini pun kemudian memohon kepada Allah supaya diberi kesehatan sekali lagi. Dalam hati ia berdoa, meminta agar Allah tidak mengambil nyawanya. Ada banyak hal yang ingin ia lakukan dan ia bertekad untuk berubah.

Tuhan ternyata mengabulkan doa Dini. Setelah sembuh, Dini langsung melaksanakan nazarnya. Ia berpikir untuk melakukan hal-hal yang tidak sulit. Dan terpikirlah olehnya untuk bersedekah. Meskipun dulunya ia tergolong 'anak maen', namun bersedekah merupakan hal baik yang sering dilakukannya. Sudah menjadi kebiasaannya, bila mendapatkan rezeki pasti akan ia bagi-bagikan ke orang, meskipun kadang jumlahnya tak banyak. Dini yang kini tampil berhijab mengaku, sering bersedekah karena ia bisa melihat kebahagiaan langsung dari orang-orang yang menerima pemberiannya, meskipun jumlahnya tak seberapa. Dan rasa bahagia juga ia rasakan saat pemberiannya dibalas dengan doa.


Dari situ, ibu dari Azucena Lakeisha Davdee ini, mulai bepikir alangkah baiknya jika sedekah ini bisa dilakukan bersama-sama, dengan banyak orang, sehingga akan ada banyak orang yang merasakan apa yang ia rasakan. Dari situlah, munculnya ide Sedekah Bareng ini. Menurut Dini, selama ada niat tulus, tak ada kata sulit untuk memulai sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dini memanfaatkan jejaring sosial seperti BBM, Facebook, Twitter, Instagram, Path, Line, dan Whatsapp untuk mengajak orang bersedekah. Dini memilih menggunakan jejaring sosial karena lebih efisien, praktis, dan tak memerlukan dana untuk menginformasikan sesuatu kepada banyak orang. Dini yakin ada lebih dari 90 persen orang yang sekarang ini menggunakan ponsel. Begitu juga yang menggunakan media sosial untuk berkomunikasi, baik itu lewat Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, dan yang lainnya.

Kegiatan pertama Sedekah Bareng digelar 2 Februari 2013 berupa "Ngebakso Bareng Dengan Anak Yatim". Waktu itu, cerita Dini, ia tiba-tiba kepikiran anak-anak yatim di panti asuhan. Kalau mereka sakit lalu ingin makan sesuatu, kepada siapa mereka meminta?. Entah kenapa, Dini langsung kepingin mengajak mereka makan, sekalian mengajak teman-teman untuk belajar bersedekah. Dan sepertinya, mengajak anak-anak yatim untuk makan bakso cukup seru. Lewat media sosial, Dini pun mengajak teman-temannya menyisihkan uang saku agar bisa makan bakso bersama anak-anak yatim. Saat itu, secara spontan ia membuat status di BBM, "Ngebakso Bareng Anak Yatim, Yang Minat Ping Me'. Ia juga membicarakan pada suaminya, David Aprianto, ada atau tidak yang mau ikut, ia dan suami tetap akan menyiapkan dana untuk membuat acara ini.

Dan ternyata, respons teman-temannya cukup baik. Banyak yang mau ikut makan bakso bersama anak-anak yatim. Total dana yang terkumpul waktu itu Rp 3.750.000. Dengan dana itu, ia kemudian mengajak anak-anak yatim untuk makan bakso di kawasan Ringroad Medan. Selain itu juga memberikan bingkisan berupa barang-barang yang mereka butuhkan. Dini juga tergerak mendirikan Sedekah Bareng karena ia merasa bahwa setiap orang yang memberikan santunan ke anak yatim biasanya dalam bentuk nasi kotak atau amplop, padahal mereka juga butuh hal-hal lain seperti merasakan makanan tertentu atau hiburan.

Keberhasilan kegiatan "Ngebakso Bareng Dengan Anak Yatim" inilah yang akhirnya memotivasi Dini untuk lebih bersemangat membuat kegiatan-kegiatan sosial lain. Sebagai orang yang pernah terjun di bidang entertainment, Dini juga cukup piawai mengadakan kegiatan amal yang bisa menarik minat banyak orang. Bersama tim, Ia menawarkan konsep bersedekah yang enjoy, tidak monoton, dan tidak memberatkan. Karena namanya sedekah, tentu tidak ada patokannya. Sedekah tidak melulu harus harta atau uang, tapi juga bisa sedekah waktu, tenaga, dan hal-hal lain yang bermanfaat.


Agar lebih menarik, mereka membuat cara bersedekah dengan konsep kreatif yang melibatkan para Sedekaholic (sebutan untuk para donatur), langsung pada setiap kegiatan. Istilahnya mereka semua adalah tim, sehingga bisa melihat dan merasakan langsung kegembiraan dan kebahagiaan orang-orang yang mereka bantu. Intinya tetap bersedekah, hanya saja agar lebih menarik, kegiatan tersebut diseusaikan dengan momen dan dirangkai dengan aneka games, kuis, dan tentu saja akan ada paket bingkisan yang akan dibawa pulang. Dengan melibatkan Sedekaholic secara langsung, Dini juga tak perlu lagi bersusah payah membentuk tim. Tak perlu harus perintah ini-itu. Masing-masing mereka sudah tahu tugas dan kewajibannya. Meskipun si A sudah menyumbang uang sekian, namun jika ada satu posisi yang kekurangan tenaga, maka akan ada orang lain yang siap membantu dalam tim.

Kreativitas Sedekah Bareng bukan hanya karena melibatkan para Sedekaholic, namun juga disesuaikan dengan momen. Saat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, misalnya, tim Sedekah Bareng membuat kegiatan "Sedekah Bareng Veteran". Di bulan Ramadhan, tim Sedekah Bareng menggelar acara "Buka Bareng Yatim, Dhuafa, dan Disabilitas". Selain itu, kegiatan Sedekah Bareng juga disesuaikan dengan impian dan keinginan banyak orang. Mungkin bagi sebagian orang, makan pizza, makan durian, ataupun makan di restoran mahal itu sesuatu yang biasa. Tapi bagi mereka yang tak mampu, bisa jadi itu cuma impian saja. Oleh karena itu tim Sedekah Bareng berusaha mewujudkan impian mereka. Dengan harapan, akan muncul impian baru di hati mereka, dan impian itu juga bisa terwujud kembali. 

Diungkapkan Dini, kegiatan Sedekah Bareng tak hanya terfokus pada pemberian santunan berupa materi namun juga memberikan pemahaman tentang kesadaran beragama dan berakhlak. Oleh karena itu, Sedekah Bareng juga menggelar kegiatan "Ngaji Bareng". Kegiatan ini ditujukan untuk para remaja yang masih butuh bimbingan, anak-anak jalanan, dan mereka-mereka yang banyak menghabiskan waktunya di tempat-tempat hiburan. Untuk kegiatan ini dikumpulkan minimal seratus orang di satu kafe yang paling banyak dikunjungi. Semuanya gratis, syaratnya peserta harus membawa Al-Quran. Tujuannya, agar yang mengikuti kegiatan tahu bahwa apa yang nantinya dibicarakan atau ditanyakan dalam pengajian tersebut panduannya adalah Al-Quran.

Karena memang tidak ada ikatan khusus, para Sedekaholic yang bergabung di Sedekah Bareng sering berubah-ubah. Saat ini, ada beberapa program rutin yang diselenggarakan, antara lain "Sedekah Bareng Kondangan", yang kegiatannya adalah mengunjungi rumah para pejabat. Tim Sedekah Bareng mengajak anak yatim, kaum dhuafa, para penyandang cacat, dan disabilitas, untuk berkunjung ke rumah gubernur, kapolda, walikota, dan pejabat tinggi lainnya. Boleh dibilang, semua kegiatan Sedekah Bareng selalu berjalan sukses, bahkan sudah banyak lembaga sosial yang ingin bergabung. Namun, Dini belum berani mengambil keputusan. Menurutnya, lebih baik Sedekah Bareng tetap kecil namun bisa istiqomah. Begitupun tidak semua kegiatannya selalu dinilai baik oleh orang. Kadang-kadang ada satu dua orang yang suka jahil memberikan komentar-komentar pedas. Namun oleh Dini itu tak dianggap sebagai halangan. Sebaliknya itu justru dijadikan masukan berharga bagi dirinya. Dengan belajar mengikhlaskan diri pada semua yang diberikan Tuhan, Dini yakin kita akan bisa menyelesaikan masalah. Ia bisa mengatakan seperti ini karena sudah merasakan keajaiban dari sedekah. Maka, jika ada yang berkomentar macam-macam, nantinya tentu ada jawabannya langsung yang datang dari Tuhan.



HOBI : Sport Stacking, Bermain Adu Cepat Menyusun Gelas.

HOBI : Sport Stacking, Bermain Adu Cepat Menyusun Gelas.


Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta, Aji Galuh Rakasiwi, memiliki kewajiban untuk mencari pengetahuan tentang permainan-permainan kecil. Pada 2009, ia lantas mengikuti seminar yang dibawakan oleh pembicara asal Singapura. Dari sana, Aji lantas berkenalan dengan permainan susun menyusun gelas dengan cepat atau yang dikenal dengan nama sport stacking. Aji mengaku, ketika pertama kali melihat permainan tersebut, ia langsung terpikat meski sempat bertanya-tanya, bagaimana cara menyusun gelas seperti yang diperagakan. Rasa penasarannya membuat ia tertarik untuk mengetahui lebih dalam. Dari seminar itu, kemudian dilakukan seleksi untuk mengajarkan sport stacking ke sekolah-sekolah di Jakarta dan Surabaya. Aji lolos dan mendapat pelatihan untuk menjadi pengajar.

Namun setelah itu, menurut Aji, tak semua alumni seminar tersebut menekuni sport stacking. Sementara Aji memilih untuk tenggelam lebih dalam dan memilih sport stacking sebagai tema skripsinya. Dalam proses penelitian, ia kembali melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah. Kali ini, ia berusaha memperluas jangkauan. Dari sebelumnya hanya mengenalkan sport stacking ke murid tingkat sekolah dasar, ia kemudian mengenalkannya pula hingga murid tingkat sekolah menengah atas. Dari pengamatannya, Aji melihat sport stacking cukup banyak. Tercetuslah di benak pria ini keinginan untuk membuat komunitas. Hasilnya, pada pertengahan 2010, berdirilah komunitas Indonesia Sport Stacking.


Aji mengaku, bermain sport stacking bisa disebut susah-susah gampang. Sekilas tampak permainan ini sekadar susun-menyusun gelas. Namun, kata Aji, diperlukan beberapa teknik agar bisa menyusun gelas dengan kecepatan tinggi. Seorang pemain pemula akan dilatih untuk bisa membuat tumpukan paling dasar dari kombinasi sembilan gelas. Pemain diminta untuk membuat tiga bentuk piramida dengan masing-masing tiga gelas. Permainan itu biasa disebut 3-3-3. Jika sudah mahir, pemain akan menghadapi tantangan yang lebih sulit, yakni membangun tiga piramida dengan formasi 3-6-3. Pada tahap itu, jumlah gelas sudah menjadi 12 buah atau sesuai standar yang ditetapkan. Selanjutnya, pemain dilatih kembali untuk bisa melakukan Cycle Stack. Itu adalah kombinasi yang dimulai dengan membangun piramida 3-6-3 lalu dibentuk menjadi 6-6, kemudian menjadi 1-10-1, dan kembali menjadi 3-6-3. Bagi seorang ahli, tak perlu waktu lama untuk membangun susunan itu. Aji mengatakan, pemegang rekor dunia bisa membuat seluruh rangkaian Cycle Stack hanya dalam waktu lima detik.

Aji mengaku, anak-anak kecil cenderung memiliki motorik yang masih bagus. Keterampilan bermain sport stacking pun cenderung lebih baik dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itu, dalam kejuaraan sport stacking biasanya dibagi dalam beberapa tingkatan umur. Tujuan mendasar permainan sport stacking adalah mencatatkan waktu secepat mungkin. Teknik khusus diperlukan lebih pada cara mengambil dan menyusun gelas. Sasarannya, yakni gelas bisa tersusun dengan cepat dan efisien. Aji mencontohkan, untuk bentuk piramida enam jika harus mengambil gelas satu per satu akan memakan waktu lama. Jadi bisa dilakukan dengan tangan kanan memegang tiga gelas, tangan kiri juga memegang tiga gelas. Faktor kerapihan juga menjadi hal penting. Aji mengatakan, jika gelas tidak tersusun rapi kemungkinan besar tumpukan akan jatuh.


Untuk mempelajari sport stacking, menurut Aji, tidak diperlukan waktu lama. Ia menyebut, dalam hitungan jam, seseorang sudah bisa mahir dalam menyusun gelas-gelas itu. Seiring berjalannya waktu, kecepatan bisa semakin meningkat. Dalam komunitas Indonesia Sport Stacking, dikembangkan pula teknik-teknik yang melibatkan unsur warna dan atraksi atau teknik freestyle. Jadi, agar bisa lebih menarik, pemain bisa melempar-lempar gelas ke udara.

Untuk bermain sport stacking juga diperlukan gelas khusus. Gelas itu memiliki lubang di bagian dasarnya yang digunakan sebagai jalur udara keluar. Gelas pun didesain bertulang agar tidak menempel dengan gelas lain. Aji mengaku, hal ini penting agar pemain bisa mengambil jumlah gelas sesuai yang diinginkan. Sisi luar gelas dibuat kasar agar tidak licin ketika dipegang. Sementara di bagian dalam gelas, dibuat halus untuk bisa mempercepat proses merapihkan kembali gelas atau downstacking. Saat ini gelas untuk permainan sport stacking sudah bisa dibeli secara daring. Untuk produk lokal, harganya Rp 170 ribu untuk satu set berisi 12 gelas. Sementara untuk gelas resmi yang digunakan dalam kejuaraan, satu set dibanderol dengan harga mulai Rp 320 ribu hingga Rp 520 ribu,


Regulasi permainan sport stacking diatur oleh organisasi World Sport Stacking Association (WSSA), yang berpusat di Amerika Serikat. Pada 2015, WSSA Indonesia terbentuk untuk menjadi kepanjangan tangan organisasi, sekaligus mempopulerkan kegiatan sport stacking. WSSA pun rutin menggelar kejuaraan tingkat dunia dan regional. Direktur WSSA Indonesia, Emiliana, mengaku Indonesia turut aktif dalam berbagai kejuaraan sport stacking, baik tingkat Asia maupun dunia. Pada November mendatang, Indonesia pun mengirimkan dua tim untuk ikut bertanding dalam kompetisi tingkat Asia di Korea Selatan.

Emiliana mengatakan, sport stacking adalah kegiatan yang bermanfaat untuk meningkatkan koordinasi mata dan tangan. Kegiatan ini juga bisa melatih kecepatan dan konsentrasi. Dalam permainan ini, pemain dituntut untuk bisa menyeimbangkan keterampilan tubuh bagian kanan dan kiri juga. Ada tiga kategori jumlah peserta dalam bermain sport stacking, yakni individual, ganda, dan tim. Dalam kategori ganda bisa dilakukan antar teman, bisa juga dilakukan antara orang tua dan anak. Hal ini yang membuat sport stacking menjadi spesial, karena bisa ikut meningkatkan ikatan anak dan orang tua dalam berkegiatan bersama. Manfaat bermain sport stacking bisa dirasakan banyak kalangan. Ini karena hampir tak ada batasan umur untuk bermain. Anak usia tiga tahun hingga usia berapa pun bisa ikut bermain.




ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia