Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label CHARITY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CHARITY. Tampilkan semua postingan
FOODBOX, Solidaritas Sosial Untuk Dhuafa.

FOODBOX, Solidaritas Sosial Untuk Dhuafa.


Sejak pertama kali diluncurkan pada 22 November 2016, FoodBOX terus menggulirkan kebaikan bagi pada dhuafa. Berkat program ini, para dhuafa yang hidup serba kekurangan dapat menikmati makan dan minum tanpa harus membayar sepeser pun alias gratis. Berawal dari satu lokasi, kini program yang dimotori oleh Sekolah Relawan ini telah berkembang dan hadir di tiga lokasi, yakni di Masjid Al Muthmainah (Depok), Masjid Cinere (Depok), dan Masjid Raya Bogor.

FoodBOX hadir setiap hari selama 24 jam. FoodBOX secara khusus ditargetkan bisa dikonsumsi gratis oleh kaum dhuafa, fakir miskin, anak yatim, musafir, atau orang yang sedang berpuasa. Karena itu, orang-orang yang tidak termasuk golongan tersebut diharap tidak tergoda untuk menikmati, tapi sebaliknya ikut mendonasikan uang atau makanan. Kehadiran FoodBOX ini justru bisa membuka kesempatan kepada siapa saja untuk berdonasi.

Donasi dapat diberikan dalam bentuk uang ataupun makanan, yang bisa disalurkan ke Sekolah Relawan atau relawan FoodBOX. Sehari-harinya, setiap FoodBOX akan menyediakan sekitar 100 porsi makanan. Kini, karena FoodBOX hadir di tiga lokasi, paket makanan yang disediakan pun bertambah menjadi 300 porsi.


Ahmad Bayu Gawtama, pendiri Sekolah Relawan sekaligus inisiator FoodBOX bercerita tentang awal mula dibuatnya program mulia ini. Hal itu bermula ketika suatu kali Gaw, sapaan akrabnya, pernah melihat seorang jamaah sholat Jumat di salah satu masjid di Jakarta yang tampak lapar dan tak punya ongkos untuk pulang. Saat itu ia berpikir, bisakah memanfaatkan sedikit uang kas masjid untuk menolong jamaah tersebut. Pengalaman itulah yang melatarbelakangi munculnya program FoodBOX, yang memiliki misi sosial ini. Menurut Gaw, Sekolah Relawan ingin masjid bukan sekedar jadi tempat ibadah, melainkan juga memiliki fungsi sosial yang kuat.

Tak hanya membantu memenuhi kebutuhan makan para dhuafa, fakir miskin, dan musafir saja, kehadiran FoodBOX juga dapat membuat jamaah masjid semakin bertambah. Setidaknya hal itulah yang dirasakan salah seorang petugas keamanan Masjid Al Muthmainah, Ahmda. Menurutnya, sejak kehadiran kotak kecil bertingkat dua dengan dominasi warna hijau tersebut, ia melihat banyak wajah baru yang hadir dan beribadah di masjid tersebut.

Menu makanan FoodBOX boleh jadi bukan tergolong makanan mewah, tetapi bisa dibilang cukup lezat dan bergizi. Menu yang wajib ada di setiap FoodBOX, di antaranya nasi, ayam, dan tambahan lauk, seperti tahu atau tempe. Selain itu, FoodBOX juga menyediakan minuman hangat, seperti teh dan kopi, lengkap dengan gula dan air panas dari termos.



SEDEKAH BARENG MEDAN : Bersedekah Dengan Enjoy.

SEDEKAH BARENG MEDAN : Bersedekah Dengan Enjoy.


Sedekah Bareng Medan dibentuk oleh Abdini Maliana Timor dengan tujuan untuk membahagiakan banyak orang sekaligus menanamkan kebiasaan bersedekah. Sedekah Bareng juga tidak hanya untuk yatim piatu, tapi mencakup semuanya, dari kaum dhuafa, anak yatim, sedekah pembangunan rumah ibadah, dan sebagainya. Ada banyak cerita yang mengubah cara pandang Dini dan menuntunnya mendirikan Sedekah Bareng. Selain rasa jenuh karena harus menjalani kehidupan yang itu-itu saja, Dini juga pernah mengalami kejadian yang sangat membekas dan memberikannya inspirasi. Dulu, Dini adalah anak band yang pekerjaannya menyanyi, nge-rap, masuk dari satu studio ke studio yang lain, tampil dari satu panggung ke panggung yang lain. Kini, penampilannya berubah 180 derajat.

Tepatnya sekitar tahun 2013, Dini terserang maag akut. Rasa sakit yang ia alami membuatnya takut akan kematian. Ia lalu berusaha mem-flashback perjalanan hidupnya. Ia mengingat-ingat kembali hal-hal yang sudah dilakukannya, dan seberapa banyak perbuatan baik dan buruk yang sudah dilakukannya. Sampai akhirnya, Dini menyadari betapa banyak waktu yang telah ia sia-siakan. Padahal, Tuhan telah memberi banyak kesenangan pada dirinya. Pemikiran ini muncul saat ia meminta dibelikan pizza kala sakit. Dini langsung merenung, betapa mudahnya ia mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan. Tinggal bilang saja, dan dalam sekejap permintaannya akan terkabul.

Lalu Dini mencoba membandingkan nasibnya dengan orang lain yang kurang beruntung. Mereka harus bekerja keras dahulu baru bisa mendapatkan apa yang mereka mau, itu pun belum tentu dapat. Dari situ, Dini pun kemudian memohon kepada Allah supaya diberi kesehatan sekali lagi. Dalam hati ia berdoa, meminta agar Allah tidak mengambil nyawanya. Ada banyak hal yang ingin ia lakukan dan ia bertekad untuk berubah.

Tuhan ternyata mengabulkan doa Dini. Setelah sembuh, Dini langsung melaksanakan nazarnya. Ia berpikir untuk melakukan hal-hal yang tidak sulit. Dan terpikirlah olehnya untuk bersedekah. Meskipun dulunya ia tergolong 'anak maen', namun bersedekah merupakan hal baik yang sering dilakukannya. Sudah menjadi kebiasaannya, bila mendapatkan rezeki pasti akan ia bagi-bagikan ke orang, meskipun kadang jumlahnya tak banyak. Dini yang kini tampil berhijab mengaku, sering bersedekah karena ia bisa melihat kebahagiaan langsung dari orang-orang yang menerima pemberiannya, meskipun jumlahnya tak seberapa. Dan rasa bahagia juga ia rasakan saat pemberiannya dibalas dengan doa.


Dari situ, ibu dari Azucena Lakeisha Davdee ini, mulai bepikir alangkah baiknya jika sedekah ini bisa dilakukan bersama-sama, dengan banyak orang, sehingga akan ada banyak orang yang merasakan apa yang ia rasakan. Dari situlah, munculnya ide Sedekah Bareng ini. Menurut Dini, selama ada niat tulus, tak ada kata sulit untuk memulai sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dini memanfaatkan jejaring sosial seperti BBM, Facebook, Twitter, Instagram, Path, Line, dan Whatsapp untuk mengajak orang bersedekah. Dini memilih menggunakan jejaring sosial karena lebih efisien, praktis, dan tak memerlukan dana untuk menginformasikan sesuatu kepada banyak orang. Dini yakin ada lebih dari 90 persen orang yang sekarang ini menggunakan ponsel. Begitu juga yang menggunakan media sosial untuk berkomunikasi, baik itu lewat Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, dan yang lainnya.

Kegiatan pertama Sedekah Bareng digelar 2 Februari 2013 berupa "Ngebakso Bareng Dengan Anak Yatim". Waktu itu, cerita Dini, ia tiba-tiba kepikiran anak-anak yatim di panti asuhan. Kalau mereka sakit lalu ingin makan sesuatu, kepada siapa mereka meminta?. Entah kenapa, Dini langsung kepingin mengajak mereka makan, sekalian mengajak teman-teman untuk belajar bersedekah. Dan sepertinya, mengajak anak-anak yatim untuk makan bakso cukup seru. Lewat media sosial, Dini pun mengajak teman-temannya menyisihkan uang saku agar bisa makan bakso bersama anak-anak yatim. Saat itu, secara spontan ia membuat status di BBM, "Ngebakso Bareng Anak Yatim, Yang Minat Ping Me'. Ia juga membicarakan pada suaminya, David Aprianto, ada atau tidak yang mau ikut, ia dan suami tetap akan menyiapkan dana untuk membuat acara ini.

Dan ternyata, respons teman-temannya cukup baik. Banyak yang mau ikut makan bakso bersama anak-anak yatim. Total dana yang terkumpul waktu itu Rp 3.750.000. Dengan dana itu, ia kemudian mengajak anak-anak yatim untuk makan bakso di kawasan Ringroad Medan. Selain itu juga memberikan bingkisan berupa barang-barang yang mereka butuhkan. Dini juga tergerak mendirikan Sedekah Bareng karena ia merasa bahwa setiap orang yang memberikan santunan ke anak yatim biasanya dalam bentuk nasi kotak atau amplop, padahal mereka juga butuh hal-hal lain seperti merasakan makanan tertentu atau hiburan.

Keberhasilan kegiatan "Ngebakso Bareng Dengan Anak Yatim" inilah yang akhirnya memotivasi Dini untuk lebih bersemangat membuat kegiatan-kegiatan sosial lain. Sebagai orang yang pernah terjun di bidang entertainment, Dini juga cukup piawai mengadakan kegiatan amal yang bisa menarik minat banyak orang. Bersama tim, Ia menawarkan konsep bersedekah yang enjoy, tidak monoton, dan tidak memberatkan. Karena namanya sedekah, tentu tidak ada patokannya. Sedekah tidak melulu harus harta atau uang, tapi juga bisa sedekah waktu, tenaga, dan hal-hal lain yang bermanfaat.


Agar lebih menarik, mereka membuat cara bersedekah dengan konsep kreatif yang melibatkan para Sedekaholic (sebutan untuk para donatur), langsung pada setiap kegiatan. Istilahnya mereka semua adalah tim, sehingga bisa melihat dan merasakan langsung kegembiraan dan kebahagiaan orang-orang yang mereka bantu. Intinya tetap bersedekah, hanya saja agar lebih menarik, kegiatan tersebut diseusaikan dengan momen dan dirangkai dengan aneka games, kuis, dan tentu saja akan ada paket bingkisan yang akan dibawa pulang. Dengan melibatkan Sedekaholic secara langsung, Dini juga tak perlu lagi bersusah payah membentuk tim. Tak perlu harus perintah ini-itu. Masing-masing mereka sudah tahu tugas dan kewajibannya. Meskipun si A sudah menyumbang uang sekian, namun jika ada satu posisi yang kekurangan tenaga, maka akan ada orang lain yang siap membantu dalam tim.

Kreativitas Sedekah Bareng bukan hanya karena melibatkan para Sedekaholic, namun juga disesuaikan dengan momen. Saat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, misalnya, tim Sedekah Bareng membuat kegiatan "Sedekah Bareng Veteran". Di bulan Ramadhan, tim Sedekah Bareng menggelar acara "Buka Bareng Yatim, Dhuafa, dan Disabilitas". Selain itu, kegiatan Sedekah Bareng juga disesuaikan dengan impian dan keinginan banyak orang. Mungkin bagi sebagian orang, makan pizza, makan durian, ataupun makan di restoran mahal itu sesuatu yang biasa. Tapi bagi mereka yang tak mampu, bisa jadi itu cuma impian saja. Oleh karena itu tim Sedekah Bareng berusaha mewujudkan impian mereka. Dengan harapan, akan muncul impian baru di hati mereka, dan impian itu juga bisa terwujud kembali. 

Diungkapkan Dini, kegiatan Sedekah Bareng tak hanya terfokus pada pemberian santunan berupa materi namun juga memberikan pemahaman tentang kesadaran beragama dan berakhlak. Oleh karena itu, Sedekah Bareng juga menggelar kegiatan "Ngaji Bareng". Kegiatan ini ditujukan untuk para remaja yang masih butuh bimbingan, anak-anak jalanan, dan mereka-mereka yang banyak menghabiskan waktunya di tempat-tempat hiburan. Untuk kegiatan ini dikumpulkan minimal seratus orang di satu kafe yang paling banyak dikunjungi. Semuanya gratis, syaratnya peserta harus membawa Al-Quran. Tujuannya, agar yang mengikuti kegiatan tahu bahwa apa yang nantinya dibicarakan atau ditanyakan dalam pengajian tersebut panduannya adalah Al-Quran.

Karena memang tidak ada ikatan khusus, para Sedekaholic yang bergabung di Sedekah Bareng sering berubah-ubah. Saat ini, ada beberapa program rutin yang diselenggarakan, antara lain "Sedekah Bareng Kondangan", yang kegiatannya adalah mengunjungi rumah para pejabat. Tim Sedekah Bareng mengajak anak yatim, kaum dhuafa, para penyandang cacat, dan disabilitas, untuk berkunjung ke rumah gubernur, kapolda, walikota, dan pejabat tinggi lainnya. Boleh dibilang, semua kegiatan Sedekah Bareng selalu berjalan sukses, bahkan sudah banyak lembaga sosial yang ingin bergabung. Namun, Dini belum berani mengambil keputusan. Menurutnya, lebih baik Sedekah Bareng tetap kecil namun bisa istiqomah. Begitupun tidak semua kegiatannya selalu dinilai baik oleh orang. Kadang-kadang ada satu dua orang yang suka jahil memberikan komentar-komentar pedas. Namun oleh Dini itu tak dianggap sebagai halangan. Sebaliknya itu justru dijadikan masukan berharga bagi dirinya. Dengan belajar mengikhlaskan diri pada semua yang diberikan Tuhan, Dini yakin kita akan bisa menyelesaikan masalah. Ia bisa mengatakan seperti ini karena sudah merasakan keajaiban dari sedekah. Maka, jika ada yang berkomentar macam-macam, nantinya tentu ada jawabannya langsung yang datang dari Tuhan.



YAYASAN RUMAH CEREBRAL PALSY : Mengasah Bakat Anak Berkebutuhan Khusus.

YAYASAN RUMAH CEREBRAL PALSY : Mengasah Bakat Anak Berkebutuhan Khusus.


Yayasan yang berada di Cilandak, Jakarta, ini tak hanya menyediakan perawatan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), tetapi juga menjadi titik kumpul para orangtua dengan ABK sehingga lahirlah sebuah komunitas. Komunitas yang terdiri dari orangtua, terapis, dan dokter ini memiliki banyak efek positif. Anggota komunitas dilatih melakukan beberapa gerakan terapi sederhana, mudah, dan tidak membahayakan. Ini berguna bagi orangtua yang tidak ada akses untuk datang secara rutin ke tempat terapi. Dengan menerapkan sendiri di rumah, minimal berguna untuk maintenance. Sehingga kondisi anak tidak bertambah buruk.

Memang, kondisi orangtua ABK terutama Cerebral Palsy (CP) memiliki beberapa kendala. Selain jarak dan kemampuan ekonomi, jumlah fisioterapis ABK juga masih sedikit, paling hanya 10 persen dari total terapis yang ada saat ini. Untuk itu, dalam setiap kesempatan pertemuan, yayasan ini rajin mengkampanyekan pentingnya pencegahan. Karena CP memang dapat dicegah atau paling tidak efeknya dapat diminimalisir jika ditangani dengan cepat dan tepat.


Salah satu anggota Yayasan Rumah Cerebral Palsy, Nur Rahmah Desiana, mengaku mendapat banyak keuntungan sejak bergabung dalam komunitas yang berbentuk yayasan ini, sejak Mei 2012. Ia dan beberapa anggota lain kerap bertemu lewat media sosial. Perempuan kelahiran Jakarta, 29 Desember 1981 ini mengatakan, sekarang anggota komunitas lebih kurang mencapai 1.500 orang. Lewat komunitas ini, para orangtua anak CP merasa terbantu, karena di sini mereka bisa saling menguatkan. Menjadi orangtua anak CP memang sangat berat, baik secara fisik maupun psikis. Tidak mudah ketika mengajak anak jalan-jalan di tempat umum dan menghadapi tatapan orang-orang.

Terapis yang ada di Yayasan Rumah Cerebral Palsy juga tak pelit dalam menebar informasi penting yang perlu diketahui anggota komunitas. Selain masing-masing anggota bisa sharing pengalaman, di sini mereka memang bisa pula berbagi informasi, misalnya seputar nutrisi. Nutrisi yang diperlukan anak CP itu memang berbeda-beda. Tergantung tipe CP-nya. Misalnya, CP yang hipertone butuh intake nutrisi yang lebih. Karena dia menegangkan ototnya sepanjang hari, seperti orang normal yang berolahraga setiap hari.


Ke depan, para anggota tentu berharap komunitas ini dapat membantu orangtua yang kekurangan biaya. Karena, problem dasar yang dihadapi orangtua dengan ABK CP adalah ketersediaan alat bantu seperti sepatu dan kursi roda. Tentu sepatu dan kursi roda yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi. Karena setiap kondisi anak CP berbeda-beda, jadi tidak bisa menggunakan alat bantu bekas. Sebenarnya, ada banyak hal yang ini dilakukan para orangtua yang bergabung di komunitas ini. Tapi sayangnya, orangtua dengan anak CP juga mempunyai urusan yang banyak. Mulai urusan rumah, anak, terapi, sekolah, dan lain-lain. Belum lagi beban pikiran dan biaya. Jada sementara ini mereka hanya bisa berkumpul dan berbagi cerita dengan sesama anggota saja. Itu pun sudah sangat menyenangkan.

Dengan seringnya berbagi, para orangtua anak CP diharapkan mampu mengoptimalkan kondisi sang anak. Termasuk mengasah bakat yang mereka miliki. Karena anak CP pun juga ada yang memiliki bakat atau kemampuan seperti menghafal Al-Quran, menyanyi, atau melukis. Pemerintah pun juga diharapkan memperhatikan kondisi ABK. Misalnya dengan menyediakan fasilitas umum untuk mereka, sekolah, bahkan kalau bisa ada terapi gratis. Apalagi, ada anak dengan CP yang membutuhkan suntik botox. Sayangnya, di Indonesia suntik botox hanya untuk kecantikan. Padahal itu berguna juga untuk melemaskan otot. Sekali suntik harganya hampir 10 juta, dan tidak bisa memakai asuransi ata BPJS. 

BIOSKOP BISIK : Menonton Film Bersama Kaum Tunanetra.

BIOSKOP BISIK : Menonton Film Bersama Kaum Tunanetra.


Bioskop Bisik, yang mulai diperkenalkan 17 Januari 2015 lalu adalah tempat hangout yang ditujukan bagi para difabel tunanetra. Menurut Cici Suciati, penggagas Bioskop Bisik, kegiatan ini awalnya digelar untuk mengajak para tunanetra menonton film di Bioskop. Nantinya mereka masing-masing akan didampingi oleh relawan untuk menjadi pembisiknya. Ide membuat Bioskop Bisik muncul setelah salah seorang pimpinan tempat Cici bekerja mendorong karyawannya agar mau membantu pada mereka yang membutuhkan. Lalu tercetuslah ide untuk membuat sebuah proyek yang diberi nama ThinkWeb, Yotube For The Blind. Di situ Cici menjabat sebagai Head of Social Media Marketing and Digital Activity.

Dari situ, idenya semakin berkembang sampai kemudian lahir Bioskop Bisik. Tujuannya adalah untuk membuat sebuah kegiatan yang benar-benar mengena bagi tunanetra. Sebelumnya, Cici sudah banyak bertanya kepada para penyandang tunanetra, perihal masalah mereka saat ingin menonton di bioskop. Ternyata, masalah utamanya bukan karena mereka tidak punya uang untuk membeli tiket bioskop, tetapi lebih karena tidak ada orang yang mendeskripsikan film yang ditontonnya. Akibatnya, bila penonton lain bisa tertawa begitu melihat adegan tertentu, mereka tidak sama sekali, karena tidak tahu adegannya. Padahal mereka juga ingin menonton dan mendapatkan pengalaman yang sama dengan penonton yang lain. Bukan hanya dari suara tetapi juga adegannya.


Dijelaskan Cici, apa yang ia lakukan sebetulnya bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Sebuah komunitas bernama Fency (Fellowship of Netra Community) pun pernah membuat kegiatan serupa. Bukan hanya menonton film, tetapi juga mengajak tunanetra jalan-jalan, seperti ke museum, arung jeram, sampai naik gunung. Menurut perempuan kelahiran tahun 1977 ini, para penyandang tunanetra sebetulnya ada yang sering menonton film di bioskop. Tapi kadang mereka terkendala tidak ada orang yang membisiki. Bahkan teman yang seharusnya bisa membisiki pun, kadang terlalu fokus dengan filmnya, hingga lupa. Bioskop Bisik, pertama kali digelar di Galeri Indonesia Kaya, Mal Grand Indonesia, Jakarta. Acaranya berjalan dengan sukses dan lancar. Selain menyediakan tempat, pihak Galeri Indonesia Kaya pun turut memberikan transport dan juga menyiapkan makanan untuk para tunanetra yang datang.

Yang membuat Cici terenyuh, ternyata banyak peserta yang sebelmnya tidak pernah masuk mal, apalagi nonton bioskop. Cici baru menyadari, ternyata nilai kegiatan ini bukan hanya sekedar nonton film bagi mereka, tapi bisa memberikan pengalaman yang lebih. Cici pun tak lupa menyediakan popcorn dan minuman soda, sehingga mereka bisa merasakan pengalaman yang sama dengan orang lain saat menonton di bioskop. Dan ia berharap kegiatan ini juga bisa menambah kepercayaan diri mereka dan tidak merasa dikucilkan. Cici, yang juga bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra untuk kegiatan ini, bersyukur, dalam perjalanannya, Bioskop Bisik tak pernah kekurangan relawan yang bersedia membantu menjadi pembisik. Bahkan selalu kelebihan. Relawan pembisik inilah yang bertugas mendeskripsikan isi film. Misalnya dalam sebuah adegan film, ada adegan aktris masuk ke dapur mengambil gelas, maka relawan akan mendeskripsikan apa yang dilakukan aktris itu. Tidak perlu dijelaskan raut wajah si aktris, warna pakaian, gaya rambut, dan sebagainya.


Sejauh ini, kegiatan yang rutin digelar sebulan sekali ini tak pernah mengalami kendala dan banyak mendapat dukungan. Kebetulan Cici sendiri, yang dulunya pernah bekerja di sebuah stasiun televisi, sehingga sudah terbiasa mengurus izin pemutaran film. Kegiatan ini secara tak langsung juga membuka wawasan masyarakat, terutama para penggiat film Tanah Air, untuk ramah kepada difabel. Contohnya, ketika Bioskop Bisik di undang ke Istana Negara untuk merayakan Hari Film Nasional pada 20 Maret 2015 lalu. Ketika itu film yang diputar berjudul Cahaya Dari Timur : Beta Maluku. Sang sutradara, Angga Dwimas Sasongko, mengatakan ke depan akan membuat film yang lebih memperhatikan kualitas audionya, karena itulah yang bisa dinikmati tunatera.

Cici berharap, para penggiat film juga mempertimbangkan membuat DVD yang dilengkapi audio deskriptif. Sejauh ini, menurut Cici, baru film Tabularasa yang sudah melengkapi DVD-nya dengan audio deskriptif. Sementara kalau di luar negeri, hal ini sudah sangat biasa. Cici bersyukur, Bioskop Bisik bisa mendapat banyak apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak. Lulusan Institut Teknologi Bandung, yang juga aktif dalam beragam kegiatan pendidikan, seperti Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau ini, juga berharap konsep Bioskop Bisik dapat diaplikasikan di daerah lain meski tak harus menggunakan nama Bioskop Bisik.




ROOM OF HOPE - RSCM JAKARTA : Gerakan Gelang Harapan Untuk Penderita Kanker

ROOM OF HOPE - RSCM JAKARTA : Gerakan Gelang Harapan Untuk Penderita Kanker


Di salah satu sudut ruangan lobi Departemen Radioterapi RSCM, Jakarta yang tidak terlalu luas, nampak seorang perempuan setengah baya yang tengah memusatkan perhatiannya pada potongan kain warna-warni sepanjang 20 cm di tangannya. Ia mengepang dan memilin kain itu mirip mengepang rambut. Tak sedikit pun di wajahnya terlihat raut kesulitan melakukan aktivitas itu. Apalagi, sebelumnya ia juga sudah mendapat pelatihan singkat tentang cara memilin dan mengepang potongan kain. Ia juga tidak sendirian. Di tempat yang sama, masih ada 6 perempuan lain yang duduk di sebuah kursi panjang yang masing-masing juga sibuk memilin dan mengepang potongan kain berwarna-warni untuk dijadikan gelang.

Bagi mereka, kegiatan memilin gelang memang menjadi cara jitu mengisi waktu selama menunggu giliran kemoterapi di rumah sakit tersebut. Mereka selalu datang sekali seminggu untuk pengobatan, dan setiap kali datang harus menunggu giliran berdasarkan nomor antre karena banyaknya pasien. Lamanya bisa sampai setengah hari. Maka daripada hanya bengong saja, mereka pun menerima tawaran mengepang kain jumputan untuk dijadikan gelang. Kalau sudah jadi, satu gelang itu dihargai Rp 10.000. Bila sehari bisa membuat 3 gelang, hasilnya cukup lumayan untuk pengganti uang makan selama menunggu.


Kegiatan membuat gelang harapan menjadi pemandangan baru di Room of Hope atau Ruang Harapan bagi penderita kanker, sejak diperkenalkan 15 September 2015 silam. Acara tersebut dihadiri Ketua Penanggulangan Kanker Nasional Prof. DR. dr.Soehartati Gondhowiardjo, Wulan Guritno, Janna Soekasah-Joesoef dan Amanda Soekasah dari tim gerakan Gelang Harapan yang juga disebut Warrior of HOPE, serta desainer Ghea Panggabean sebagai Koordinator Cancer Information On Support Center (CISC).

Berawal dari ide sederhana tiga sahabat, Amanda Soekasah, Wulan Guritno, dan Janna Soekasah, yang ingin membuat budaya solidaritas di antara anak muda demi membantu penderita kanker. Kanker sengaja dipilih karena menjadi penyakit yang paling dekat. Beberapa teman mereka punya saudara maupun tetangga yang mengidap kanker. Selain itu juga karena jumlah penderita kanker terus bertambah. Maka dari situlah ketiganya merasa ada sesuatu yang perlu disebarkan. Suatu ketika, ketiganya bertandang ke ruang kerja Prof. DR. dr. Soehartati Gondhowiardjo yang merupakan Ketua Penanggulangan Kanker Nasional. Saat melewati ruang tunggu, mereka melihat banyak sekali pasien yang menunggu giliran pengobatan. Karena banyaknya pasien kanker yang ingin melakukan pengobatan, sementara ruang radioterapi maupun kemoterapi di RSCM sangat terbatas, para pasien itu pun harus rela antre menunggu selama berjam-jam, hingga lebih dari setengah hari.


Dari situlah timbul ide untuk memberdayakan para pasien dan keluarga tersebut sambil mengisi waktu selama menunggu. Ketiganya lalu menawarkan kegiatan mengepang kain untuk dijadikan gelang. Hasilnya para pasien itu akan mendapat uang yang bisa digunakan untuk transport atau biaya makan. Dan ternyata banyak yang bersedia. Kemudian mereka mendatangi desainer legendaris Indonesia Ghea Panggabean, yang juga ibunda dari Amanda dan Janna Soekasah. Mereka meminta izin agar kain jumputan sisa milik beliau boleh dijadikan gelang. Beliau pun setuju. Kain jumputan bermakna juga kain pelangi, dan pelangi itu adalah simbol dari harapan. Dari situlah tercipta bracelet of hope (gelang harapan) yang mereka jual, dan 100 persen keuntungannya untuk penderita kanker.

Setiap keluarga yang mengikuti program gelang harapan akan mendapat sebuah boks kecil berisi beberapa helai kain jumputan dan peralatan mengepang. Boks beserta isinya boleh dibawa ke rumah bagi yang ingin melanjutkan pekerjaannya di rumah masing-masing. Bagi yang mengerjakan di RSCM, bisa menggunakan ruangan di salah satu sudut ruang tunggu Departemen Radioterapi RSCM. Setelah dikepang, finishing-nya tetap dilakukan pihak supplier. Tiap gelang yang mereka kerjakan dihargai Rp 10.000. Memang mengerjakannya perlu ketekunan. Kalau sudah terbiasa, dalam sehari bisa mengerjakan 4-5 gelang.


Ghea sendiri tidak menyangka sisa kain jumputan yang tadinya tidak berarti justru bisa menjadi gelang unik bercorak warna-warni. Dia pun betul-betul terharu saat bisa melihat sendiri perkembangan dari aksi solidaritas itu. Awalnya dia hanya mengira kegiatan itu hanya sekedar iseng saja, tapi nyatanya bisa berguna untuk membantu penderita kanker. Ghea bersyukur Tuhan bisa menunjukkannya jalan hingga bisa ikut melihat teman-teman dan saudara-saudaranya yang masih memiliki harapan dibalik sakit kanker yang dialami. Ghea memang sudah tertarik membuat kain jumputan sejak menjadi desainer. Sejak masih gadis dia sudah hobi memakai scraft jumputan warna-warni, karena dirinya menyukai gaya bohemian. Dia lalu mempopulerkan kain jumputan pada dekade 1980, bersanding dengan Iwan Tirta dan Prayudi yang sudah lebih dulu mempopulerkan batik.

Wulan, Amanda, dan Janna tentu sangat berterima kasih kepada RSCM yang sudah memberikan tumpangan untuk aski mereka di Room of Hope meski hanya menempati ruang yang kecil. Cita-cita mereka selanjutnya adalah ingin memiliki rumah harapan.

SOKOLA KAKI LANGIT : MEMBANGUN PENDIDIKAN DI KAKI GUNUNG

SOKOLA KAKI LANGIT : MEMBANGUN PENDIDIKAN DI KAKI GUNUNG


Andi Mey Kumalasari Juanda, berinisiatif membuat gerakan sosial peduli pendidikan dengan mendirikan sekolah non formal, Sokola Kaki Langit, pada Februari 2015 silam. Ternyata respons yang ia terima bagus, Sokola Kaki Langit mendapatkan perhatian dan puluhan relawan yang siap membantu. Mey, yang merupakan Sarjana Pendidikan Universitas Negeri Makassar mengaku ingin berkontribusi memajukan dunia pendidikan di Tanah Air. Sokola Kaki Langit yang ia dirikan ini telah membuat warga Umpengeng, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan senang.

Menurut dara kelahiran 16 Maret 1990 ini, ia terinspirasi membuat gerakan Sokola Kaki Langit setelah melihat kesuksesan beberapa sekolah nonformal lain seperti Sokola Rimba dan Sokola Pesisir. Maka ia pun juga ingin anak-anak yang berada di kaki gunung bisa mendapatkan ilmu yang sama seperti anak-anak di wilayah lainnya. Namun masalahnya, anak-anak di kaki gunung memang kurang mendapat perhatian karena akses jalan yang sulit dijangkau. Maka tak heran apabila beberapa guru sering absen mengajar, padahal murid-muridnya ada yang sudah berjalan 5 km melewati hutan supaya bisa datang dan bersekolah.

Dengan bermodal semangat, Mey pun mencoba melontarkan ide tentang Sokola Kali Langit di akhir tahun 2014 lalu melalui akun sosial media dan mengajak teman-temannya. Sejak awal membangun program tersebut, ia memang akan lebih intens dulu di satu desa selama satu tahun. Dan Desa Umpengeng inilah yang menjadi pilot project-nya. Setelah itu ia baru akan bergerak ke desa lain di wilayah Sulawesi Selatan. Gayung pun bersambut. Angkatan pertama relawan Sokola Kaki Langit yang mendaftar berjumlah 17 orang dan siap membantunya mensukseskan gerakan peduli pendidikan ini. Sebelumnya Mey melakukan pertemuan dengan mereka untuk memberikan briefing dan menjelaskan soal wilayah dan akses desa yang akan dituju. Menurut Mey, sebetulnya yang mendaftar cukup banyak, namun akhirnya banyak pula yang mengundurkan diri karena memang kendala waktu dan tempat yang penuh tantangan. Untuk kegiatan ini, Mey meminta waktu selama 4 hari agar bisa berjalan lebih intensif. Perjalanan pulang pergi dari Makassar menuju Desa Umpengeng saja sudah cukup melelahkah, jadi paling tidak perlu dialokasikan 2 hari untuk menempuhnya, dan dua hari sisanya untuk kegiatan mengajar.


Mey menambahkan, bahwa gerakan sosial peduli pendidikan lewat Sokola Kali Langit ini selain membutuhkan tenaga, juga membutuhkan kerelaan dana dari para relawan. Di awal briefing selalu ia komunikasikan bahwa tidak ada dana dan kalaupun ingin ikut ke sana tidak akan merepotkan para warga. Misalnya, beras yang dianggap barang mewah di desa tujuan, jadi sebisa mungkin harus membawa sendiri. Atau masing-masing juga harus bertanggung jawab kepada logistik makanan sendiri-sendiri. Tapi walaupun penuh perjuangan dan pengorbanan, Sokola Kaki Langit kini sudah menghasilkan beberapa angkatan. Kegiatan Sokola Kaki Langit idealnya memang dilakukan sebulan sekali. Dan Mey bersyukur, masih banyak relawan yang mau membantu dan bersama-sama membagikan ilmunya demi adik-adk di kaki gunung.

Dengan tagline Education, Nature and Fun, materi pendidikan yang diberikan di Sokola Kaki Langit pun sesuai dengan misi yang diemban. Kagiatan dilakukan di area terbuka seperti di lapangan atau di pinggir rumah penduduk, jadi warga juga bisa terlibat dan berinteraksi. Kegiatan dilakukan usai sekolah. Untungnya, banyak relawan dari berbagai profesi, mulai dokter, wartawan, fotografer, dosen, sampai mahasiswa, siap memberikan materi yang membuat anak-anak bersemangat untuk belajar. Namun, meski jadwalnya lebih fleksibel, biasanya para relawan terkendala oleh waktu yang dibutuhkan, yakni 4 hari. Banyak yang ingin ikut kegiatan ini, hanya saja waktunya tidak bisa terlalu lama. Kondisi inilah yang menyebabkan jumlah relawan di setiap angkatan kerap naik turun. Misalnya, pada angkatan kedua jumlah relawan sempat meningkat hingga 20 orang, tapi di angkatan berikutnya jumlah relawan yang bisa datang hanya 9 orang. Sementara di angkatan keempat dan kelima kembali banyak yang mendaftar sampai 16 orang.


Sokola Kaki Langit sangat terbuka dan tidak membatasi relawan yang ingin bergabung, dari profesi atau wilayah manapun. Bahkan pernah ada relawan yang datang dari Malang. Informasi bisa didapatkan di akun media sosial Facebook Grup Sokola Kaki Langit, Twitter di @skakilangit, Instagram di Sokolakakilangit, dan sokolakakilangit.blogspot.com. Tak hanya mengajar anak-anak di desa Umpengeng, Mey juga menggalang donasi buku agar bisa mendirikan perpustakaan dan taman bacaan bagi anak-anak desa, agar anak-anak tersebut bisa mendapatkan buku bacaan yang bagus sehingga makin semangat untuk belajar. Hingga saat ini, Mey masih terus gencar melakukan promosi lewat media sosial untuk mengajak generasi muda ikut dalam gerakan peduli pendidikan. Kata Mey, anak muda kreatif adalah anak muda yang mampu bergerak aktif tanpa harus banyak bicara.
  


RUMAH HEBAT INDONESIA : BERBAGI ILMU TANPA SEKAT FORMALITAS

RUMAH HEBAT INDONESIA : BERBAGI ILMU TANPA SEKAT FORMALITAS



Berawal dari ajang diskusi dan aktivitas di berbagai kegiatan sosial, empat sahabat Anis, Eka, Penny, dan Novel menginisiasi gerakan sosial berbasis masyarakat, Rumah Hebat Indonesia (RHI). RHI, yang bertempat di Jalan Rejosari RT 03 RW 15, Ngemplak, Banjarsari, Surakarta, ini melahirkan berbagai kegiatan sosial. Tak melulu fokus pada dunia pendidikan anak, RHI juga memberdayakan masyarakat sekitar. Awalnya, Anis dan Novel yang sama-sama lulusan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surakarta (UNS) mengikuti kegiatan sosial Authisme Care Indonesia di kawasan Rejosari, Surakarta. Keduanya juga ikut turun tangan memberikan terapi kepada anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga kurang mampu. Tak dinyana, di sana mereka bertemu Peny dan Eka, sarjana Pendidikan Luar Biasa, yang juga terlibat dalam kegiatan sosial tersebut.

Setelah ngobrol sana-sini, ternyata keempat perempuan muda hebat ini memiliki visi dan misi yang sama, yakni tekad memberdayakan masyarakat. Dengan merogoh kocek pribadi, keempatnya kemudian sepakat membuat berbagai program yang bisa memberikan solusi bagi lingkungan. Mereka memulainya dengan mendirikan taman bacaan agar anak-anak di wilayah Rejosari bisa memperoleh sumber bacaan yang berkualitas. Mereka pun menyewa rumah dengan harga sewa Rp 5,5 juta per tahun. Rumah inilah yang kemudian menjadi rumah kedua bagi masyarakat Rejosari. Dari taman bacaan, lantas keempat sahabat ini sepakat mendirikan RHI. Mereka juga menyusun struktur organisasi dan rencana program pemberdayaan untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah main-main.

Mereka lantas membuka program bimbingan belajar untuk membantu para pelajar sekitar, usai pulang sekolah. Kegiatan ini dimulai pukul 13.00 hingga malam. Awalnya hanya mereka berempat yang menggawangi program ini. Perlahan, mereka lalu mengajak teman kos, teman main, serta kenalan lain untuk melihat RHI sekaligus mengajak menjadi relawan. Bersyukur, semakin lama banyak yang bersedia terlibat dan bergabung bersama mereka. Tepat bulan Agustus 2013, RHI memproklamirkan diri dan menjadi wadah bagi masyarakat Rejosari. Ternyata respons yang diterima, baik dari masyarakat maupun para relawan cukup besar sehingga mereka kemudian membuat program-program lain berdasarkan kebutuhan masyarakat sekitar. Salah satu contohnya adalah, kelas minat dan bakat yang dibuka untuk anak-anak peserta bimbingan belajar. Materi yang diberikan mulai dari menari, menulis, yang semuanya diberikan secara cuma-cuma.


Kepengurusan RHI juga akhirnya dibentuk. Kini, RHI digerakkan oleh 20 anggota pengurus dan 30 relawan. Relawan terus datang dari berbagai latar belakang profesi. Aktivitas juga bertambah karena ada beberapa program yang dikembangkan. Namun, mereka akui masih ada tantangan yang dihadapi RHI, salah satunya soal dana. Untuk sewa rumah yang menjadi markas RHI, bila dulu mereka masih membayar dengan harga Rp 5,5 juta, tapi sekarang sudah naik menjadi Rp 7 juta. Itupun hasil dari negosiasi, setelah mereka menjelaskan bahwa rumah tersebut dipakai untuk kegiatan sosial. Tantangan itu menjadi cambuk bagi mereka. Memang sampai saat ini donasi masih berasal dari teman-teman dan relasi, belum memiliki donatur tetap. Mereka semua ikhlas menyumbangkan tenaga, pikiran, dan dana pribadi, dan berharap semoga rezeki terus diperlancar, agar bisa terus berkegiatan.

Mengenai sosialisasi program dan kegiatan, RHI aktif menggunakan media sosial, baik Facebook dengan nama akun Rumah Hebat Indonesia, Twitter di @rumahhebatindonesia, dan akun Instagram di Rumah Hebat Indo. Jadi bagi masyarakat umum yang mau bergabung, bisa melihat aktivitas RHI di lini masa mereka dahulu. Dalam website www.rumahhebatindonesia.com, juga ada beberapa paket merchandise yang ditawarkan, mulai dari mug, gantungan kunci, tote bag, kaus sampai jaket berlabel RHI. Berjualan merchandise memang menjadi salah satu cara mereka untuk mengumpulkan donasi.

Ide-ide kreatif juga bisa bermunculan dari peserta bimbingan belajar. Salah satunya program Ramadhan Inspiratif yang menggelar berbagai program seperti buka bersama dan lomba. Selain itu mereka juga ingin berbagi kepada kaum dhuafa saat sahur, melalui acara Sahur On The Road. Hingga saat ini, RHI sudah menaungi 100 peserta bimbingan belajar, bukan hanya dari lingkungan Rejosari saja, tetapi juga lingkungan lain. Mereka memang tidak pernah membatasi jangkauan area kegiatan. Karena sejak awal tugas mereka adalah sebagai fasilitator. Rencana ke depan, tak hanya anak-anak saja yang menjadi perhatian mereka, tapi juga para remaja, ibu-ibu, hingga lansia. Misalnya dengan mengajak para ibu untuk mengelola bank sampah. Dan mereka pun berharap, gerakan yang mereka inisiasi ini bisa menular kepada yang lain.  



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia